My Corner (Happy Think, Happy Life)

Semangat Cinta Sang Pejuang

PAPAYA

Judul Buku         : Sang Patriot (Sebuah Epos Kepahlawanan)

Penulis                 : Irma Devita

ISBN                      : 978-602-14969-09

Penerbit              : Inti Dinamika Publishers, Jakarta

Penyunting        : Agus Hadiyono

Desain Sampul  : WinduUKMJem

Tahun Terbit     : Pebruari, 2014

Tebal Halaman : 280 halaman ; 20,5 cm

Cinta, memang bisa membuat seseorang mempunyai kekuatan yang lebih untuk bisa bertahan..  cinta juga bisa membuat seseorang lebih bersemangat dan rela berkorban agar yang dicintainya mendapatkan kebahagiaan..

***

Sesosok jasad terbujur kaku di meja yang sengaja diletakkan di pelataran Mushalla. terbaring dalam hening. Tampak agung walau tersungkur bergenang darah mengering dari luka yang menganga di wajah yang bola matanya raib tercerabut dari tempatnya… Tubuh berperawakan sedang namun berisi itu menjadi saksi bisu kekejaman tangan-tangan yang pernah mendera, penuh lubang peluru dan cabikan bayonet.

Tulang kepala berambut ikalnya retak, terdera popor senapan. Satu.. dua.. tiga.. Jari-jari tangan sang jasad tak lagi lengkap, hilang sebagian. Jari-jari itu biasanya lincah memetik ukulele, melantukan nada merdu.

Blurb diatas, yang terdapat dalam buku Sang Patriot, mengantarkan saya pada rasa penasaran yang tinggi. Siapakah Jasad yang terbujur kaku tersebut?

Selain itu, judul yang begitu menarik perhatian “Sang Patriot” dengan label berwarna kuning keemasan “Based On True Story” Berdasarkan Kisah Nyata, menggelitik rasa penasaran saya. Belum lagi pada halaman pertama,  terdapat kalimat Teruntuk : Rukmini, wanita mulia berhati sekeras baja menambah rasa penasaran saya hingga berlanjut menjadi semangat tinggi untuk membuka lembar demi lembar halaman novel yang berada di tangan saya.  Jadi sebenarnya siapakah sang patriot, dan siapakah Rukmini? Lalu apa hubungan penulis dengan  tokoh yang ditulisnya?

Gadis kecil itu tercekat, matanya berbinar penuh harap menanti setiap kata yang keluar dari bibir nenek tersayang. Hatinya larut dan hanyut dalam setiap detil cerita yang yang didongengkan dengan penuh perasaan oleh sang nenek. Matanya yang bulat jernih berkaca-kaca. Di usianya yang baru delapan, kenyang ia mendengar cerita yang sama, namun selalu dimintanya untuk diulang lagi dan lagi. Tak ingin ia melewatkan tiap detil kejadian untuk direka-rekanya kembali dalam benaknya yang masih sederhana. Ada rasa penasaran, tegang, haru, dan bangga dalam tiap sepak terjang yang dilakukan oleh tokoh dalam cerita : yang tak lain adalah kakeknya sendiri. Sampai suatu saat, gadis kecil itu berjanji pada sang nenek, “Mbah, … Irma janji, suatu saat kelak Irma akan menuliskan cerita tentang mbah Kakung…” Bulat sudah tekadnya walau ia tak tahu bagaimana caranya, membuat sebuah karangan pun ia belum mahir benar. Namun janji itu telah terukir rapi dalam hatinya dan terus bergema walau sang nenek sudah lama tiada.

Puluhan tahun kemudian, saya-gadis kecil itu, empat belas tahun setelah Mbah Rukmini berpulang di usia 79 tahun, menepati jani menulis  kisah kakek dalam bentuk novel. novel perdana yang ditulis dengan segenap perasaan ini, merupakan perwujudan masa kecil saya  kepada almarhumah Mbah Rukmini.     

***

Sang Patriot

Adalah seorang anak berumur tujuh tahun berkulit putih bersih dan berbaju sangat sederhana. Anak kedua  pasangan Hasan dan Amni, yang merupakan asli Bangkalan, Madura ini kemudian pindah ke Kediri, terlihat sangat berbeda diantara keenam anaknya yang lain dan dan anak-anak Kampung Kauman lainnya. Ia merupakan anak yang cerdas dan berpengetahuan sangat luas, ia bisa menceritakan berbagai macam sejarah dan ilmu bumi yang dia dapat dari buku-buku yang pernah dibacanya. Walau belum sekolah, dia sudah belajar membaca dari Mochtar, kakaknya yang sempat mengenyam pendidikan di sekolah Ongko Loro. Ongko Loro adalah sekolah untuk rakyat pribumi setingkat sekolah dasar, yang hanya mengajarkan membaca, menulis dan berhitung sederhana.

Setelah mengenyam pendidikan di Sekolah Ongko Loro. Moh. Sroedji, lelaki kelahiran Bangkalan, 1 Februari 1915 ini mempunyai tekad sekolah yang tinggi. Dia bertekad ingin menggapai impiannya menjadi tentara untuk menumpas para penjajah Belanda yang bercokol dan menjajah di bumi pertiwi. Kerasnya tekad Sroedji untuk bersekolah, sangat berbeda dengan kakaknya yang hanya tamat sampai di sekolah Ongko Loro dan adik-adiknya yang perempuan, bahkan sekolah pun tidak.  Sroedji ingin melanjutkan sekolahnya hingga ke HIS, Hollands Indische School. Baginya, hanya HIS-lah yang dapat menjadi sarana untuk menggapai mimpinya.

Sebenarnya, bukan tanpa sebab Sroedji ingin menjadi tentara. Impiannya itu begitu kuat karena ia begitu mengidolakan dan terinspirasi dari Pangeran Diponegoro. Pangeran  Diponegoro adalah tokoh yang selalu diceritakan oleh guru mengajinya, Kiyai Dullah. Kiyai Dullah merupakan murid dari KH. Ahmad Dahlan, sang pendiri perkumpulan Muhammadiyah. Selain mengajar mengaji, Kiyai Dullah juga seringkali menceritakan kisah-kisah para sahabat dan tokoh pejuang lainnya, seperti kegagahan Pangeran Dipenogoro, Kegigihan Imam Bonjol dalam perang Padri, penyerbuan Sultan Agung Tirtayasa ke Batavia, dan  Teuku Umar serta Cut nyak Dien di Aceh, serta kisah heroik lainnya. Hal itu karena, Kiyai Dullah adalah seorang tokoh pejuang. Diam-diam ia menanamkan kepada para santrinya, rasa cinta kepada tanah air. Ia ingin Indonesia merdeka!.

Sroedji yang baru sepuluh tahun bersama sahabatnya, Karjo, dan anak-anak kampung Kauman lainnya seringkali mendengarkan kisah-kisah tersebut di surau. Mereka terhanyut dalam kepiawaian bercerita Kiyai Dullah. Mereka merasakan tegangnya pertempuran, merasa terpukul dan sedih saat pejuang kalah dari Belanda dan dikhianti. Sroedji membayangkan dirinya seperkasa pangeran Dipenogoro.

Selain  terinspirasi oleh Pangeran Dipenogoro, Sroedji ingin menjadi tentara juga karena Karjo. Suatu hari Sroedji, Karjo dan anak-anak kampung Kauman lainnya bermain sepakbola di lapangan. Pertandingan kali itu adalah melawan sinyo-sinyo Belanda. Karjo yang menyemangati Sroedji dan kawan-kawannya dari pinggir lapangan akhirnya bisa membuat mereka menang dari sinyo-sinyo Belanda tersebut. Namun, sinyo-sinyo Belanda yang kalah tidak menerima kekalahan mereka. Dendam atas kekalahan dari para Irlander, mereka lampiaskan kekesalan atas kekalahannya kepada Karjo yang sedang menari-nari di pinggir lapangan. Mereka kejar Karjo dan menggebukinya secara beramai-ramai, hingga nyawa Karjo pun meregang dari raganya. Maka sejak itulah Sroedji bertekad untuk membalas kematian Karjo dengan cara merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan para penjajah, Belanda.

Keinginan Sroedji yang kuat akhirnya bisa mengantarkan ke HIS. Dia diterima di HIS melalui kakaknya. Kakaknya yang menikah dengan seorang ningrat, yang akhirnya menjamin dan membantu Sroedji untuk masuk ke HIS. Karena HIS hanyalah untuk anak-anak Londo dan ningrat.

Saat bapaknya bimbang melepas Sroedji untuk bersekolah ke HIS, karena pada saat yang bersamaan bapaknya sangat menginginkan Sroedji beserta istrinya dan keenam anaknya pergi berangkat haji. Selain itu bapaknya sangat berharap agar Sroedji menjadi pedagang seperti dirinya atau menjadi seorang yang religius. Namun Hasan sadar Sroedji tidaklah memiliki bakat berdagang. Seringkali sarung -barang dagangannya tidak habis atau diberikan kepada pengemis karena Sroedji beranggapan mereka sangat memerlukannya. Akhirnya, atas saran dari iStrinya, Amni. Hasan pun meluluskan keinginan Sroedji untuk melanjutkan ke sekolah HIS dan menitipkannya pada bukliknya, ibu Haji Ali yang tinggal di kota Malang.

Setelah lulus dari HIS, Sroedji pun melamar seorang wanita yang menjadi kekasih hatinya. Rukmini, perempuan yang diintipnya di pasar Malang ketika berbelanja. Dilain sisi, Rukmini yang merasa tidak enak diperhatikan oleh lelaki yang tidak dikenalnya, tiba-tiba merasakan hal yang sama. Ia telah jatuh hati pada pandangan pertama. Kedipan nakal dari lelaki yang telah dipergokinya, membuat rasa berdebar dalam dadanya saat lelaki tersebut menabrak pedagang kubis di pasar karena merasa malu. Namun Rukmini menepis kuat-kuat,

“Tidak pantas bagi wanita baik-baik bermain mata dengan sembarang lelaki di pasar” (hal 25) .

Rukmini adalah wanita yang cerdas. Dia juga adalah alumni dari HIS dengan nilai tertinggi. Cita-citanya sangat tinggi, ia berkeinginan menjadi Meester in de Rechten, ahli hukum wanita yang masih langka saat itu. Ia ingin seperti idolanya, Mr. Maria Ulfa Subadio, yang kembali dari Universitas Leiden, Belanda. Dan menjadi wanita  Indonesia pertama yang bergelar Meester in de Rechten.  Cita-cita yang mungkin hanyalah mimpi di siang bolong, karena hanya sedikit orang yang beruntung bisa merasakan pendidikan.

Kecerdasan Rukmini rupanya menurun dari ayahnya, Mas Tajib Nitisasmito.  Mas Tajib Nitisasmito merupakan guru OSVIA, sekolah calon pramong praja yang kelak akan menjadi ambtenaar, semisal bupati, residen, camat dan kepala desa. Sebuah profesi yang sangat prestisius saat itu, sehingga menjadikan keluarganya sejahtera dan berkecukupan serta terpandang di kota asalnya, Sampang.

Meskipun Rukmini anaknya cerdas, Mas Tajib tak bisa meluluskan keinginan Rukmini. Biar bagaimanapun Rukmini adalah seorang perempuan. Secerdas apapun ia, tak bisa menjadikannya seseorang yang berpendidikan lebih tinggi. Ditambah pula, umur Rukmini yang sudah menginjak delapan belas tahun. Mas Tajib khawatir Rukmini tidak bisa mendapatkan jodoh karena khawatir tidak akan ada pria yang mau menikahinya karena memiliki pendidikan yang tinggi dan juga teman-temannya Rukmini yang sudah menikah sejak berumur lima belas tahun.

Selepas dari HIS, Mas Tajib menyekolahkan Rukmini ke sekolah Keputrian Van de Venter  yang terletak di keputren Mangkunegaran SOLO selama dua tahun, dan kemudian pindah ke keputrian lanjutan di Malang. Dengan alasan kepaktrisan, Mas Tajib memindahkan Rukmini ke Malang, karena disana Kakaknya yang beda ibu, Mochammad Hanafia bersekolah di sekolah Tekhnik. Rukmini memang harus pasrah pada keputusan ayahnya yang tegas dan tak bisa dibantah.

Akhirnya Rukimini menikah juga dengan seorang lelaki yang sanggup memenuhi persyaratan darinya. Ia hanya ingin menikah dengan seorang lelaki yang bisa berbahasa Belanda, sama seperti dirinya. Selain itu ia mensyaratkan bahwa setelah ia menikah ia diijinkan untuk melanjutkan sekolahnya.

Rukmini “terpaksa” menikah dengan lelaki pilihan ayahnya, yang mendapatkan info dari mak comblang kampungnya, Pak Shaleh. Saat menjelang akad nikah, Rukmini malah berharap bahwa lelaki yang akan menjadi suaminya adalah lelaki tampan yang ditemuinya di pasar Malang yang telah meberikan kedipan mata kepadanya. Rukmini khawatir dengan rupa suaminya, karena saat akad Rukmini masih belum melihat rupa suaminya.

Setelah resepsi dan mereka disandingkan, Rukmini dengan pandangan menunduk masih takut untuk melihat suaminya kini. Namun alangkah terkejutnya Rukmini, setelah ia berhasil mengangkat mukanya dan melihat suaminya yang berdiri di sampingnya adalah lelaki yang telah membuatnya jatuh hati.

Selesai acara pernikahan, Sroedji langsung memboyong istrinya ke Jember. Disana Sroedji bekerja sebagai mantri malaria di Rumah Sakit Umum Kreongan. Rukmini sangat bahagia bisa menjadi istri Sroedji, karena ia begitu santun dan romantis. Sroedji pandai merayu, bernyanyi dan bermain ukulele. Selain itu Sroedji sangatlah berbeda dengan ayahnya, yang tegas dan memiliki disiplin tinggi. Dengan Sroedji, Rukmini bisa patuh tanpa harus takut dan juga berdiskusi terlebih dahulu.

Namun ada hal yang membuat Rukmini kaget, meskipun ia dan Sroedji sama-sama mahir berbahasa Belanda.  Suaminya melarangnya untuk menggunakan Bahasa Belanda ataupun bahasa Madura sebagai bahasa komunikasi mereka sehari-hari. Sroedji juga melarang Rukmini untuk mengajarkan bahasa Belanda dan Madura kepada anak-anak mereka.

“Kita Hidup di tanah Jawa, Bu… Anak kita harus diajari bahasa Jawa untuk komunikasi sehari-hari, bukan bahasa penjajah, dan juga bukan bahasa Madura..” (hal 35)

Sroedji memang mahir berbahasa Belanda, karena ia merupakan tamatan HIS dan Ambacthsleergang. Namun, Rukmini tidak tahu suaminya adalah seorang nasionalis tulen. Ia sangat ingin indonesia merdeka. Impian yang telah dipupuk sejak sebelum menikah. Terlebih lagi, karena Sroedji ikut dalam kepanduan Hizbul Wathan yang semula bernama Pavinder Muhammadiyah, gerakan kepanduan di Muhammadiyah di Yogyakarta.

Suatu hari, Sroedji tertarik untuk mengikuti pelatihan kemiliteran PETA, Pembela Tanah Air. Setelah melihat pengumuman dari majalah Djawa Baroe yang dibawa temannya, Supardi. Sroedji memutuskan bergabung karena ia lebih tertarik atas nama yang digunakan yang artinya sama dengan Hizbul Wathan

“Bapak mau ikut Pembela Tanah Air?” Rukmini mengangkat wajah dari majalah Djawa Baroe yang ia pegang. (hal 47).

“Sekarang Bu.. sekarang saatnya aku membaktikan diri, membela tumpah darah” Kata Sroedji berapi-api. (hal 47)

Sroedji pun meminta pandangan dari istrinya,

“Kau punya mimpi jadi tentara agar dapat meembaktikan tengamau kepada rakyat banyak. Mungkin inilah saat yang tepat untuk mewujudkannya. Menurutku, jika ingin merdeka Indonesia pastinya membutuhkan pasukan tentara yang sangat diandalkan, “Kata Rukmini lembut sambil menyentuhkan lengan suaminya.

Sroedji mengikuti pelatihan PETA di Bogor selama 4 bulan.Meskipun ia harus meninggalkan istri dan anak mereka, Sucahyo atau Cuk yang masih berumur tiga tahun, dan Supomo atau Pom yang baru saja lahir.

Sroedi baru tahu kalo disana dibagi beberapa tingkat pendidikan:  Budanchoo atau Shoodanchoo, perwira pertama yang akan menjadi komandan regu atau peleton. Chuudanchoo, berusia 25-30 tahun, dan sudah menjabat sebagai pegawai rendah di pemerintahan, para guru, dan ketua organisasi pemuda. Daidanchoo, Perwira tinggi, yang berasal dari kalangan tokoh masyarakat, kiyai, pemuka adat, dan pejabat pemerintahan. Setelah melalui seleksi yang ketat, Sroedji pun akhirnya mengikuti pelatihan tersebut dan diterima sebagai Chuudanchoo.

Ternyata pelatihan di PETA bukanlah hal yang ringan. Disana ia dan rekannya mendapatkan tekanan fisik dan mental yang luar biasa. Sroedji ingin sekali membantu teman-temannya yang sakit ataupun terluka, namun keinginannya luntur. Karena jika ia menolongnya, maka ia pun bisa dapat tamparan dan dampratan bahkan siksaa yang luar biasa. Selain itu Sroedji pun hampir saja menyerah. Namun ia ingat Indonesia, ia ingin indonesia Merdeka. Ia tak ingin anak cucunya nanti menjadi babu di negerinya sendiri.

Sroedji terus memompa semangatnya, dan semangatnya pun ia tularkan kepada kawannya, Murjani yang sudah putus asa. Yang akhirnya tertular kepada kadet PETA lainnya.

“Mur, kita memang menderita secara  fisik dan mental disini. Tapi itu belum seberapa dibandingkan penderitaan bangsa Indonesia selama ratusan tahun Mur. Kita disini punya semangat yang sama, semangat menjadi tentara yang kuat, untuk kemerdekaan Indonesia” (hal 57)

“Cara mereka melatih memang sadis, bahkan di luar batas kemampuan kita. Tapi mereka benar” (hal 57)

“Perang terbesar bukanlah melawan musuh, Mur. Perang paling besar adalah perang melawan diri kita sendiri. Kita harus punya satu tekad baja. Kita harus kalahkan dulu diri kita, baru bisa mengalahkan orang lain.” (hal 57)

“Kita harus menjadi perwira yang tangguh, Mur… Harus! Demi bangsa kita, Mur.. anak cucu kita. Mereka tidak boleh mengalami masa kegelapan seperti yang kita alami, Mur.” (hal 57)

Ternyata perjuangan Sroedji dan kawan-kawan di pelatihan PETA menemukan titik akhirnya. Mereka akhirnya lulus dan menjadi perwira.

Selepas Sroedji lulus dari Pelatihan PETA ia pun memimpin pergerakan perjuangan. Ia juga mengambil andil dalam pertempuran Surabaya. Belanda yang selama ini mengincarnnya, selalu lolos darinya. Mereka hanya mengenal nama Sroedji namun tak tahu bagaimana rupanya. Tak ayal, Belanda seringkali menakut-nakuti bahwa Sroedji dan pimpinan pergerakan lainnya telah mati. Itu semua demi menciutkan nyali masyarakat.

Namun tak hanya Sroedji saja yang berjuang. Keluarganya pun harus berjuang, mengorbankan seluruh jiwa, harta dan tenaganya untuk keselamatan dan kemerdekaan Indonesia.  Rukmini bahkan berkali-kali hampir saja  ditangkap Belanda.

Para pejuang lainnya pun sama harus berjuang, mereka terus berjuang demi tekad, Menang atau gugur sebagai syuhada. Para lurah dan pimpinan desa, juga kena imbasnya. Mereka yang menyembunyikan para tentara, tak luput dari pandangan Belanda. Mereka disiksa dan dibunuh secara brutal. Sehingga tak ada lagi yang mau menjadi lurah ataupun kepala desa, lainnya karena takut akan menjadi korban selanjutnya.

Sebenarnya Belanda tidak tahu serta merta, melainkan ada para penghianat-penghianat bangsa yang menjadi mata-mata dan antek-antek Belanda. Mereka dengan licik, membocorkan rahasia tempat perembunyian para tentara. Ataupun memfitnah sahabat, kerabat, dan sudara sedarah hingga menjadi korban Belanda demi sebuah harta yang dijanjikan oleh Belanda sebagai balasannya.

Cinta antara Sroedji kepada istri dan anak-anaknya, Cinta Sroedji kepada tanah air, dan Juga pengorbanan Rukmini yang harus menempuh perjalanan panjang untuk Hijrah dari Jember ke Kediri pada saat hamil 8 bulan anak bungsunya yang keempat, membuatnya harus bersemangat. Ia harus semangat, berjuang agar tak di tangkap oleh Belanda. Berkali-kali juga nyawanya dan anak-anaknya terancam.

Tak hanya itu saja, Sroedji juga menunjukkan sifat kesholehannya sebagai pimpinan. Kewibawaannya dan kesabarannya membuat ia disegani oleh masyarakat dan juga anak buahnya. Ia pun bersahabat dengan seorang dokter militer, Soebandi,

Sroedji yang cerdas, tak pernah lenyap idenya dari berstrategi. Baginya Perang tanpa strategi dan mengandalkan kenekatan belaka ibarat mengantarkan kepala kepada musuh di atas pinggan emas (hal 77) . Ia menjadi buron Belanda, sehingga belanda  membuat pengumuman:

1o.ooo Gulden, Hidup atau Mati!

Pengumuman yang membuat Rukmini menjadi gelisah dan takut. Namun juga membuat para penghianat berlomba-lomba untuk mendapatkannya.

Sroedji yang gesit, tegas, berwibawa dan bertanggung jawab membawanya keberhasilan kepada peranng gerilya dan wingate action yang  dipimpinnya. Dan membuat Belanda kesal. Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya ia jatuh juga. Begitu juga dengan Sroedji, sepandai-pandainya ia berperang ia pun kalah juga. Ia kalah, setelah ada penghianat yang masuk ke dalam kelompoknya yang berpura-pura menjadi kurirnya. Somad, penghianat yang merupakan KNIL, Koninkelijk Netherlands Indsiche Leger. KNIL adalah serdadu Belanda yang terdiri dari orang-orang pribumi atau Indo.

Somad-lah yang memberitahukan keberadaan Sroedji dan tentaranya. Saat Sroedji sedang sakit demam tinggi dan lemah, pasukan Belanda menyerang Sroedji dan para pimpinan lainnya yang sedang mengatur strategi.

Mereka diserang dan Sroedji dan ajudannya Abdul Syukur  berusaha mengalihkan serdadu Belanda. Setelah melihat sahabatnya, dokter Soebandi tewas ditembak Sroedji pun menyerang dengan penuh semangat. Namun, naas nasibnya ia harus gugur.  Dan jasadnya diarak dari arah alun-alun Jember menuju ke Kreongan untuk membuat takut para TNI dan masyarakat karena pemimpinnya sudah mati.

***

Kisah heroik Sang  Patriot sangat mengaharukan. Saya melihat kesungguhan yang luar biasa dari mbak Irma Devita, penulis buku ini. Kedetilan datanya, serta runtutan waktunya membuat saya berpikir bahwa Irma betul-betul melakukan riset yang mendalam. Ini sungguh luar biasa. Bahkan cerita-cerita di dalamnya betul -betul menyentuh.

Saya bisa merasakan bagaimana perihnya Sroedji di kamp pelatihan PETA. Bagaimana sedihnya saat Cuk meminta makan nasi, yang padahal itu adalah jagung putih yang dimasak karena beras sangat sulit di dapat. Saya juga merasakan lemahnya Rukmini saat harus berjalan dari Jember ke Kediri saat hamil 8 bulan. Dan saya juga merasakan bungahnya Rukmini saat awal-awal menikah dengan Sroedji. Namun yang membuat saya pedih adalah saat Jasad Sroedji harus diarak dari alun-alun Jember ke ke Kreongan dan ditelantarkan begitu saja. Benar-benar Biadab!

Buku ini sangat luar biasa menyentuh, selain gaya berceritanya, namun juga penuturannya. Penuturannya ini terasa sangat indah karena menggunakan diksi yang bagus. Seperti :

di dekat rumah mereka, mengalir   kampung Kauman, untuk mengairi sawah tempat mencuci bahkan mandi. (hal 10)

Kota Kediri dibelah oleh sungai Brantas yang membujur dari elatan ke Utara sepanjang 7 kilometer.

Selain itu diawal cerita, diceritakan tentang sejarah Prabu Airlangga dan Calon Arang. Saya kira ada hubungan antara tokoh Patriot ini dengan prabu Airlangga, namun ternyata Irma ingin membuka kisahnya dengan asal usul kampung Halaman Sroedji, kampung Kauman.

Ini membuat saya tidak percaya bahwa mbak Irma adalah seorang Notaris. Seorang Notaris yang biasanya kaku, bisa menulis kisah dengan gaya bahasa dan diksi yang luar biasa.

Covernya yang menarik, dengan permainan warna yang cantik serta ilustrasi tak biasa membuat pembaca tak bisa menebak siapakah sang patriot yang dimaksud?

Buku ini betul-betul tidak membosankan, bahkan membuat saya semakin penasaran untuk terus melanjutkan kisahnya hingga ke halaman terakhir.

Namun dibalik kehebatan dan kelebihan buku ini ada beberapa kelemahannya. Yaitu

pertama. Pada bab yang berjudul “Mimpi anak pedagang” diceritakan bahwa keluarga Moh. Sroedji pergi menunaikan ibadah haji. Tetapi pada bab selanjutnya “Jatuh Cinta”, saat Rukmini dan Sroedji menikah tidak diceritakan ada satu pun keluarga Sroedji yang hadir. Bahkan Sroedji pun melamar Rukmini melalui mak Comblang yang ada di kampung Rukmini, pak Shaleh. Kemanakah bukliknya, bu Haji Ali. Dan kemanakah keluarganya Sroedji? Apakah mereka tidak kembali lagi ke tanah air setelah berhaji?

Kedua. Setiap kalimat Asing, baik bahasa Jepang, Belanda, maupun bahasa Jawa penulisannya sudah betul dengan dimiringkan. Namun untuk bahasa Jawa, saya menemukan hanya satu dua yang disertai terjemahan setelahnya. Sehingga banyak bahasa Jawa yang tidak memakai terjemahan, seperti : “ssst..menengo koen rungokno dhisik rek! (hal 79). Sebaiknya ini disertakan terjemahan/ arti dari kalimat tersebut dengan menyertakan footnote atau arti setelah kalimat yang berbahasa Jawa. Saya melihat kekurang konsistenan,entah lupa, entah di sengaja karena hanya yang berbahasa Jawa saja yang kebanyakan tidak memakai arti.

Lain halnya dengan kalimat bahasa Asing, bahasa Jepang yang langsung menggunakan terjemahan setelah kalimatnya: ‘Kare no me wo miru to kanme gaaru hito wo kanjirareru, ada wibawa yang terpancar dari tatapan matanya (hal 58). Dan juga dalam bahasa Inggris :  We did not win a battle, but we already win the war, Kita tidak memenangkan sebuah pertempuran, tetapi kita telah memenangkan peperangannya.

Jadi sebaiknya untuk yang berbahasa Jawa juga menyertakan artinya, karena ini membuat saya terganggu. Jadi mikir-mikir dulu, kira-kira apa ya artinya? Dan karena buku ini layak untuk jadi konsumsi masyarakat secara nasional bahkan mancanegara (amin!) tidak semua pembaca mengerti bahasa Jawa, termasuk saya.

ketiga. Kesalahan penulisan, yaitu tulisan KH. Ahmad Dachlan (hal 45), seharusnya adalah KH. Ahmad Dahlan.

keempat. Kesalahan penulisan bahasa Asing, dalam hal ini adalah bahasa Jepang.

a. Hitostu no dangan de hitori o korosu, satu peluru untuk membunuh satu orang! (hal 82)

b. Danyaku! (hal 84)
 
Menurut kamus standar bahasa Jepang yang disusun oleh Goro Taniguchi yang dicetak oleh PT. Dian Rakyat, seharusnya penulisannya adalah : 
 

a. Hitotsu no dangan de hitori o korosu, satu peluru untuk membunuh satu orang! (hal 82)

Hitostu tidaklah memiliki makna/arti apapun, namun Hitotsu  maknanya/artinya adalah satu (hal 167)

b. Dan’yaku!
Danyaku! tidaklah memiliki makna/arti apapun, namun Dan’yaku! maknanya/artinya adalah amunisi (hal 71)
 
Ya, namanya sebuah buku pastilah ada kekurangan dan kelebihannya, namun secara keseluruhan buku ini sangat bagus untuk dibaca untuk kalangan manapun. Buku ini juga sangat baik jika diangkat ke layar lebar.  Banyak pelajaran, nilai dan pelajaran  yang bisa diambil oleh para pembaca.  Keteladanan yang luar biasa yang suatu hari saya sangat berharap bisa membawa perubahan positif pada karakter para penerus bangsa. Tanpa para pejuang, dan pejuang Sroedji tentunya lah kita tak akan bisa menikmati kemerdekaan dan teknologi seperti sekarang. Dan buku ini adalah bukti cinta seorang pejuang kepada  tanah airnya, seperti dalam bukunya yang berjudul “Sang Patriot, yang berarti “Seseorang yang cinta tanah air” 
 

‘Artikel ini disertakan dalam lomba review novel Sang Patriot‘

lomba review sang patriot

Iklan

3 comments on “Semangat Cinta Sang Pejuang

  1. An Maharani Bluepen
    Mei 14, 2014

    wow… narasi resensinya komplit sangat, Bunda… suksess, yaa 🙂 saya bisa belajar membuat resensi selengkap ini.

    • ayundaslamet
      Mei 17, 2014

      @An Maharani Blupen : terimakasih, salam kenal ya 🙂

  2. RZ Hakim
    Mei 18, 2014

    Mbak, terima kasih atas partisipasinya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 41,119 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: