My Corner (Happy Think, Happy Life)

Kompor ajaib

Dapur. Siapa yang tak tahu dan kenal dengan dapur. semua orang pasti tahu kan? tidak hanya manusia, tumbuhan pun memiliki dapur untuk tempat ia memasak dan mengedarkan zat-zat yang dibutuhkan pada tumbuhan tersebut.

Dapur juga sangat akrab sekali dengan para mommy. Pastinya. Karena sebagai seorang istri dan ibu, baik ia wanita karier ataupun full time mother tak pernah lepas dari yang namanya dapur. kalo yang gak bisa masak bagaimana, kan dimasakin sama pembantunya?.. ya setidaknya para wanita takkan pernah luput dari yang namanya dapur. Bagaimana dengan para lelaki? ya sama aja. Dapur itu pun gak kalah trennya walaupun hanya sekedar untuk memasak air.

Dapur pun bermacam-macam bentuknya sesuai dengan kemajuan zaman dan selera dari pemiliknya. Peralatan yang biasanya ada di dapur itu ya, peralatan masak seperti panci, kompor, penggorengan, peralatan makan,dll. Ada juga yang menyimpan kulkas di dalam dapur.

Berkenaan dengan dapur pasti kompor yang banyak digunakan pada zaman sekarang ini adalah kompor gas. Apalagi bagi teman-teman yang tinggal di kota-kota, bahkan yang tinggal jauh dari kota (desa) pun sudah tak asing lagi dengan yang namanya kompor gas ini. Kompor gas ini mudah menggunakannya, hanya tinggal jetrrek! kompor gas ini  sudah menyala dan bisa dipakai untuk memasak masakan yang diinginkan. Selain itu kompor gas juga efisien dan sangat efektif sehingga tidak memakan waktu yang cukup lama. Tapi bagaimana dengan kompor yang selain kompor gas, apakah masih ada yang menggunakannya juga?

sumber gambar : www.google.co.id

sumber gambar : http://www.google.co.id

Aku pun begitu. Sedari dulu selalu memasak dari kompor gas. Nah saat aku menikah, aku dan suami hijrah rumah kedua orang tuaku dan tinggal di PMI (Pondok Mertua Indah) untuk menemani ibu mertuaku yang sudah sepuh. Walaupun sebenarnya jarak tempuh dari rumah mertuaku ke tempat kerjaku cukup jauh, saat berangkat menempuh perjalanan 2 jam ke tempat kerja dan pulangnya 2-3 jam (Bila naik kereta bisa tepat waktu, tapi kalo naik elp atau bis bisa lebih dari itu). Hanya enam bulan saja aku bertahan di sana, karena lelahnya badan ini yang berangkat kerja saat orang-orang belum keluar dari rumahnya dan pulang ketika orang sudah mau tidur.

Aku pun yang masih awal mendiami rumah mertua tersebut merasa syok. Apa pasal? karena dapur yang dimiliki oleh mertuaku itu tidak seperti dapur milik kedua orangtuaku dulu ataupun dapur orang lain kebanyakan. Dapurnya itu sangat jadul sekali. tidak ada kompor gas, melainkan Kompor Assuro (hawu).

Kompor Assuro? Ya kompor Assuro itu adalah istilah keren yang diberikan kakak iparku   yang rumahnya deket dari ibu mertuaku, sebelum aku datang ke rumah ini suka memasak dengan kompor assuro ini. Assuro itu dari bahasa Sunda. Diasong-asong ka jero (Dimasuk-masukin ke dalam). lhoh kok dimasukin? Ya karena bahan yang digunakan untuk membakar adalah kayu bakar ataupun bambu yang sudah kering.

Kompor Assuro alias hawu Foto : Dokumentasi Pribadi

Kompor Assuro alias hawu
Foto : Dokumentasi Pribadi

Wuiih ribet amat pakainya, lama pula! Aku yang sejak awal tidak terbiasa sungguh merasa teriksa. Aku sering dibantu kakak iparku untuk menghidupkan api pertamanya, karena aku dianggap belum bisa. Aku  juga pernah beberapa kali  mencoba untuk menghidupkan api pertama tersebut, tapi selalu gagal. Akhirnya aku stress dan sering marah-marah ke suami karena aku kesal apinya gak nyala-nyala. Oleh sebab itu, suamiku selalu membantuku menghidupkan kompor ajaib ini. Sambil aku dibantu, saat itu juga sekalian suamiku memberitahuku cara menghidupkannya. Tetapi aku tetap aja merasa gak bisa, aku selalu bilang ” Ummi kan orang kota, bukan orang desa!”. Suamiku seringkali tersenyum mendengar aku berkata begitu (Mungkin tampangku tambah cantik kalo lagi marah.. GeER!! hehe). Selain itu aku juga kesal kalo memasak di kompor ajaib ini. Karena badan dan pantat para panci dan katel selalu hitam, jadi tambah males aja buat ngebersihinnya.

Karena itu aku jadi males masak di rumah. Aku yang biasa sarapan nasi sebelum beraktifitas, mulai meninggal kebiasaan ini. Aku hanya membeli tori saja. Terbayang kalo aku masak dulu, alamat bakal telat masuk kantor. Aku pikir kalo pagi dibantu masak oleh kakak ipar, kalo pulang kerja aku jadi mikir untuk beli makanan yang udah jadi aja. Males soalnya kalo harus ngidupin kompor ajaib itu. Paling gak mau deh kalo ngidupin kompor ajaib itu.  Kayu atau bambu yang kering ditumpuk-tumpuk, terus kalo udah nyala di tungguin dan apinya di tiup-tiup supaya tetap menyala. Selain itu juga lantainya kotor karena bekas memasak (kena abunya).

Oh iya sebenarnya dengan kompor ajaib, aku juga pernah sih make kompor ajaib lainnya. Aku ingat saat aku SMP kelas 3. Kedua orang tuaku jualan kompor briket batu bara. Walaupun kami punya kompor gas di rumah, kadang kami pakai kompor (sample untuk persentasi) ini yang bahan bakarnya batu bara. Cara memasaknya pun gak lama. Ditumpuk saja batu baranya kemudian disiram dengan minyak tanah, dan langsung jess! nyala deh.. Hanya sayang, pakai kompornya gak lama karena kesulitan untuk mendapatkan briket batu baranya (kayaknya makin terbatas dan menipis stoknya di bumi kita tercinta ini) dan harganya pun mulai mahal. Akhirnya kedua orang tuaku beralih ke usaha yang lain dan kompor ajaib ini jadi kenangan.

Nah karena pake Kompor assuro ini berasa rempong, satu bulan sebelum bulan puasa aku pun mencicil kompor gas dari kantor. Sebuah kompor gas bonus 2 tabung gas dan 1 kompre. Niat hati ingin meringankan beban kakak ipar dan membahagiakan ibu mertua dengan masakanku serta memudahkan aku memasak sahur untuk aku dan suamiku (ibu mertua udah gak kuat shaum lagi, karena udah sepuh), tapi aku malah dilarangnya. Ibu mertua tidak senang aku pakai kompor gas. Dan kompor gak yang  aku yang baru dan cantik itu malah nangkring manis di kamarku. “Takut meledak”, katanya. Jadi ya sutralah aku mengalah saja, toh statusku hanya menantu yang masih menumpang di rumah ibu mertua. Kegiatan masak memasak pun akhirnya di pegang kembali oleh headcheaf di rumah ini, kakak iparku. Dan aku pun mengungsi selama satu bulan (saat bulan ramadhan) di rumah orang tuaku yang rumahnya cukup dekat dengan lokasi tempat kerjaku dengan meninggalkan (sementara) sang suami (yang kerjanya kebanyakan dari rumah) dan ibu mertuaku .

Hanya bertahan empat bulan di rumah ibu mertuaku, kami pun pindah dan mengontrak ke dekat lokasi tempat aku kerja. Tempat tinggalku sekarang sangat dekat dari tempat kerja, hanya sepuluh menit bahkan bisa berjalan kaki. Kami pun membawa tabung gas dan kompre untuk memasak karena kami hanya menyewa sebuah kamar. Selain tidak muat dan demi keamanan kami dan keluarga yang punya kontrakan, kompor gas yang aku cicil itu tersimpan manis di dalam kamarku di rumah ibu mertua. Dan kompor gas yang aku punya itu jadi primadona kakak-kakak iparku. Ia dipinjam ketika kakak-kakak iparku yang lain ada acara besar yang mengharuskan memasak makanan dalam jumlah besar, dan mereka  yang memakai perdana komporku itu bukannya aku duluan(Alhamdulillah deh bermanfaat).

Ternyata, nasib juga berkata lain. Sewa kamar yang sudah kami bayar selama satu tahun hanya kami tinggali selama enam bulan saja. karena aku mengalami sakit yang lumayan parah yang mengakibatkan aku harus tetirah di desa di karenakan hawa kota sudah tidak bersahabat dan membuat aku sesak napas setiap malam. Hal tersebut juga atas sara ahli herbal yang mengobatiku, aku diharuskan tenang pikiran. Jadi yah aku hijrah lagi deh ke rumah ibu mertuaku di desa.

Selama empat bulan sakit aku dimasakin suami dan kakak ipar secara bergantian memakai kompor assuro itu. Karena saat itu, aku gak bisa masak. boro-boro masak, bangun dari tidur aja gak bisa. Dan pada bulan ke lima aku pun mulai bangun, berjalan dan  memasak kembali.

Aku mencoba belajar pake kompor ajaib ini. Sulit memang tapi aku berusaha. Aku gak mau menyerah. Karena mau gimana lagi, uang kami yang kini sudah menipis gak bisa untuk beli gas buat memasak. Ya.. tak ada tabung gas kayu bakar pun jadi.

Memasak dengan kompor ajaib ini pun masih memakan waktu yang cukup lama. Apalagoi saat sahur (bulan Puasa). Aku pun menyiasatinya dengan memasak sahur sesudah tarawih 9jam 21.00) dan masakannya di hangatkan di dalam magic com, supaya gak basi. Beruntung kalo gak kesiangan, bisa masak dulu jam tiga pagi.

Beberapa kakak iparku  kasihan padaku dan membantuku menyalakan apinya. saat lebaran, seorang keponakanku juga prihatin padaku “Aduh.. bibi mah, kan ada kompor. Jangan masak di hawu (kompor assuro). Ini mah kerjaannya nini-nini. Mending pake kompor aja bi.” Aku hanya menjawabnya dengan tersenyum. Bukannya tak mau tetapi belum ada uang buat beli tabung gasnya..(yah karena harga tabung gasnya lumayan mahal untuk ukuran finansial kami saat ini).

Tapi lama kelamaan alhamdulillah bisa juga aku menyalakannya. Sudah 3 bulan ini aku mulai terbiasa memasak dengan kompor ajaib ini. Ada filosofi dari kompor ajaib ini yang suamiku ajarkan. Hidup ini seperti hawu (kompor assuro). Kita mesti bersusah payah untuk berhasil menyalakannya. Mulai dari mencari bahan bakarnya (kayu bakar dan bambu kering), menumpuknya ke dalam tungku ini terus harus ditiup supaya apinya tetap menyala, dan harus tetap dijaga kayunya sambil dimasukkan ke dalam tungku bila sudah memendek. semuanya butuh perjuangan dan proses. Lama dan harus dijaga. Seperti semangat kita yang harus tetap ditiup dan dijaga supaya tidak padam apinya. Dan kita akan merasa puas jika masakan yang kita masak sudah matang. Kepuasan yang jarang di dapat dari memasak dengan kompor gas karena berbeda prosesnya. Selain itu abunya juga berguna untuk mencuci dan menggosok alat-alat masak yang hitam. Semuanya berguna, gak ada yang gak kepake.

Kata-kata itu selalu terngiang di telingaku dan teringat jika aku merasa kesal karena tidak bisa menyalakannya ataupun mataku yang pedih terkena asapnya. Kompor hawu ini sangat  menghemat (karena saat ini belum bisa beli tabung gas), hasil masakannya juga lebih enak dibandingkan dengan memasak di atas kompor gas. Selain itu jika memasak air juga berasa lebih nikmat asal dimasak secara benar (harus ditutup pancinya karena kalo gak airnya bau asap). Dan kami sekarang “berteman akrab”

alat-alat “perang” :

1. Panci, kastrol (buat ngeliwet nasi), dan kaleng buat ambil air untuk dimasak (minum).. LIHAT : Dindingnya item yah, karena efek asap yang menempel bertahun-tahun Sumber foto : Dokumnetasi Pribadi

1. Panci, kastrol (buat ngeliwet nasi), dan kaleng buat ambil air untuk dimasak (minum)..
LIHAT : Dindingnya item yah, karena efek asap yang menempel bertahun-tahun
Sumber foto : Dokumentasi Pribadi

Sepotong bambu untuk meniup api

2. Songsong (Sepotong bambu) untuk meniup api      sumber foto : Dokumentasi Pribadi

3. "jojodog" atau "dingklik" untuk duduk sambil masak supaya gak pegel jongkok

3. jojodog (bahasa sunda) atau dingklik (bahasa jawa) untuk duduk sambil masak supaya gak pegel jongkok             Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi

3. Pake sandal yah, supaya kakinya gak "cantik" di dapur ini

4. Pake sandal yah, supaya kakinya gak “cantik” di dapur ini                                                                                     Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi

5. Kayu Bakar dan bambu kering untuk bahan bakar

5. Kayu Bakar dan bambu kering untuk bahan bakar                                          Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi

Untung saja, mencari kayu dan bambunya masih gampang kami dapati karena tepat di depan rumahku berdiri dengan kokohnya sebuah bukit.

Sungguh, dibalik kesederhanaan itu memberi pelajaran yang sangat berharga…

5. Kayu Bakar dan bambu kering untuk bahan bakar Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi

Ini dia kompor ajaib itu.. Si Komkpor Assuro alias Hawu yang lagi dipakai buat masak air
Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi

Iklan

7 comments on “Kompor ajaib

  1. rusydi hikmawan
    September 6, 2013

    loh itu kompor mertua saya. buat orang tua dulu, apalagi yg tinggal di desa seperti saya, kompor berbahan bakar kayu itu lebih menenangkan ketimbang pakai gas. itu juga alasan orang tua saya masih pakai kompor “jele” di dapurnya.

  2. Tini Djajadi
    September 7, 2013

    Dulu tidak kebayang ya dengan kompor ajaib, bukannya pengen punya 5 ART kalo jadi nyonya rumah, he……….piss ah

    • ayundaslamet
      September 7, 2013

      hoho.. ya iyalah tetep itumah punya 5 ART. Pasti! Sebelum punya ART kan nyiapin mental dulu buat jadi orkay nya.. supaya ga mental tempe dan gak kaget. Siap Kaya ya siap Miskin dulu dong

  3. upik92
    September 7, 2013

    mbak, gampang tau ngidupin kompor gituan, xixixi,, aku anak nggunung, jd dr kecil uda biasa pake keren (istilah jawanya). asalkan kayunya ga basah ato mlempem, kompor ini bakalan awet kok nyalanya.. apalagi pake sabut kelapa yg uda kering n kayu2 gedhe, wuh pasti awet deh. kalo masak air pake gas menurutku bau alumuniumnya,

    ihh, jadi kangen keren deh di kampung.. 😦

  4. Imam Sujaswanto
    September 8, 2013

    Ini postingannya unik.

    Kalau di sini namanya selain ngeliwet, namanya adang Mbk yu

    Dimasak di Luweng.

  5. etalaseilmuE.I
    Mei 23, 2014

    udah biasa kami sekeluarga pake hawu (biasa selingan antara hawu, kompor listrik), yg jelas hawu mah pavorit saya lantaran bisa menghilangkan stress dan bikin adem hati, apalagi kalo akhir pekan udah pasti peke hawu, ngejar rasa masakan yg khas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 6, 2013 by in artikel.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 39,597 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: