My Corner (Happy Think, Happy Life)

Mendapatkan Uang itu Tidak Mudah, Nak!

“Ibu, minta uang..!!”

“Minta uang lagi? kamu hari ini udah jajan sepuluh ribu”

Atuhlah, bu. Seribu aja.”

“Gak!”

Atuhlah, bu..”

“Ibu udah gak punya uang lagi!”

Miris sekali mendengar percakapan yang sering aku dengar dari rumah tetangga di sebelah rumah. Percakapan anak tetangga  dan ibunya yang seringkali aku dengar melalui kamar mandi rumah. Percakapan tersebut seringkali terdengar saat jam-jam Maghrib, karena pada jam tersebut anak ini sering meminta uang jajan saat akhir hari menjelang.

Aku sebenarnya kasihan sekali sama ibu -tetangga- tersebut. Karena setahuku , suaminya hanya seorang buruh serabutan. Yang tak tentu kapan ada, dan tidaknya penghasilan yang dibawanya. Pernah juga aku mendengar anaknya tak mau menghabiskan makanannya dan malah minta uang jajan,”Habisin nasinya, kamu ini gimana sih. Boro-boro buat jajan, beras aja uangnya ibu pinjam sama teh  Rini.”

Tapi selain itu, aku juga sebal sama anaknya tersebut. Karena yang kutahu, seringkali saat berbelanja ke warung setelah shalat maghrib, anak lelaki kelas 6 SD ini sering kongkow dan main PS  di rental PS dekat warung tersebut (karena pemilik warung adalah pemilik rental PS juga) dengan seragam seperti mau mengaji bahkan hingga Isya tiba. Hal tersebut entah diketahui oleh ibunya ataupun tidak. Sebenarnya aku ingin menegur anak ini, tetapi takut salah paham dan dianggap mencampuri urusan rumah tangga tetanggaku tersebut.

Hal tersebut sempat membuatku geleng-geleng kepala. Baru setahun lebih tinggal di sebuah desa, di kaki gunung Garut. Selama aku tinggal disini,   melihat dan menyaksikan anak-anak  begitu dimanjanya dengan materi. Nangis sedikit, “Ayo, jangan nangis. Nanti kita ke warung.” Atau jika orangtuanya sedang memiliki rejeki berlebih, “Kita ke Al**mart yuk, beli coklat”. Atau lebih ngerinya ada anak yang merengek minta dibelikan Tablet, hanya untuk main game.

Sebenarnya tidak salah jika orangtua ingin menyenangkan anak-anaknya. Hanya saja, jika sang anak sudah sekali diberikan sesuatu dan dimanjakan, maka itu akan menjadi candu dan melenakan mereka. Anak-anak akan terus meminta dan menagih, dan mereka tak mau tahu apakah orangtuanya memiliki uang atau tidak. Hal ini malah akan membuat orangtuanya kesulitan dan kewalahan menghadapi tingkah laku anak-anaknya tersebut.

Duuh aku takut juga sih, dengan lingkungan rumah seperti ini. Anak-anaknya hobi jajan. Padahal mayoritas anak-anak disini adalah kaum buruh, paling tinggi adalah guru. Ada juga beberapa anak yang diurus oleh kakek neneknya karena ibunya (terpaksa) jadi TKW jauh di negeri sana dan bapaknya adalah sopir angkot.

Hal itu, mungkin pengaruh dari lingkungan sekolah, pola asuh orang tua atau kakek nenek dan pergaulan mereka yang beranekaragamnya. Apakah hal ini juga berpengaruh dari latar belakang pendidikan orang tua mereka?

Nah, karena aku belum punya anak. Jadi sedini mungkin aku bisa memplanning pola asuh seperti apa yang akan kuterapkan nanti kepada anak-anak. Pola pendidikan ini aku ambil contoh dari pola pendidikan kedua orang tua (ketika masih tinggal di Bali-Bandung) sejak masih TK hingga berusia remaja, yang telah aku rasakan dampaknya sekarang. Pola pendidikan tersebut diantaranya adalah :

1. Tidak Kenal Uang Sejak Dini

Moment lebaran pasti moment yang paling ditunggu oleh para anak-anak, tak terkecuali diriku. Ya, saat itu yang paling ditunggu oleh seorang anak adalah amplop. Amplop yang berisi uang, tentunya. Besaran uang yang diberikan pun bervariasi. Aku mendapat cerita dari ortuku dulu, ketika aku masih kecil (mungkin umur 5 tahunan) sekitar tahun 1990 an, Uyut ene selalu memberikan uang. Pada zaman itu, uang yang paling besar untuk anak seusiaku adalah uang lembar 500 rupiah.

Warna dan bentuknya masih pada inget gak?

Uang 500 Rupiah  (Penampang depan dan penampang belakang) Sumber : www.uang-kuno.com

Uang 500 Rupiah
(Penampang depan dan penampang belakang)
Sumber : http://www.uang-kuno.com

Tetapi apa yang terjadi? Aku malah menolak pemberian uang dari uyut tersebut. Aku bilang, “Uyut,  gak mau uang monyet. Maunya uang merah”

Dan masihkah inget uang merah itu apa?

Taraa.. ini dia si uang merah kesukaan saya

Uang 500 Rupiah  (Penampang depan dan penampang belakang) Sumber : www.uang-kuno.com

Uang 500 Rupiah
(Penampang depan dan penampang belakang)
Sumber : http://www.uang-kuno.com

Lho, padahal kan jumlah nominalnya lebih kecil khan? Memang aku waktu itu tak kenal dengan nilai uang  dan aku lebih suka warna merah. Warna yang lebih menggoda, karena itu warna kesukaanku.

2. Tidak Boleh Jajan

Kalo pergi ke sekolah, tak lupa mamah atau uwak perempuan (karena kadang  tinggal sama ortu, kadang sama uwak) selalu menyiapkan bekal untuk kubawa ke sekolah. Sejak TK hingga SD, Aku dibelikan tempat makanan yang  lucu dan imut buat dibawa ke sekolah.

kotak makan

salah satu contoh kotak makan yang kusuka. Warnanya pink, dan gambarnya hello kitty

Ya, isinya macam-macam. Ada masakan buatan mamah atau uwak, bisa juga makanan yang beliau beli di supermarket.

Tapi pernah juga suatu hari, mamah  lupa membekali aku makanan ke sekolah. Mungkin karena beliau repot, baru punya adik. Sehingga setelah pelajaran kesenian berakhir. bapak guru kesenian memanggilku di kelas.

“Kamu, kenapa bengong? Gak makan?” Tanyanya heran.

“Gak, pak. Biasanya saya suka dibekali makanan sama mamah. Tapi hari ini gak.”

“Kamu gak lapar?”

“Lapar, pak”

“Ya, sudah. Beli makanan sana ke kantin. Ini uangnya dari bapak”

Dengan perasaan senang aku pun mengambil uang tersebut,”Terima kasih pak”

Dan itulah pertama kalinya aku jajan di kantin sekolah saat kelas dua SD. Aku pun segera menuju kantin dan membeli roti. Roti hijau berisi selai sarikaya, roti khas kantin sekolah  yang sejak kelas satu SD selalu kuidam-idamkan rasanya, karena aku tak pernah jajan di sekolah. Asyiknya!

3. Menyisihkan Uang Jajan

Aku mulai dikasih uang jajan saat kelas tiga SD. Entah maksud orangtua ingin mengujiku atau bagaimana, aku mulai dikurangi bekal makanannya dan mulai diberi uang jajan. Uang jajan pertama kali yang mamah berikan adalah seratus rupiah.

Uang Logam Rp. 100 Sumber : uangkuno-jadul-murah.blogspot.com

Uang Logam Rp. 100
Sumber : uangkuno-jadul-murah.blogspot.com

Ketika itu, tahun 1990 an. Harga jajanan sekolah di Ubud masih murah, yaitu Rp. 25,-.

Uang Rp. 25 (Sumber : uangkuno-jadul-murah.blogspot.com)

Uang Rp. 25
(Sumber : uangkuno-jadul-murah.blogspot.com)

Lucunya, aku setiap hari hanya menghabiskan uang Rp. 50,- saja.

Uang Rp. 50 (Sumber: uangkuno-jadul-murah.blogspot.com)

Uang Rp. 50
(Sumber: uangkuno-jadul-murah.blogspot.com)

“Kok, masih ada teh uangnya?” tanya mamahku keheranan.

“Udah cukup ko mah, jajan Rp. 50 juga. Udah kenyang.”

Aku selalu mengembalikan sisanya pada mamah, tapi eeh.. besoknya dikasihkan lagi.

4. Sedia makanan di rumah.

Karena aku dilarang jajan di luar (kecuali kalo bareng ortu), jadilah di rumah orangtuaku menyediakan makanan yang banyak.

 

Makanan 4 Sehat 5 sempurna yang selalu tersedia di rumah  (Sumber : gizanherbal.wordpress.com)

Makanan 4 Sehat 5 sempurna yang selalu tersedia di rumah
(Sumber : gizanherbal.wordpress.com)

Dan aku paling seneng banget makan buah-buahan. Buah yang paling aku suka adalah

Buah mangga (Sumber :forces.ik.ipb.ac.id)

Buah mangga (Sumber :forces.ik.ipb.ac.id)

 

 

 

Jeruk Medan (sumber :ayoorange.wordpress.com)

Jeruk Medan (sumber :ayoorange.wordpress.com)

Kedua buah ini aku suka banget. Bahkan bisa habis satu kilo seharian. Luar biasa bukan?!

5. Tidak Terlalu Kenal dengan Supermarket dan Warung

Ya, aku memang tidak terlalu kenal dengan yang namanya supermarket dan warung. Aku kenal kedua kata Supermarket saat aku kelas dua SD, dan warung saat aku kelas tiga SD. Itu juga saat saat berbelanja dengan oragtua ataupun uwak.Gara-gara aku tak biasa berbelanja ke supermarket  (satu-satunya) dekat rumah, pernah aku kebingungan mencari barangnya dimana saat mamah menyuruhku dan adekku membeli keperluan dapur. Selain itu, saat pertama kali ke warung adalah saat aku pindah sekolah dari Ubud ke Bandung. Tahun 1996, Bandung masih jarang dengan yang namanya supermarket atau mall. Kebanyakan namanya warung. Dan di warung inilah aku kepincut dengan beberapa makanan yang menurutku enak banget..

Krip-krip (sumber : sobatngemil.com)

Krip-krip
(sumber : sobatngemil.com)

 

anak mas snack (sumber:www.duniaku.net)

anak mas snack (sumber:www.duniaku.net)

permen karet (www.duniaku.net)

permen karet (www.duniaku.net)

 

 

 

 

 

 

choki -choki(dimasamiluhur.blogspot.com)

choki (dimasamiluhur.blogspot.com)

 

coklat superman (dimasamiluhur.blogspot.com)

coklat (dimasamiluhur.blogspot.com)

6. Bawa Uang Seperlunya ke sekolah

SMP adalah masa di mana aku harus mulai mandiri. Aku sekolah di SMP yang tidak dekat dari rumah. Sehingga untuk bolak-baliknya harus naik angkutan umum. Sempat uwakku merasa khawatir, karena aku di Bali biasa naik mobil pribadi diantar supir. Tapi ya, yang namanya hidup kembali dari Nol di Bandung ini. Jadilah aku dibiasakan hidup susah. Selain itu, perubahan status ayahku yang tadinya sebagai maSMP aku hanya di bekali uang Rp. 1.500 saja (ongkos PP R. 1.000, dan jajan Rp. 500).

7. Membiasakan Menabung

Ketika kelas 3 SD, Papahku mengajakku ke sebuah kantor. Aku tak diberitahu sebelumnya untuk apa. Saat mengantri papahku baru bilang, “Teh uang lebarannya di tabung ya, biar banyak”

Uow.. mendengar uangku menjadi banyak aku senangnya bukan main. Selain itu aku suka nabung disini karena gambar buku tabungannya lucu. (sayang uda gak ada buku tabungannya)

Gak hanya di Bank aku diajarkan menabung, di rumah pun aku di ajarkan untuk menabung.

celengan ayam (hauranabeelach.blogspot.com)

celengan ayam (hauranabeelach.blogspot.com)

 

 

 

 

celengan eskrim (www.ichimegastore.com)

celengan eskrim (www.ichimegastore.com)

Beberapa bentuk celengan yang pernah aku punya.

8. Tidak Membeli hal-hal yang Gak Terlalu Penting

Masa Abg adalah masa perubahan. Biasanya para gadis remaja akan membeli perlatan makeup, atau apapun yang menunjag dirinya untuk mulai tampil cantik dan memikat hati lawan jenisnya. Namun lain halnya denganku, aku malah tak suka membeli barang-barang yang diingini  oleh para ABG itu. Karena sejak kelas 5 SD aku biasa maskeran memakai bahan alami, madu dan yoghurt dan selalu luluran pake tepung lulur yang ada di pasar. Maka mukaku akan menjadi sangat sensitif bila memakai bahan-bahan yang “sudah jadi” yang banyak beredar di pasaran. Aku hanya membeli pembalut, bedak, dan deodorant saja. Itu sudah cukup penting. Bahkan untuk memilih pakain dalam pun aku kebingungan karena biasa dibelikan oleh mamah. Prinsipku Mending beli makanan, buah-buahan biar perut kenyang, tidur pun tenang.

**

Ya.. demikianlah pola hidup yang diajarkan oleh kedua orangtua saya untuk mengatur finance. Sehingga uang lebihnya bisa dipake berlibur ke rumah nenek yang ada di Bandung (ketika aku dan keluarga masih tinggal di Bali), ataupun membeli buku cerita.

Selain itu jika kita membiasakan anak sejak dini mengatur keuanganya sendiri, maka orangtua pasti gak akan kewalahan dengan sikap anaknya sehingga secara tak langsung mengajarkan anaknya untuk tidak jadi anak  yang penuntut. Dengan kata lain, orang tua juga mengajarkan bahwamendapatkan uang itu tidak mudah nak, maka bijaklah kamu dalam mengaturnya!

Iklan

4 comments on “Mendapatkan Uang itu Tidak Mudah, Nak!

  1. jampang
    Oktober 24, 2014

    semoga menang lombanya, mbak

  2. Rijal
    Agustus 7, 2015

    Ngeliat gambar uang kertas Rp500 sama Rp100 di atas, jadi inget masa kecil saya hehehehe.

    • ayundaslamet
      Juni 26, 2016

      iya sama, saya juga masih ngalamin kok..
      Jangan-jangan kita seumuran ya? heheh

      Terima kasih telah berkunjung ke blog saya ya, saudara Rijal (www.aksarahuruf.blogspot.com)

      Salam Kenal 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 24, 2014 by in Tulisan untuk Lomba Blog dan Give Away and tagged , , , .

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 39,686 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: