My Corner (Happy Think, Happy Life)

Berdamai dengan Mama

Mama, sebuah kata yang indah di ucapkan bagi seorang anak di dunia ini. Tapi tidak bagiku. Mama terlalu banyak ngatur, ikut campur dan bikin sering hati hancur.. Gimana nggak, mau pake baju ke ondangan aja diatur, “Jangan pake baju ini, yang ini aja. Lebih pantes!”

Padahal menurutku baju yang aku pilih itu, lebih pantes. Tampilannya nggak ketuaan, seperti yang Mama pilihkan. Aku kan masih SMA nggak pantes pake baju itu. Tapi kalo aku nggak nurut, atau cemberut, biasanya Mama akan lebih cemberut lagi atau marah. Kalo udah marah, panas rasanya kuping ini. Jadi ya, aku menurut saja apa maunya Mama *terpaksa

Kalo aku sama adikku lagi ngomongin sesuatu, eh Mama sukanya nimbrung. Pengen tau apa yang kita obrolin.

Mama suka ngelarang keinginanku,

“Ma, teteh mau ikutan kegiatan. Tapi nginep, acara kampus.”

“Nginepnya dimana,Acara apa?”

“Nginepnya diluar kampus Ma, acara Kaderisasi pengurus kampus (BEM) se Bandung.”

“Yang lain ikut juga nggak?”

“Nggak Ma. Cuma beberapa orang aja. Soalnya tetehperwakilan, jadi  ijin ke kampus.”

“Nggak usah ikut, mending teteh belajar aja yang bener! Nanti malah jadi ikut-ikutan demo lagi, kaya mahasiswa-mahasiswa yang ada di TV.”

“Tapi, Ma”

“Ngga ada tapi-tapian. “

Hatiku hancur

Akhirnya aku pun ngebatalin ikut acara itu bersama dua orang teman perempuanku.

“Ya, kalo Icha nggak ikut. Kita juga nggak akan ikut. Kan nggak seru nggak ada Icha, kita kan nggak kenal siapa-siapa disana.”

“Lho, kan bisa dapet temen baru nanti disana.”

“Ah, nggak ah. Mending nggak jadi ikut aja deh.”

Kejadian pas kuliah sih belum seberapa. Pernah aku mengalami hal yang lebih hebat waktu SMA.

Saat masih kelas 2 , aku masih aktif-aktifnya mencari jati diri. Karena di kelas merasa nggak dianggap sama temen-temen (yang berkerudung dikucilin sama KMnya& sebagian temen-temen yang lain) dan pusing sama mama dan papa yang berantem hampir setiap hari. Aku pun mencari pelarian ke ROHIS. Alhamdulillah, disana aku mengikuti salah satu kegiatan yang membuat aku merasa dihargai. Aku ikutan kelas Jurnalistik dan belajar membuat majalah sekolah ala ROHIS.. Saking keasyikannya, aku sering lupa waktu. Pulang sekolah jam dua, baru pulang ke rumah ba’da Ashar atau menjelang Maghrib. Aku memegang aturan di rumah, “Jangan pulang ba’da Maghrib.”

“Kenapa baru pulang jam segini?” Saat jam lima sore sampai rumah

“Lho, kan teteh udah bilang pulangnya telat. Ada kegiatan jurnalistik”

“Tapi kan nggak jam segini juga”

Berkali-kali aku melakukannya. Sampai suatu hari, aku kebablasan pulang ke rumah pas adzan Maghrib berkumandang.

Sampai di rumah, ucapan salamku hanya dibalas datar oleh kedua orangtuaku. Malamnya aku dicuekin hingga keesokan harinya oleh mereka.

Apa yang salah, ya? Kan aku udah SMS mau pulang telat. Mereka kan udah tau juga kenapa? Lagian kan gaulku nggak negatif, sampai narkoba?

Karena merasa mendapatkan perlakuan yang berbeda, aku pun pulang cepat keesokan harinya.

“Sini, Mama mau ngomong”

“Iya, Ma.”

“Kalo teteh sampai pulang sore terus, apalagi Maghrib kayak kemarin. Mama mau ke sekolah ketemu wali kelas teteh.”

Deg, seketika itu juga jantungku trasa berhenti berdetak.

Kang, gimana. Mama saya mau dateng ke sekolah. Mau laporan sama wali kelas, karena saya sering pulang sore terus. Padahal kan saya ikut kegiatan positif. Apalagi kita lagi ngejar deadline buat launching majalah perdana kita, dua bulan lagi. “ Keluhku suatu hari kepada kakak kelas pengasuh kegiatan Jurnalistik.

“Udah nggak apa-apa, tenang aja. Nanti juga mereka ngerti kok”

Teh, gimana ini? Kalo mama sampai datang ke sekolah saya terancam nggak bisa ikut lagi. Saya nggak mau, teh. Disini saya merasa senang dan bahagia. Ketemu teman-teman yang salih dan bisa berkarya” Curhatku ke teteh senior, kakak kelas, sambil menangis di pelukannya.

“Yang sabar ya, In sya Allah, Allah kasih jalan”

Ah, pokonya yang berkaitan dengan mama aku tak suka. Karena hal ini aku juga jadi takut bila berinteraksi dengan perempuan dewasa, misalnya berhadapan dengan ibu guru. Bukan hanya karena mama, tapi juga karena sosok wali kelasku dulu waktu kelas 5 yang galak.

Alhamdulillah ancaman Mama untuk datang ke sekolah tidak terbukti. Karena sebelum beliau datang ke sekolah, teman-teman jurnalistikku sering main ke rumah. Mereka pandai sekali mengambil hati kedua orangtuaku. Mereka membuktikan kalo aku bergaul dengan orang-orang yang positif. Apalgi saat kedua orangtuaku akan berangkat haji, mereka dikejutkan oleh kedatangan teman-teman ROHIS ke rumah untuk undangan walimatus safar.

“Ini teman teteh di undang semua?”

“Nggak Ma, udah hasil dipilih. Hanya sebagian aja.” Karena yang datang sangat banyak, sekitar 40 orang, perwakilan kelas 1 sampai kelas 3. Kebayang kalo semuanya diundang.

Ya, begitulah aku. Dari kecil sampai kuliah aku masih belum bisa mencintai mama sepenuh hati. Meskipun kelihatannya aku ini anak yang penurut banget. Padahal itu hanya kamuflase aja agar tidak terjadi perang dunia ke -3, karena aku ngggak nurut kepadanya. Dipikiranku mama adalah hambatan. Semunya karena Aku syok.Saat kecil hingga aku kelas 3 SD aku diasuh oleh uwak yang punya anak tunggal yang dewasa, udah aku anggap orangtuaku sendiri. Disana keinginanku dituruti dan nggak banyak diatur atau dilarang. Nah, saat kelas 4 SD kami pindah dari Bali ke Bandung, aku kembali   ke pangkuan orangtuaku yang sebenarnya. Disini banyak sekali aturan dan amarah. Aku merasa nggak adil dibeginiin.

***

“Sudah Mama bilang, kamu jangan kuliah di kampus itu. “

“Kampusnya jauh, mahal ada asramanya. Apalagi kamu masih mau aktif di PAS. Apa nggak ada kampus yang deket dari sini?” Suatu hari Mama memarahiku di hadapan Papa. Baru kali itu rekor marah mama, tiga jam lebih. Ntah bagaimana bentuk rupaku saat dimarahi habis-habisan.

“Sudah Ma, teteh belum dewasa.. mungkin dia belum ngerti.” Papa berusaha menenangkan Mama yang ceramah panjang lebar itu

“Belum dewasa apanya, udah mau masuk kuliah belum DEWASA???”

Ya, Papa dan Mama memang sangat berbeda karaketernya. Papa lebih sering mengalah dan pendiam, dibanding Mama. Tapi kalo soal ibadah, Papalah yang paling cerewet.

Aku nggak tahan. Ingin rasanya waktu cepat berlalu.

“Kata teh Demi, ada Ma.”
“Ya, udah daftar aja disana! Besok kita ambil lagi uang di kampus yang jauh itu. Buat ngebatalin kamu kuliah di tempat yang jauh itu.”

Aku pun mengalah. Dan keesokan harinya benarlah apa yang dikatakan Mamah: Mengambil uang DP kuliah dan mendaftar kuliah di kampus swasta yang bukan  keinginanku, tapi  keinginannya. Hanya karena dekat dari rumah!

Wah, pokoknya aku semakin benci sama Mama. Aku harus jadi anak yang “Yes, Mam!” nggak boleh ngebantah.

Aku merasa depresi. Nggak PEDE. Hingga semuanya berubah, saat semester 5. Aku mulai aktif di suatu kegiatan di Masjid Salman ITB, kegiatan mentoring anak-anak TK dan SD. Alasan pertamanya agar aku bisa dekat dan curhat dengan sahabat lamaku di SMA. Tapi ternyata aku “jatuh cinta” dengan adik-adik disana. Merekalah malaikat-malaikat kecil yang mengajarkanku arti hidup. Orangtuanya terlihat penuh kasih, sehingga ketakutanku pada wanita dewasa berkurang dan menghilang. Bahkan kini mulai mencair. Aku mulai bisa berinteraksi dengan orang-orang yang usianya jauh lebih tua di atasku.

Begitu juga dengan kelakuan Mamaku berubah seiring waktu. Kalo dulu hanya melarang, sekarang Mama lebih banyak memproteksi diriku.

Teteh udah nanti ke kampusnya di anter sama Mama. Pulangnya juga SMS atau telpon Mama. Nanti Mama jemput”

“Iya, Ma”

Saking seringnya Mama menganter jemput, dosen-dosenku sampai hapal.

“Itu, udah ditungguin Mamanya.”

Ada rasa malu. Aku yang segede ini masih aja dianter jemput. Kalo Mama berhalangan, Papa yang menggantikan. Kalo mereka berdua tidak bisa, ya aku pulang sendri. Itupun nggak sering.

Tapi beda halnya dengan orang-orang disekitarku. Teman-temanku sangat mengenal Mama dengan baik. Dibalik banyak sifatnya yang nggak aku suka, Mama itu supel dan baik dengan teman-temanku.

“Asyik, ada Mamanya teh icha. Itu artinya makanan datang.. hehe J”

“ Mama gaul datang… ”

Atau sepupuku yang bilang, “Enak ih, punya Mama kayak Mamanya Icha. Kemana-mana dianter. Ine mah pingin punya Mama kayak tante. Mama Ine sibuk, nggak bisa nemenin Ine.

Ah, kalian ini. Aku malah mah nggak mau punya mama kaya beliau.

Aku juga pernah mengeluhkan tentang Mama ke guru les B. Inggrisku.

I Hate My Mom, so Much

“Why?”

Aku diam seribu bahasa tak menjelaskan. Hingga suatu hari Mama menjemputku ke tempat les.  Beliau  mengajak guruku untuk berboncengan sampai ke jalan besar, karena hari mau hujan. Bonceng bertiga.

“Aku lihat Mamamu seorang yang baik, kenapa kamu membencinya?” tanya guru lesku keesokan harinya

“Itu tidak seperti kelihatannya. Dia sangat berbeda saat di rumah.”

Ya, begitulah terus sampai aku lulus kuliah.. rasa benciku masih ada pada Mamah. Mama arogan, pemarah, diktator dan segala label yang melekat padanya.

Suatu hari di hari Minggu yang mendung, Mama ngamuk tanpa alasan yang jelas. Hanya ada kami bertiga: aku, Papa dan Mama. Aku pun membentaknya,

“Mama ini kenapa sih? Marah-marah nggak jelas. Kayak kesetanan. Pergi-pergi kamu jauh syetan!!”

Maksud hatiku itu mengusir amarah yang ada padanya. Tapi ternyata aku salah. Kemarahan mama semakin menjadi-jadi. Kemudian papa memberiku isyarat agar menjauh drainya.

“Teh, Mama itu lagi sakit. Dulu kepalanya pernah kebentur. Jadi Mama nggak bisa mikirin masalah yang berat-berat. Kepikiran dikit, langsung pusing dan kayak gitu. Jadi teteh harus paham kenapa Mama seperti sekarang. Mama pemarah, diktator, dan mau tau urusan anak-anaknya. Itu semua karena Mama sayang sama kalian, anak-anaknya. Selain itu, ada yang bilang sama Papa, Mama sedang kena guna-guna. Makanya Mama dan Papa sering bertengkar meskipun hal yang sepele. Mama jadi sering terpancing emosinya. Nanti Mama mau dibawa berobat. “

Degh, hancur hatiku. Ternyata aku telah salah dan berdosa membentak Mama. Setelah keadaan membaik dan seperti semula, Mama yang malah minta maaf padaku bukannya aku.

Sekarang aku lebih memahami Mama apa adanya. Segala curhatan mama dan papa aku tampung. Aku jadi tidak mau merepotkan Mama dan Papa. Tidak ingin membuat Mama cemas dan khawatir dan ingin berusaha meringankan beban Papa, karena keadaan ekonomi kami mulai krisis. Aku pun bekerja sambil kuliah dan mendapatkan beasiswa keringanan biaya kuliah dari kampus hingga wisuda.

Setelah bekerja, berangsur-angsur penyakit mama sembuh. Hanya bila emosinya terpancing, Mama akan menjadi-jadi. Namun tidak separah sebelumnya. Aku mulai memahami keadaan Mama. Mama juga jadi lebih terbuka padaku.

“Ma, kenapa sih Mama dulu suka banget nganter jemput teteh ke kampus? Terus teteh nggak boleh kuliah di tempat yang jauh itu? ” tanyaku suatu hari.

“Semuanya Mama lakukan karena kondisi keuangan kita lagi krisis, teh. Pengeluaran kita banyak, pemasukan papah sedikit. Saat teteh masuk kuliah, kan Dinda juga lagi butuh biaya buat masuk kuliah. Itupun nggak sedikit. Jadi kita harus berhemat” Mama menjelaskan.

Ya, aku baru kuliah setahun setelah lulus SMA, karena papa menginginkanku aku nyantri dulu di DT.

Mama menjelaskan semuanya panjang lebar. Bahwa apa yang dilakukannya untuk kebaikan bersama.

Aku pun semakin paham dan mengerti. Namun dibalik kemengertianku seringkali membuatnya salah paham, terutama setelah aku berkeluarga. Setelah berkeluarga, aku tidak ingin curhat masalah diriku dan keluargaku. Takut kepikiran Mama, simpel banget alasannya. Apalagi suamiku juga melarangnya, “Biarlah semua masalah kita simpan berdua saja”

Aku masih bekerja saat menikah selama dua tahun. Pada tahun ketiga aku sakit keras dan mengharuskanku bedrest selama 3,5 bulan. Bukan karena tidak berobat aku sakit lama, justru ini karena minum obat. Awalnya dianggap sakit magh, kemudian types. Tapi setelah obatnya abis, eh perutku malah membengkak, sakit seluruh badan disertai demam yang tinggi setiapp malam. Hampir setiap hari orangtuaku menengok, terutama Mama. Memastikan keadaanku baik-baik saja. Ya keadaanku baik-baik saja, tampak oleh mata. Namun dibalik selimut ini tersimpan rasa sakit yang luar biasa. Mama tidak tahu dan tidak boleh tahu.

Suami mendesakku agar aku diopname. Tapi aku nggak mau. Aku trauma oleh obat yang sebelumnya bikin badanku tambah sakit dan perut semakin bengkak. Akhirnya suamiku membawaku berobat Herbal. Dengan meminum berbagai ramuan herbal yang diracik oleh suamiku, atas resep terapist tentunya. Aku pun tetirah ke kampung halaman suamiku. Dan kedua orangtuaku tidak tahu keadaan yang sebenarnya. Suamiku membatasi kontakku dengan teman-teman kantor dan keluargaku. Maksudnya adalah supaya keluargaku tidak cemas, dan aku tidak banyak pikiran oleh omongan miring teman-teman karena aku lama tidak masuk kerja.

Firasat orangtua selalu nyambung. Orangtuaku menyusul ke kampung halaman suami dan menengokku. Dia menyalahkan suamiku karena keadaanku yang begini. Diputus kontak, tidak masuk kerja berbulan-bulan dan aku sakit tidak dibawa ke rumah sakit pula, semakin parah keadaan hatiku saat itu.

Aku pun sakit lagi, karena kepikiran orangtuaku yang menyalahkan suamiku. Padahal itu semua atas keinginanku juga. Aku nggak mau diganggu.

Ternyata saat itu, aku sakit gejala hepatitis A, pembengkakan lambung dan limpa. Alhamdulillah atas ijin Allah aku sembuh juga. Tapi aku belum mengontak ke orangtuaku kalo aku belum sembuh. Selama setahun kami tidak mengirim kabar ke orangtua. Saat itu, bukannya aku benci atas sangkaan kedua orangtuaku seperti sebelumnya. Tapi aku ingin dikasih waktu. Aku meminta petunjuk pada Allah, apa yang mesti kulakukan dan meminta kepada-Nya agar membukakan hati kedua orangtuaku agar memahami pilihanku.

Akhirnya aku pun resign. Setelah resign dan aku sembuh ternyata musibah datang lagi. Ibu mertuaku yang sudah sepuh sakit. Selama tiga bulan lamanya, ia tergolek di kasur. Bergantian aku suami dan saudara iparku yang lain menungguinya. Saat aku merasa lelah mengurusi ibu mertuaku, distitu aku merasakan pengorbanan Mama yang sesungguhnya. Aku ingat mama, aku kangen mama dan papa. Rasa lelahku nggak sebanding dengan pengorbanan Mama saat mengurusku dahulu hingga sebelum aku menikah. Juga perjuangan Papa yang luar biasa

Tak lama kemudian, aku pun meminta suami untuk menguatkan hatiku dan menemaniku berkunjung ke rumah orangtuaku. Ternyata mereka nggak marah lagi kepadaku. Mereka bilang, sangat kangen padaku.

Saat itu, suami sengaja meninggalkan kami bertiga. “Hanya Ummi yang bisa menjelaskan semuanya ke Mama dan Papa.”,

Aku pun meminta maaf. Dengan berlinang air mata, kuceritakan apa yang terjadi padaku padaku. Bagaimana keadaanku dan mengapa aku nggak mau dirawat di rumah sakit, lebih memilih diobati dan diterapi dengan trapy herbal. “Teteh Nggak mau mama kepikiran karena sakit teteh yang parah. Teteh sakit, bukan hanya aa yang repot, tapi juga Maama dan Papa. Teteh nggak mau, Mama dan Papa repot.   Kan disini masih ada adik-adik yang perlu Mama dan Papa jaga. Ma, Pa tenang aja teteh sudah ada yang menjaga. Mama dan Papapun menangis, tidak menyangka keadaan anaknya seperti itu.

Aku bersungguh-sungguh tidak mau merepotkan mama dan papa dan ingin menjadi anak yang berbakti. Maka sebelum pulang aku mencuci kaki keduanya, meminta doa restu agar kehidupan rumah tangga kami dalam keberkahan dna keridhaan-Nya.

Kini, aku sudah berdamai dengan Mama dan diriku. Meskipun terkadang kesalahpahaman itu tetap ada, namun Allah segera mengurainya kembali. Aku sudah bisa merasakan apa yang Mama rasakan. Karena aku juga nantinya akan menjadi seorang ibu juga.

Sekarang kami sudah seperti sahabat dekat. Mama lebih sering curhat bila aku berkunjung ke rumah dan menelepon bila kangen.

Kini Mama masih disibukkan oleh tingkah kedua adikku yang dianggapnya belum sesuai keinginannya. Bila adik-adikku membaca tulisan ini, aku berharap mereka juga belajar untuk memahami dan menyayangi Mama. Apapun yang Mama katakan dan lakukan semuanya untuk kebaikan kalian.

Mari berdamai dengan Mama

 “Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Sejuta Kisah Ibu 

 

Iklan

3 comments on “Berdamai dengan Mama

  1. Ping-balik: Daftar Peserta GA Sejuta Kisah Ibu | rosimeilani.com

  2. Rosi Meilani
    Desember 20, 2015

    Terima kasih telah memeriahkan GA Sejuta Kisah Ibu di rosimeilani.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 18, 2015 by in Uncategorized.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 41,175 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: