My Corner (Happy Think, Happy Life)

Gara-Gara Tikus

sumber ilustrasi :  blog.mqsmart.co.id

sumber ilustrasi :
blog.mqsmart.co.id

Bugh..

Ah.. suara apakah itu? Apakah maling?

Refleks, kuambil palu yang tergeletak di lemari penyimpanan di kamar, sebagai perlindungan pertahanan diriku dari teror yang baru saja terjadi. Mata ini memang sudah mengantuk saat waktu menunjukkan pukul 11 malam. Namun  telingaku masih bisa menangkap suara ganjil yang tiba-tiba saja datang membuyarkan konsentrasiku pada pekerjaan yang belum selesai.

Apakah sebaiknya aku bangunkan saja istriku ini? gumamku dalam hati mencari kekuatan untuk diriku melangkah menuju sumber suara. Kupandangi wajah istriku yang masih tertidur pulas.

Aku  bangkit  menuju arah sumber suara. Tiba-tiba terdengar suara, Braaak.. seperti suara benda keras yang jatuh di teras rumah.

Kupercepat langkahku menuju sumber suara. Kudobrak pintu rumah dengan cepat, Braakkk.. “Siapa itu?”, ucapku sambil menggertaknya.

Kupandangi sekeliling teras rumah, aku tak menemukan sesosokpun disana. Aku tak menemukan maling atau seseorang yang menerorku tiba-tiba dan mengganggu konsentrasiku beberapa menit yang lalu.

Namun kulihat ada pemandangan yang aneh disini, Ah.. kenapa sepeda yang biasa terparkir disini bisa jatuh? Aku heran mengapa hal ini bisa terjadi, padahal lingkungan rumah mertuaku ini termasuk lingkungan yang aman, dan setiap malamnya dijaga oleh petugas ronda. Ditambah pula rumah yang berpagar, mengapa ini bisa terjadi. Aku pun kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling dan mengecek kembali takut-takut masih ada yang bersembunyi di balik tembok atau pepohonan yang ada di sekitar halaman rumah.

Apakah mungkin kucing? Jikalau ya, ini kucing pasti akan ada suara mengeong terlebih dahulu. Tapi ini? tak ada sedikit pun suara yang terdengar melainkan suara teror yang tiba-tiba menghampiri malam.

“Ada apa, nak Syamsul?” suara bapak mertua tiba-tiba muncul di depan pintu saat aku melakukan patroli. Beliau terbangun juga rupanya, bersama ibu mertua yang berdiri di sampingnya.

“Ini pak. Tadi saya mendengar suara aneh. Jadi saya langsung keluar. Apa bapak juga dengar?”

“Iya, nak Syamsul bapak juga dengar. Makanya bapak  keluar memastikan apa yang terjadi. ”

“Saya sudah mengeceknya pak, tapi tidak ada siapa-siapa. Hanya saja sepeda ini terjatuh.”

“O, kayaknya ada  yang mau curi sepeda bapak . Ya, sudahlah nak Syamsul kalo tidak ada, mungkin malingnya sudah kabur karena takut ketahuan.” Suara bapak terdengar bergetar. Entah mengapa terasa aneh saat aku mendengar suara bapak yang bergetar. Selain itu kulihat juga wajah ibu mertua yang pucat.

“Apa memang sering ada yang mau mencuri sepeda ini pak, bukannya disini daerah yang aman?”

“Gak pernah nak Syamsul, baru kali ini saja. Meskipun disini daerah yang aman yang namanya maling pasti aja selalu ada,” jawabnya lagi dengan bergetar. Dan kali ini kulihat juga bapak seperti menahan kencing.

“Nak, Syamsul bapak mau ke belakang, mau kencing. Sudah tak tahan. ”

“Ayo, bu. Kita masuk ke dalam.”  Ajaknya kepada istrinya.

Aku heran melihat kelakuan bapak kali ini. Suaranya bergetar dan tiba-tiba ingin kencing. Selain itu wajah ibu mertua yang pucat pasi. Mungkin saja mereka ketakutan karena mendengar suara yang aneh dan takut dengan apa yang terjadi. Aku bisa merasakannya, namun tidak dengan istriku yang masih terbuai di alam mimpinya.

***

“Ma, tadi malam ada suara yang aneh dari luar.” Ujarku saat bangun pagi sebelum kami memulai beraktifitas.

Aku pun mulai menceritakan apa yang terjadi semalam. Dan istriku dengan seksama mendengarkan.

“Wah maaf ya, pah. Mamah gak ikut bangun karena gak dengar apa-apa. Mamah capek banget karena habis menyelesaikan laporan buat di kantor.”

“Iya, mah. Tidur kamu emang pulas banget.”

Hari itu juga kami kembali melakukan aktifitas sepertia biasa. Aku melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena semalam terganggu oleh suara yang aneh, dan istriku pun berangkat ke kantornya. Begitu pula dengan ibu dan bapak mertua serta kedua adik iparku, mereka beraktifitas seolah semalam tak terjadi apa-apa.

Malam ketiga setelah peristiwa itu terjadi kami kembali di teror. Tiba-tiba ada yang menggangguu kami.

Braak..

Aku dan istriku pun keluar dari kamar memastikan apa yang terjadi di ruang tengah menuju sumber suara.

“Astaghfirullah!” tanya ibu mertuaku.

Aku, istriku, bapak serta ibu mertuaku kaget menyaksikan apa yang terjadi di ruang tengah. Vas bunga yang tersimpan di buffet hancur berantakan. Begitu pun dengan bunga sedap malam, bunga kesukaan ibu mertua yang menjadi pengharum alami ruangan rumah ini sudah tak berbentuk lagi.

Pandangan kami terfokus pada vas bunga yang terserak di lantai. Tiba-tiba ekor mataku menangkap sesuatu, “Tikus! Tikus! Itu ada tikus masuk kamar kita pah! Jerit istriku.

Semua yang terfokus di satu titik mulai beralih. Dan semuanya sibuk menutup pintu ruangan agar tikus itu tak masuk ke ruangan yang lainnya.

Ternyata makhluk malam berbuntut panjang dan berbadan sebesar anak kucing berumur 3 bulan itu bersembunyi di balik lemari yang menghiasi ruang tengah dan sekarang masuk ke kamarku.

“Pasti tikus itu yang sudah ngehancurin vas bunga ibu, pak!” ujar ibu mertua.

Aku pun segera mengambil sapu dan benda-benda lainnya untuk mengusir tikus tersebut. Tak lupa juga bapak mertua yang berjaga, dan membantuku untuk mengusirnya. Sementara itu, ibu mertua dan istriku naik ke atas sofa yang berada di ruang tengah setelah mereka selesai membereskan segala yang berserak. Mereka saling berdekapan karena ketakutan.

Kini tikus itu bersembunyi di kolong ranjangku.

Sekuat tenaga kami berusaha mengusirnya, tetap saja tikus itu tak bergeming. Dia tak mau keluar dari kolong ranjang tersebut. Mungkin takut kalau ia akan dibantai dan mati konyol. Namun kupastikan tikus itu harus keluar sekarang juga dari kamarku.

“Gimana, tikusnya sudah keluar?” tanya ibu mertua setelah kami lelah bertempur dengan makhluk yang menjadi musuhnya Jerry di serial kartun Tom and Jerry.

“Belum, bu. Belum mau keluar.”

“Iya, bapak juga sudah nyoba mengusirnya dengan Syamsul. Dasar bandel tu tikus”

“Pokoknya, tikus itu harus keluar malam ini juga.” Aku pun segera bangkit dan mencoba mengusirnya kembali sembari meninggalkan mereka.

Kembali kucoba, dan aku pun tak berhasil. Aku kembali berkumpul bersama tiga orang yang menyaksikan pertempuranku dengan binatang got tersebut.

“Pak, kok bisa ada tikus sih yang nyasar masuk ke rumah kita? Kan bukannya di dapur di pasang perangkap tikus oleh bapak?” tanya istriku kemudian.

“Ya, gak tau. Mungkin dia mau cari jalan keluar tapi gak ketemu.”

“Tapi aneh, kok vas bunga ibu bisa hancur padahal  buffetnya ibu tinggi.”

“Sarah, Ibu takut terjadi apa-apa. Kata orang tua dulu, kalo ada tikus yang masuk ke rumah dan menghancurkan apa yang ada di dalam rumah. Itu pertanda buruk. Akan ada musibah yang akan terjadi di rumah ini.”

“Ibu, mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa. Jangan terlalu percaya takhayul ah. Istighfar bu.” Bapak mertua berusaha menenangkan istrinya.

“Ibu, tenang saja. Besok juga tikusnya keluar kok. Gak akan ada apa-apa.” Istriku pun menambahi agar ibu bertambah tenang juga,

Dan aku pun hanya menyimak pembicaraan mereka, sementara di hatiku ada rasa khawatir yang mulai menghinggapi hatiku.

***

Sudah enam bulan ini aku menganggur, dan otomastis hanya istrikulah yang bekerja mencari nafkah demi mendapat sesuap nasi dan membantu orang tuanya membiayai pendidikan kedua adiknya. Aku sudah mencari pekerjaan kesana kemari, namun tak kunjung juga mendapatkannya.

“Syamsul aku turut prihatin kamu jadi menganggur.”

“Terima kasih, Budi. Ini sudah jadi nasib saya.”

“Tenang saja, kamu pasti akan dapat pekerjaan yang lebih baik dari sini.”, Budi pun merangkulku.

Satu bulan kemudian setelah aku keluar dari perusahaan dan menganggur, mantan anak buahku berkunjung ke rumah dan menyampaikan hal yang mengejutkan. Ternyata aku di fitnah oleh Budi,  teman sekantorku. Dia tak menyukaiku karena kinerja teamku bagus dan selalu mendapat bonus yang tinggi dari perusahaan dibanding dengannya.

Sebenarnya Budi adalah sahabatku, namun dia juga adalah musuh di balik selimut yang menyebabkan aku harus keluar. Dia menginginkan posisi yang aku peroleh sekarang dan juga team yang aku pimpin. Sehingga sekarang team yang dulu aku pegang di ambil alih olehnya, tapi anak buahku tak menyukainya. Menurut mereka, Budi tak sebaik diriku dahulu saat memimpin. Dan berita keluarmya aku dari perusahaan akibat ulahnya budi telah menjadi rahasia umum di kalangan karyawan di kantor.

Ah, semuanya kini telah menjadi bubur. Biarlah dia berbuat jahat padaku, toh nanti dia yang akan mendapat balasan atas kejahatannya. Sekarang tinggal aku yang menata hidupku dan juga rumah tanggaku. Aku harus mencari pekerjaan lagi untuk menafkahi keluargaku.

Namun di balik itu semua, aku jadi merenungi kata-kata ibu mertuaku enam bulan lalu. Tikus itu, apakah benar ini adalah pertanda buruk akan adanya musibah yang akan menimpa rumah ini ataukah akan menimpa rumah tanggaku? padahal tikus itu telah berhasil kuusir keesokan harinya setelah insiden malam tersebut.

***

“Pah,  aku haus tolong ambilkan aku minum.”

Sudah dua tahun kami berumah tangga, dan sudah  dua bulan ini istriku sakit. Dia sakit  types yang menyebabkannya harus berbaring di rumah.  Istriku pun resign dari kantornya karena tak enak sudah sakit terlalu lama.

“Mah, kita ke dokter ya?” karena sudah lebih dari sebulan terbaring. Rambutnya sudah banyak yang rontok, badannya mengurus, mukanya pun sangat pucat.

Istriku pun menggeleng.

“Mamah, takut di rawat pah. Nanti kalo dirawat akan merepotkan semuanya. Papah juga nanti ikut-ikutan sakit.”

“Gak, mah. Mamah harus dirawat. Mamah sakit sudah dua bulan. Sudah seharusnya mamah ditangani oleh dokter.”

“Terus kalo dirawat, uangnya darimana?” tanya istriku tiba-tiba.

“Soal uang gampang bisa diusahakan. Yang penting mamah dirawat dahulu. Kan ada uang gaji mamah yang terakhir dan beberapa uang tabungan kita.”

“Sudahlah, pah. Biar uangnya buat beli makanan saja. Supaya papah  gak ikutan sakit.”

“Dan mamah juga bisa sembuh,” tambahku.

Dia pun tersenyum. “Papah, jangan kasih tau ibu dan bapak ya kalo aku sakit keras. Kasihan mereka bisa repot jadinya. Nanti ibu khawatir, jadi kepikiran dan ikut-ikutan sakit.”

Aku pun mengangguk dan tersenyum.

Sudah setahun ini kami tinggal di rumah kontrakkan sepetak. Kami putuskan untuk tidak lagi tinggal di Pondok Mertua Indah karena ingin mandiri. Kami sudah berumah tangga dan kamilah yang berhak mengatur urusan rumah tangga kami, tanpa  ada campur tangan orang ketiga. Kami ingin belajar tangguh di kehidupan seperti yang dicontohkan oleh orangtua kami dahulu. Selain itu juga, aku tak mau terpengaruh oleh cerita ibu mengenai tikus pengganggu beberapa bulan lalu.
“Mah, kalo gitu biar mereka gak khawatir mamah harus tetep semangat dong. Biar cepet sembuh. Makannya yang banyak, terus harus diobatin.”

“Tapi, gak mau ke dokter apalagi dirawat.”

“Ya, udah kalo gitu gimana kalo berobat alternatif aja. Kita berobat ke tabib A Liong.”

“Iya, Pah. Mamah mau.”

Alhamdulillah, akhirnya istriku mau juga diajak untuk berobat.

“Mah, maafkan papah ya. Sejak menikah papah belum bisa menyenangkan mamah. Dari awal menikah papah pengangguran, karena difitnah teman kantor papah. Sampai sekarang pun papah belum mendapat pekerjaan. Hanya dari media saja papah dapat honor saat tulisan papah dimuat, itu pun tak setiap hari. Terus mamah harus bekerja sampai sakit begini. Maafkan papah.”

“Iya pah, gak apa-apa. Yang penting papah sudah berusaha. Pah, mamah sakit bukan karena memikirkan papah. Mamah sakit karena beban pekerjaan yang sangat banyak. Badan mamah gak kuat menanggungnya, karena pikiran mamah juga ikut terporsir. Sudahlah jangan menyalahkan diri sendiri. Memang sudah waktunya mamah sakit.” Suaranya terdengar lirih di pembaringan.

“Tapi, apa mamah bahagia menikah dengan papah hingga saat ini?”

“Mamah, sangat bahagia. Bahagia mamah masih sama seperti saat pertama kali kita bertemu dan menikah.”

“Walaupun kita belum punya anak hingga saat ini, apa mamah masih bisa bahagia?”

“Iya, mamah bahagia. Papah jangan pernah meragukan itu. Apa papah bahagia hidup bersama mamah?”

“Terima kasih mah, papah senang mendengarnya. papah juga bahagia bisa bersama mamah hingga detik ini.”

Kulihat senyum  melukis di wajahnya dan semangatnya yang  tinggi di tengah rasa pilu dan sakit yang menderanya di pembaringannya.

***

“Mah, Alhamdulillah. Buku papah, sudah naik cetak dan beredar di pasaran.”

Alhamdulillah pah, mamah ikut seneng.”

“Mamah mau ikut tiap papah bedah buku?”

“Ya, boleh aja kalo di bolehin. Kapan-kapan ya, pah. Kalo ikut terus tiap papah bedah buku takut papah gak konsen nanti.”

“Kenapa gak konsen?”

“Iya, nanti pas lagi bedah buku terus lihat mamah yang cantik, nanti malah grogi dan gak fokus.”

“Uuuh, Mamah geer nih!”

Kami pun tertawa bersama-sama.

Akhirnya pada tahun ketiga usahaku membuahkan hasil.  Aku yang dahulu pekerja kantoran, kemudian harus menganggur merubah haluan menjadi penulis lepas di media. Dapur istriku harus mengebul. Akhirnya kuputar otak. Aku pun berusaha belajar untuk menulis buku. Kini semuanya membuahkan hasil. Karyaku diterima di pasaran, dan mendapatkan sambutan positif dari khalayak. Aku senang bukan main, begitu pun istriku. Selain itu, kini istriku sudah kembali sehat seperti sediakala setelah sebelumnya 4 bulan berbaring.

Setelah satu tahun menuliskan buku, dan mengadakan bedah buku di berbagai kota dan tempat. Akhirnya hari ini aku pulang membawa kejutan untuk istriku di rumah.

“Assalamu’alaikum. Mah, papah pulang”

“Wa’alaikum salam. Iya pah.”

“Gimana kemarin bedah buku di Jogja, seru pah?”

Alhamdulillah mah. Para pesertanya sangat antusias.” Aku pun menceritakan suasana yang terjadi selama bedah buku terbaruku, buku yang ke-12 yang telah kutulis.

Istriku pun mendengarkan dengan penuh antusias.

“Oh, iya mah. Papah punya kejutan untuk mamah.”

“Apa pah?”

“Tutup mata dulu doong” pintaku sambil merayu.

Istriku pun mengangguk.

Kukalungkan sebuah rantai manis di lehernya. Dan kutunjukkan dua buah tiket di hadapannya.

“Nah, sekarang buka matanya mah.”

“Wah, bagus banget pah kalungnya.”Sesaat setelah ia membuka mata sambil tersenyum. “Ini?”

“Iya, ini dua tiket untuk ke Bali. Bulan depan papah ada acara bedah buku di Nusa dua

“Alhamdulillah, asyik.. makasih yah pah kejutannya.”

***

Akhirnya selesai juga acara bedah buku yang panjang ini. acara bedah buku dimulai sejak pagi, dan baru selesai setelah malam di hotel yang ada di Nusa Dua.

Keesokan harinya, saat sore menjelang kami segera menuju ke The Bay Bali. Aku mengajaknya ke The  Pirates Bay, salah satu restaurant di The Bay Bali.

sumber gambar :  thebaybali.com

sumber gambar :
thebaybali.com

Pirates The Bay  (Sumber ilustrasi : traveldetik.com)

Pirates The Bay
(Sumber gambar : traveldetik.com)

Restaurant yang unik, karena mengangkat tema tentang bajak laut.

“Pah, tempatnya keren. Mamah selalu suka dengan bajak laut. Sejak dahulu mamah selalu ingin jadi bajak laut.”

Kami pun memilih beberapa menu makanan khas The Pirates Bay. Kedatangan kami disambut dengan hidangan pembuka  Calamari & chips dengan saus tartar. Kami sama-sama menyukai dan sangat menikmati makanan pembuka ini.
Makanan utama yang terhidang kemudian adalah grilled tuna. Plating yang cantik, perpaduan ikan tuna, kentang dan beberapa makanan lainnya terhidang disini membuat kami makin menikmati makan berdua kami ini. So delicious and so romantic..!

Calamary Chips SUmber Gambar :  ThebayBal.comi

Calamary Chips
SUmber Gambar :
ThebayBal.comi

 

Grilled Tuna Sumber Gambar :  thebaybali.com

Grilled Tuna
Sumber Gambar :
thebaybali.com

 Kami  memilih tempat yang sangat nyaman dan privasi. The Pirates Bay menyediakan tenda dan bantal yang empuk. Sehingga kami bisa memanggang makanan yang kami pesan.  Kami juga memesan beberapa menu seafood untuk kami panggang.  Barbeque time pasti akan menambah ke romantisan kami di malam nanti.

Keromantisan makan malam kami ini begitu lengkap disertai alunan lembut angin yang membelai kami dan desiran pantai, berasa masih seperti pacaran. Selain itu, malam ini dipercantik dengan desert yang kami pilih, Pineapple Paradise, sajian es krim vanilla dan coklat yang disajikan diatas nanas yang dibelah dua.  Mmh, yummy, rasanya sungguh unik dan segar.

Keromantisan kami pun berlanjut hingga keesokan harinya. Setelah subuh beranjak, kami pun pergi ke pantai untuk melepas anak-anak penyu.

Anak-anak Penyu yang akan dilepas Sumber Gambar :  thebaybali.com

Anak-anak Penyu yang akan dilepas
Sumber Gambar :
thebaybali.com

“Mah, aku kini sangat bahagia bisa menyenangkanmu untuk pertama kalinya.”

“Aku juga pah.”

“Pah,  terimakasih kamu sudah memberikan segalanya untukku.”

Aku pun tersenyum.

“Pah, tahukah papah. Mamah juga suka dengan penyu?”

“Oh iya?”

“Iya, pah. Mamah suka dengan penyu. Karena penyu itu memberikan pelajaran yang sangat banyak untuk kita. Batoknya yang keras melindungi dirinya yang lembek, karena dia sangat pemalu. Jadi dibalik kelemahannya, memiliki sifat ketangguhan dan kekerasan pendirian serta tangguh, karena dia akan melewati lautan lepas dengan dirinya yang kecil itu. Biarpun dia lambat, dia akan tetap selamat. Karena kelambatan berarti kehati-hatian dan lambang dari kebijaksanaan. Ia pun tegar dengan apa yang terjadi. Dan satu hal, pah. Jika ia sudah mempunyai pasangan, ia akan selalu setia dengan pasangannya tersebut hingga akhir hayatnya.”

Aku terdiam dan terhenyak dengan  kata-katanya barusan.

“Jadi mari kita lukis pagi ini dengan semangat yang baru. Kita masih harus menempuh jalan yang panjang di depan sana, sama seperti penyu ini. Kita pasti akan melewati segala hambatan di depan sana dengan ketegaran dan kesabaran. Bahagia itu sederhana, aku bisa selalu disisimu dan kau pun menjadi pelengkap hidupku hingga akhir hayat kita.. Aku sudah sangat Bahagia ” ***

Sumber Gambar :  thebaybali.com

Sumber Gambar :
thebaybali.com

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

Iklan

12 comments on “Gara-Gara Tikus

  1. NitaNinit Kasapink R-Ror
    April 16, 2014

    manis banget…
    makasiiih bangeeeet dah di cc ke akuuuu…
    asyiiik…!! 😀

  2. Muhammad Lutfi Hakim
    April 16, 2014

    Besar sekali tikusnya… Sampai bisa menghancurkan pot bunga.

  3. jampang
    April 16, 2014

    sukses dengan cerpen dan lombanya, mbak

  4. jarwadi
    April 21, 2014

    tapi cara membedahnya kereen kok, ngga sia sia sampai malam malam 🙂

  5. myra anastasia
    April 29, 2014

    semoga menang, ya 🙂

  6. Nunu El Fasa
    April 30, 2014

    Jadi pengen ke bali mbak

    • ayundaslamet
      Mei 1, 2014

      mudah2an suatu hari ya, mba @nunu elfasa.. saya doakan

  7. adelays
    Mei 6, 2014

    Sukses buat cerpennya ya Mbak sekalian salam kenal dari Adelays,
    Sekalian memberikan informasi kalau berminat ikut lomba ngeblog berhadiah Rp. 12.500.000, saya share disini :
    http://adelays.com/2014/05/02/lomba-nge-blog-berhadiah/

  8. Chrismana"bee"
    Mei 7, 2014

    Sukses ya GAnya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 16, 2014 by in Tulisan untuk Lomba Blog dan Give Away.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 42,724 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: