My Corner (Happy Think, Happy Life)

Sumpah, Aku Benci Perpustakaan!!!

Saat aku kecil dan sudah bisa membaca, aku suka sekali baca buku terutama komik. Dalam sehari aku bisa menghabiskan dua buah komik. Komik yang kusuka saat itu adalah komik Doraemon dan Sailoor Moon. Walau kecintaanku kepada komik begitu menggila, aku belum pernah tahu apa yang namanya perpustakaan. Karena Aku membaca komik dari komik-komik yang kubeli di Gramedia langsung tanpa pernah aku pinjam dari perpustakaan. Selain itu, aku jarang diajak berkunjung ke tempat yang dinamakan perpustakaan.

Kelas satu SD, aku pun mulai mengenal yang namanya perpustakaan. Perpustakaan itu berada di sekolahku. Berarti namanya perpustakaan sekolah doong. Perkenalanku dengan perpustakaan itupun tak sengaja. Aku yang dahulu bersekolah di sebuah  sekolah swasta (Kerjasama antara kota Denpasar dan pemerintahan Jepang), saat pelajaran agama di perintahkan untuk belajar di perpustakaan.

Apa pasal aku harus belajar di perpustakaan? Hal itu tak lain dan tak bukan adalah karena mayoritas murid-murid di sini beragam Hindu. Sehingga kami yang beragam non Hindu (Islam, Budha, Nasrani) diharuskan untuk keluar kelas saat pelajaran agama tersebut berlangsung.

“Kalian belajarnya di perpustakaan ya, sampai jam pelajaran Agama selesai. Nanti ada gurunya disana” Begitu selalu guru agama tersebut menyuruh kami berenam yang beragama non Hindu untuk belajar.
Aku bersama keenam teman-temanku yang beragama non Hindu pun pergi menuju perpustakaan. Untunglah diantara kami berenam tersebut tiga orangnya-termasuk aku- beragam Islam. Setelah sampai kami pun duduk manis di perpustakaan tersebut.

Sambil menunggu guru Agama kami masing-masing masuk dan mengajar di perpustakaan, kami pun melihat-lihat dan membaca buku yang ada di perpustakaan tersebut. Kami tertarik untuk melihat dan membaca buku tersebut karena sampul buku yang terpajang di sana sangat menarik, Perpustakaan sekolahku itu memiliki banyak sekali buku-buku cerita anak dibandingkan buku pelajaran sekolah.
Kami yang tertarik membuka apa isi dari buku tersebut dan ingin sekali membacanya.

Masing-masing dari kami  memegang satu buku. Tetapi alangkah terkejutnya kami  karena ternyata buku yang ada di perpustakaan tersebut berisi tulisan huruf-huruf yang tidak bisa kami baca dan kami mengerti.

“Hurufnya aneh semua? Kok gak bisa di baca.” Ujarku kemudian dengan setengah berteriak.

Saat itu di perpustakaan sedang tidak ada penjaganya. Jadi kami bebas berbuat semau kami asalkan ruangan masih dalam keadaan rapih.

“Iya. Bukunya tulisan jepang semua. Gak bisa dibaca. “seru Maria, temanku kemudian.

Wajar saja jika buku-buku yang ada di perpustakaan itu kebanyakan buku berbahasa Jepang, karena sekolah ini memang sekolahan milik orang jepang.

’Duuh… Ini namanya huruf Hiragana, Katakana dan Kanji tau… Mana bisa baca kita sekarang. Kan baru bisa bacanya nanti kelas empat SD.” Jawab temanku Jessica.

“Kok kamu tahu, Jess?” Tanya kami berlima kompak.

“Ya ialah aku tahu. Kakakku kan udah  kelas lima  sekarang. Dia juga baru belajar bahasa,  nulis dan baca huruf-huruf  Jepang ini kelas empat SD. Terus sepupuku juga ketika kelas enam SD, dia dapat hadiah dari sekolah buat liburan ke Jepang selama satu bulan karena dia juara kelas.”
“Wuuih.. hebat!” seruku.

“Yah. Jadi percuma aja doong kita disuruh ke perpus kalo kita gak pada bisa baca buku-buku bahasa Jepang ini.” Kata Dadang temanku.

“Yee Dadang.. kita kan kesini bukannya mau baca buku tapi kan disuruh nunggu guru agama.” Kata Tara Zenia.

Akhirnya kami yang pernah mengunjungi perpustakaan tersebut tak pernah menunggu di perpustakaan. Percuma aja wong kami gak bisa baca bukunya. kami kapok. Kami hanya bermain di luar kelas saja sambil menunggu guru agama kami masing-masing. Aku tak berumur panjang di sekolah tersebut karena harus pindah ke Ubud dan hingga saat itu pula kami yang non Hindu tak pernah belajar pelajaran agama kami masing-masing.

Setelah berpindah-pindah sekolah hingga berada di sekolah yang ketiga saat aku kelas empat SD. Aku pun belum mau pergi ke perpustakaan. Walaupun kebiasaan aku membaca kini bertambah. Aku tak hanya senang membaca komik, melainkan majalah anak-anak seperti majalah Bobo pun kulahap habis.

Disekolahku yang terakhir (SD Negeri) tak ada perpustakaan, karena semua kelas terisi oleh para murid yang belajar. Karena sekolahku kekurangan ruangan untuk membuat perpustakan sekolah.

Bayangkan saja bagaimana bisa membangun perpustakaan sedangkan  satu sekolah dimiliki oleh tiga SD (SD 4, SD 7, dan SD 14), terdiri dari 8 kelas.sedangkan satu kelasnya terdiri dari 50 hingga 60 orang. Sehingga kami satu kelas harus duduk bertiga dalam satu bangku. Baru saat kelas enam catur wulan terakhirlah di bangun ruangan baru untuk perpustakaan. Yaah.. kasihan deh aku gak merasakan perpustakaan baru.

Setelah SD aku pun melanjutkan ke SMP Negeri. Disini aku mulai mengenal (lebih dekat) dengan yang namanya perpustakaan. Kedekatanku dengan perpustakaan adalah saat kelas satu aku sering kebagian shift sekolah siang. Sehingga bila ada PR yang belum aku kerjakan aku dan beberapa teman-teman suka sekali bekerja kelompok untuk menyelesaikan PR. Selain itu juga dua sahabatku, Vita dan Rani bisa dibilang sebagai kuncennya perpustakaan. Mengapa tidak, karena mereka berdua selalu datang tiga jam lebih awal ke sekolah dan menunggu di perpustakaan.

“Daripada di rumah bete, gak ada kerjaan” begitulah alasan mereka jika kutanya mengapa mereka sering datang lebih awal ke sekolah.

Karena kebiasaan itulah aku dan beberapa teman-teman di kelas sering nongkrong di perpustakaan dua jam sebelum masuk kelas (shift siang). Disana kami bebas makan dan minum berisik asal tidak menganggu.

Aku dan teman-teman lebih suka nongkrong atau mengerjakan PR saja di perpustakaan ini. Kalo untuk urusan membaca buku milik perpustakaan, malas banget. Selain bukunya yang jadul, bukunya pun rata-rata berdebu. Jadi bikin bersin-bersin dan tangan gatal-gatal. Sayangnya ruang perpustakaan yang luas dan nyaman tidak sebanding dengan banyaknya buku dan pelayanan guru penjaga perpustakaannya. Mereka adalah guru Bahasa Indonesia, Matematika, dan PPKN.Orangnya pada serius, tegas dan  galak. Bila telat mengembalikan buku  pelajaran milik sekolah suka di marahin abis-abisan, sehingga membuat kita yang nongkrong jadi kasihan dan gak enak hati karena melihat anak yang dimarahin.Ya itulah yang membuatku malas (nongkrong)kembali ke perpustakaan saat kelas dua SMP, karena kami yang biasa nongkrong tidak satu kelas lagi saat kelas dua SMP.

Terus yang namanya anak sekolah itu pasti gak jauh dengan yang namanya perpustakaan. Saat aku kelas tiga aku termasuk anak yang beruntung, karena aku masuk ke dalam kelas unggulan (kumpulan anak-anak rangking lima besar saat kelas dua SMP). Ada enak dan gaknya diem di kelas ini. Kami selalu dituntut harus sempurna dan menjadi contoh bagi kelas-kelas (yang tidak unggul) lain.

Ada kejadian yang sangat menghentak jiwa raga kami. Saat itu pelajaran Bahasa Indonesia, guru kami yang juga termasuk penjaga perpustakaan yang killer tersebut bertanya,

“Siapa yang selama kelas tiga jika pulang sekolah sering membaca buku di perpustakaan?”

Ternyata tidak ada satu pun yang mengacungkan tangannya. Aku heran paad vita, yang kini sekelas denganku lagi tak pernah mengunjungi perpustakaan setelah pulang sekolah. Dan guru tersebut pun mengomel. Bla..bla..bla..

Akhirnya dari cawu pertama hingga lulus sekolah kami selalu diberikan tugas, baik itu tugas pribadi ataupun kelompok oleh guru tersebut. Buku-buku yang dicari tersebut hanya didapatkan di perpustakaan sekolah, tidak tempat yang lain.

Karena keterpaksaan inilah  kami semua jadi rajin mengunjungi perpustakaan. Tidak hanya pelajaran Bahasa indonesia saja, pelajaran yang lain pun seperti seolah latah untuk menyuruh murid-murid pergi ke perpustkaan. Buku tamu pengunjung pun penuh didominasi oleh kelas kami, kelas 3C. Dan aku masih benci perpustakaan.

Sebenci-bencinya aku ama perpustakaan ternyata nasib berkata lain. Ternyata aku berjodoh dengan yang namanya perpustakaan. Kelas tiga SMA saat penjurusan aku malah masuk kelas tiga Bahasa. Alasan aku waktu itu simpel. Karena di kelas ini tidak ada pelajaran Matematika dan ada pelajaran bahasa Jepang dan bahasa Arabnya, itu saja. Dan saat itu aku suka sekali dengan kedua bahasa tersebut. Keputusan inilah yang membuatku untuk menetukan nasibku selanjutnya.

Kelas ini termasuk kelas langka dan wajib di lestarikan. Kenapa ? karena jarang ada yang mau masuk ke kelas ini. Kelas Bahasa dari dulu hanya ada satu kelas. Saat angkatanku, kelas ini terdiri dari 23  orang anak perempuan dan 5 orang anak laki-laki. Jauh banget jika dibandingkan dengan kelas IPA atau kelas IPS yang ada sampai lima kelas. Enggak tahu kenapa mereka jarang ada yang mau masuk ke kelas ini. Bahkan konon kabarnya kelas ini akan ditutup jika peminatnya kurang dari 10 orang. Dan Yee!! akhirnya kelas Bahasa angkatanku adalah kelas bahasa pemecah rekor  dengan jumlah murid terbanyak karena angkatan sebelumnya hanya menggaet 13 orang siswa saja dalam sejarah sekolah.

Meskipun aku berada di kelas tiga bahasa dengan teman-teman yang unik-unik dan guru-guru yang asyik, hal itu tak membuatku suka dengan perpustakaan. Begitupun dengan teman-teman yang lainnya. Keperluan kami di perpustakaan hanyalah untuk meminjam buku, mencari tugas (arti dari KBBI) dan menonton film saat pelajaran Bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Jepang untuk diresensi. Selebihnya jika tak ada guru kami seringnya di kantin atau nongkrong di tembok ratapan yang  berada samping kelas.

Kelas tiga Bahasa ini sangat mengasyikkan. Karena selain teman dan guru-gurunya asyik, kami belajar pun terasa tidak belajar. Kami belajar sambil nyanyi-nyanyi, nonton film di perpustakaan sekolah atau universitas lain dan kemudian di resensi,  bikin scrabble sendiri dan dimainkan saat jam pelajaran Bahasa inggris, Belajar bikin film pendek (yang gak tau finishingnya gimana, karena disutradarai oleh teman sendiri), menonton dan ikut lomba-lomba ( puisi bahasa Indonesia, pidato bahasa Jepang), tes kemampuan bahasa jepang dan shodo (kaligrafi jepang), dan belajar grammer sambil bermain. Dan kesenangan itu pun ada puncaknya, yaitu saatnya studi tour.

Studi tour kelas ini tidak dirasakan pengalamannya oleh kelas IPA dan IPS. Kami, anak kelas Bahasa pergi studi tour ke Jakarta. Kami pergi mengunjungi sekretariat Horison dan bertemu  dengan para sastrawan dan penyair diantaranya pak Jamal D. Rahman dan pak Taufik Ismail. Kemudian mengunjungi kedutaan besar Jepang, ke tempat HB Jassin, ke perpustakaan nasional dan yang terakhir pergi ke Dufan.

Wuiih.. akhir yang menyenangkan. Kami membawa sejuta oleh-oleh berupa pengalaman yang tak terlupakan setelah studi tour tersebut.

Saatnya membuat laporan

Setelah masa bersenang-senang, dua bulan setelah kami pulang dari studi tour kami pun ditugaskan untuk membuat laporan kunjungan kami selama studi tour dan menganalisis sebuah masalah. Setelah laporan dibuat kemudian akan diuji oleh tiga penguji (guru-guru kami). Metodenya sama seperti membuat skripsi. Waktu satu bulan telah terlewati dari masa studi tour tetapi teman-teman banyak  yang belum membuat.

Untunglah aku tidak masuk ke dalam kelompok yang belum membuat laporan. Seminggu setelah pulang dari studi tour aku pergi bersama adikku ke perpustakaan daerah. Adikkulah yang mengenalkan kepadaku dimana perpustakaan daerah. Disana aku mencari beberapa referensi.

Dua Minggu sebelum sidang

Laporan yang telah selesai aku dan beberapa teman buat ternyata  harus direvisi. Wali kelasku yang menyampaikan itu pada kami. Kami  pun sibuk bolak balik ke perpustakaan daerah dengan diantar oleh teman laki-laki yang ada di kelas. Tujuannya hanya satu, supaya efektif waktu dan hemat ongkos, heheh.. asas pemanfaatan sesama teman. Pernah saking terburu-burunya aku dan temanku, Cipta. Ke perpustakaan daerah kami hampir kena tilang. Karena saat itu di jalan sedang musimnya razia kendaraan bermotor. Untunglah Motor yang aku dan Cipta tumpangi aman, karena dia membawa surat yang lengkap. Begitupun dengan nasib motornya Harry, selamat  dari razia para polisi dengan aman damai sentosa. Beberapa temanku yang belum menyelesaikan laporan studi tour hanya bisa bersedih dan menangis di tembok ratapan. Mereka menyesali perbuatan mereka yang menyia-nyiakan waktu yang telah disediakan. Tetapi bersedih saja tak cukup menyelesaikan, hingga akhirnya guru wali kelas memompa semangat mereka untuk memulai membuat laporan.
Perpustakaan pun telah menolongku menyelesaikan tugasku. Dan aku Benci perpustakaan.

Waktunya Sidang..

Alhamdulillah sidang pun aku jalani dan lewati dengan selamat hingga kami semua berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan.

Saat kuliah

Cita-citaku kini mulai dijajaki. Aku pun memilih sarjanaku untuk masuk ke jurusan Pendidikan Agama Islam. Sebuah cita-cita yang sebelumnya tak pernah ada dalam bayanganku sama sekali. Tetapi ternyata aku malah masuk ke sini. Hal ini karena setelah aku SMA aku melanjutkan ke pesantren dan setelahnya kuliah di jurusan Bahasa Arab selama dua tahun.

Lulus dari Jurusan Bahasa Arab selama dua tahun. Sayang dengan ilmu dan usia yang masih muda, aku pun melanjutkan sarjanaku selama dua tahun. Disini adalah program konversi. Nilai-nilai kuliahku di Bahasa Arab dulu di konversikan dengan nilai-nilai yang ada di jurusanku sekarang. Jadilah aku tinggal mengambil mata pelajaran sisanya saja, yaitu ilmu keguruannya.

Dunia Kuliah sesungguhnya

Dunia  kuliah disini beda sekali dengan tempat aku kuliah jurusan bahasa Arab dulu. Jika dulu kami belajar seperti masa sekolah, masuk jam delapan dan pulang jam dua siang atau masuk jam satu pulang jam enam malam. Di tempatku dahulu sistemnya masih dicekoki guru dan kebanyakan hapalan serta menulis, tapi kini di tempat kuliahku yang sekarang, dosennya banyak yang tidak masuk. Sehingga kami hanya di beri  tugas saja. Kami dituntut untuk belajar sendiri. Mencari data dari sebuah materi yang akan di ajarkan kemudian dipersentasikan, baik sendiri maupun secara berkelompok. Kami dituntut untuk aktif dan mencari bahan sendiri dari buku lain tanpa harus dicekoki oleh para dosen.

Karena tugas-tugas  yang banyak inilah yang membuatku jadi sering ke perpustakaan. Aku bersama teman-teman sering sekali nongkrong di perpustakaan daerah . Perpustakaan daerah yang ada di tempatku saat itu jika dibandingkan saat masa SMA sudah banyak kemajuan.. Tidak ribet saat daftar keanggotaan dan meminjam buku, koleksi bukunya baru dan lengkap, ada ruang menonton teve, ruang baca anak, ruang rental komputer dan internet, ruang kumpulan skripsi-tesis-disertasi, dan ruang kumpulan majalah dan koran-koran yang dikliping. Suasana yang santai pun membuat aku dan temanku makin betah aja disini, karena kami bisa membaca sambil mengetik (khusus temanku yang saat itu sudah punya laptop, maklum laptop masih jarang ada yang punya saat itu). Padahal jarak dari kampus ke perpustakaan daerah ini memakan waktu 45 menit(bila lancar) sampai satu jam.

Mengajak anak-anak ke perpustakaan daerah

Aku yang sering pergi ke perpustakaan daerah pun mencoba menularkan kegiatan ini kepada anak-anak didikku yang ada di masjid di lingkungan rumah. Ceritanya saat itu adalah bulan Ramadhan. Biasanya bulan Ramadhan di masjid rumahku selalu ada acara ceramah subuh. Dan setiap hari Sabtu atau Minggu  kami selalu ada acara games (berupa pos-posan). Bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja, aku pun berinovasi. Saat malam sepuluh  terakhir Ramadhan yang artinya juga bertepatan dengan kegiatan yang akan usai, aku pun berinisiatif untuk mengajak anak-anak didikku ke perpustakaan daerah. Kami pergi dengan menyewa angkot jam delapan pagi.
Kubawa mereka ke ruang baca anak, ke ruang nonton (auditorium). Ternyata mereka sangat antusias. Dan berharap tahun depan akan ada acara seperti ini lagi, kegiatan membaca buku sambil ngabuburit. Kemudian kami pulang saat jam dua siang karena setelahnya akan ada acara penutupan berupa games dengan diadakan di masjid PT PINDAD, yang artinya gamesnya diadakan di luar masjid kami. Duuh bahagianya hatiku melihat semangat mereka.

Lulus Kuliah, Bekerja, dan Menikah

Duuh kayaknya ideal banget ya? Lulus kuliah, bekeja dan menikah. Yups, bagiku iya. Aku telah mendapatkan impianku saat SMA dulu. Kuliah-bekerja dan menikah. Walaupun aku bekerja di tempat Swasta dan tugas utamaku agak-agak gak nyambung dengan background pendidikanku aku pun menyambi menjadi guru privat. Asyiknya bisa menyalurkan bakat keguruanku, mengajar dan mendidik anak-anak. Dan otomatis pekerjaan ini mengharuskan aku banyak-banyak membaca. Selain itu juga melalui pekerjaanku yang amat dekat ke perpustakaan aku jadi sering main ke perpustakaan yang ada di kantorku, aku senang sekali pinjam Novel. Sehari beres satu ampe dua novel, sampai penjaganya heran. Ini baca novel apa makan ya, ko cepet amat ngembaliinya? Gitu mungkin yang ada di pikiran si aa penjaga perpustakaan.

Sumpah, aku Benci perpustakaan.

Kini setelah dua tahun menikah aku harus istirahat total di rumah. Karena aku menderita sakit yang lumayan berat sehingga mengharuskanku untuk beraktifitas di rumah saja.

Tetapi berkat kebencianku kepadaku perpustakaan aku jadi pingin banget punya perpustakaan pribadi di rumah.

Perpustakaan Pribadi suatu hari kelak di rumah saya.. rada -rada mirip seperti ini.. :) Sumber www.google.co.if

(Impian) Perpustakaan pribadi suatu hari kelak di rumah saya.. rada -rada mirip seperti ini.. 🙂
Sumber http://www.google.co.if

Alhamdulillahnya kini aku dan suamiku kini sedang merintis perpustakaan mini alias taman baca bagi anak-anak di kampung tempat kami kini tinggal. Aku ingin anak-anak daerah juga berpotensi melalui proses kecintaannya kepada buku.

Lemari buku dari bambu (buatan suami) yang akan dipakai untuk taman baca yang sebentar lagi akan di launching

Lemari buku dari bambu (buatan suami) yang akan dipakai untuk taman baca yang sebentar lagi akan di launching

Berdasarkan kejadian-kejadian yang aku alami dan kusadari kini  bahwa aku berjodoh dengan perpustakaan. Maka aku tegaskan sekali lagi bahwa :
Sumpah, Aku Benci (benar-benar cinta) Perpustakaan!!!!

 

 

Tulisan ini diikut sertakan pada Give Away Library

giveway-library

 

Iklan

9 comments on “Sumpah, Aku Benci Perpustakaan!!!

  1. luckty
    September 17, 2013

    “Alhamdulillahnya kini aku dan suamiku kini sedang merintis perpustakaan mini alias taman baca bagi anak-anak di kampung tempat kami kini tinggal. Aku ingin anak-anak daerah juga berpotensi melalui proses kecintaannya kepada buku.”

    –> subhanallah….mulia banget ini Kak, suatu saat aku juga pengen punya suami yang sehobi, trus pengen banget punya perpus bersama #eaaa 😀

    Jangan lupa daftar di kolom komentar postingan Library Giveaway yaa… 😉
    cantumkan komentar berupa:
    1. Nama,
    2. Akun twitter,
    3. Blog,
    4. Kota tinggal dan
    5. URL tulisan
    6. Pilih nomer hadiah yang diinginkan.. (✽ˆ⌣ˆ✽)

  2. Dani Kaizen
    September 17, 2013

    @ayundaslamet, wow kisah hidup yg menarik dan mencerahkan…..

    aku juga suka baca komik, dulu aku paling suka komik kungfu boy …..ceritanya keren….

    oh ya, semoga anda menang dan jadi juaranya ya…. *salam kenal 🙂

  3. Ayu Citraningtias
    September 18, 2013

    Perpustakaan itu tempat paling menyenangkan bagiku saat masih SMP dan SMA. apalagi perpus umum. buku apa aja ada, buat yg suka baca seperti aku weekend seharian penuh di perpus pun tak jadi masalah asal ada buku 😀

    • ayundaslamet
      September 18, 2013

      Eh ada mba Ayu BW ke blog aku.. pa kabar mba ayu Citra?

      Perpustakaan memang tempat yang oke ya..

  4. Sukses mbak untuk GAnya.. 😀

  5. Sukses untuk GA-nya mbak,,, hehehe 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 17, 2013 by in Tulisan untuk Lomba Blog dan Give Away.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 39,597 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: