My Corner (Happy Think, Happy Life)

[Give Away] Gara-gara Sepatu Merah

dongeng anak GA
Karen adalah seorang anak yang amat cantik. Ia tinggal bersama ibunya yang sedang sakit keras. Karena ibunya tak lagi bisa bekerja, maka Karenlah yang bekerja. Ia mencuci dan membersihkan rumah para tetangganya.

Akan tetapi uang yang di peroleh sangatlah sedikit. Karen sangat miskin dan ia tidak mampu membeli sepatu, sehingga ia selalu berjalan dengan bertelangjang kaki.

Di kota tempat Karen tinggal ada sebuah toko sepatu. Ibu pemilik toko sepatu itu selalu iba ketika melihat Karen yang berjalan tanpa alas kaki.

“Kasihan anak itu, aku akan membuatkan sepasang sepatu untuknya” batin ibu itu. Lalu ia membuatkan sepasang sepatu merah untuk Karen.

“Indah sekali, terima kasih bu!” Karen tak bisa menahan rasa gembiranya. Lalu ia bergegas pulang karena ingin memperlihatkan sepatu barunya kepada ibunya.

“Sepatu yang sangat cantik…benar-benar bagus…” kata ibunya dengan suara kecil yang terbata-bata. Setelah itu ibunya menutup mata perlahan-lahan.

“Ibu, ibu kenapa? Ibu!!!” Karen terus menangis sambil memanggil-manggil ibunya.

Tiba saat hari pemakaman.

“Seharusnya aku memakai sepatu hitam, tapi aku tidak punya uang untuk membelinya. Tak mungkin pula aku bertelanjang kaki pada saat upacara pemakaman.” kata Karen dalam hati.

Dengan sangat terpaksa ia menggunakan sepatu merahnya.

“Indahnyaa” lirihnya dalam hati penuh rasa bangga.

Pergilah Karen ke pemakaman ibunya dengan sepatu merahnya. Orang-orang terkejut melihat Karen berjalan di samping peti jenazah dengan sepatu itu.

“Anak yang aneh, memakai sepatu merah pada saat upacara pemakaman” gumam mereka keheranan.

Karen tahu bahwa itu tak pantas, tapi apa boleh buat hanya itu sepatu yang ia miliki. Ia tak ingin bertelanjang kaki di hari pemakamam ibunya.

Di tengah jalan di seberang makam, lewatlah sebuah kereta kuda yang besar. Tiba-tiba kereta itu berhenti dan turunlah seorang nenek yang kelihatannya kaya. Nenek itu merasa iba melihat Karen sebatang kara.

“Bolehkah saya memelihara anak ini pak pendeta?” pinta nenek itu.

Tentu saja pak pendeta mempebolehkannya. Ia justru amat bahagia karena kehidupan Karen tejamin.

Karen mengira berkat sepatu merahnya, namun dugaan Karen salah. Saat melihat sepatu yang dikenakan nenek itu malah berkata ,“Kau tidak boleh memakai sepatu merah saat pemakaman” Karen menurutinya dan segera membuangnya.
Sejak itu Karen dibesarkan dengan kasih sayang. Ia tumbuh menjadi gadis yang cantik, siapapun akan mengakui kecantikannya.

Suatu hari nenek mengajak Karen ke toko sepatu untuk membeli sepatu hitam. Tapi Karen justru bertarik kepada sepasang sepatu merah.

“Sepatu merah yang indah! Aku pilih ini saja. Nenek pasti tidak tahu. Penglihatannya ‘kan sudah kabur.” Kata Karen.

Ternyata benar dugaan Karen. Nenek tidak mengetahui warna sepatu yang dibelinya.

Keesokan harinya, Karen pergi ke gereja dengan sepatu merah. Orang-orang terkejut melihatnya.

“Ya ampun gadis itu datang ke gereja memakai sepatu merah…” kata orang-orang membicarakannya. Sementara orang lain berdoa dan mendengarkan pendeta, Karen hanya berpikir tenteng sepatu merahnya.

Upacara doa selesai. Saat nenek dan Karen hendak pulang, seseorang memberitahukan nenek tentang sepatu merah yang digunakan Karen.

Nenek amat sangat marah. Setelah itu Karen berjanji kepada nenek untuk tidak memakai sepatu merah ke gereja lagi.

Namun, pada minggu selanjutnya Karen mengulaginya lagi.

Di depan gereja berdiri seorang prajurit yang sudah tua. Ketika meihat Karen menggunakan sepatu merah, didekatinya Karen dengan wajah yang menakutkan. “Sepatu merah melekatlah pada kaki anak itu dan menarilah!” katanya pada sepatu merah.

Karen berpura pura tak mendengar. Lalu ia masuk ke gereja, dicobanya berdoa dengan khusyuk, tapi pikirannya masih tetap kepada sepatu merah. Tak lama kemudian, upacara doa pun berakhir.

Saat Karen hendak naik ke kereta kuda, prajurit yang tua mendekatinya lagi.

“Sepatu merah, menarilah!” teriaknya.

Tiba-tiba saja Karen mulai menari tanpa kendali. Sepatu merah membuatnya berputar-putar tanpa dapat di kendalikan.

“Aa…. Tolooong !!” teriak Karen ketakutan.. Karen berusaha menghentikannya, tetapi sepatu merah tetap menari sesuai kehendaknya sendiri.

Para pejalan kaki berusaha membantu Karen melepas sepatunya. Namun sepatu merah itu menendang-nendang mereka, juga nenek. Karen bertambah bingung. “Buang saja sepatu itu” teriak nenek saking marahnya.

Suatu hari datang undangan pesta dari istana. Saat itu nenek sedang sakit keras, dan Karen harus merawatnya. Namun, Karen ingin sekali datang ke pesta itu. Nenek yang baik hati, mengizinkan Karen pergi.

“Karen, jangan pakai sepatu merah itu.. bagaimana bagusnya…” pesan nenek.

Akan tetapi Karen tidak mempedulikannya. Ia tetap memakai sepatu merahnya, dan pergi ke istana meninggalkan nenek yang sedang sakit.

Sesampainya di istana, Karen langsung diajak oleh pangeran untuk berdansa dengannya.

“Benar-benar seperti mimpiii…” kata Karen dengan bangga..

Sepatu itu membawa Karen menari tanpa henti lagi. Dengan kemauannya sendiri sepatu itu berputar ke kanan dan ke kiri dengan semaunya. Itu sama sekali bukan tarian yang indah. Pangeran dan tamu lainnya terkejut melihatnya.
Karen berusaha menuruni tangga istana. Sepatu merah itu terus menari tanpa kendali.

“Tolong lepaskan sepatu ini!” teriak Karen.

Tak seorang pun dapat menghentihan Karen. Mereka hanya bisa melihat Karen dengan perasaan iba.

Sambil terus menari, ia masuk ke rima yang gelap. Disana ia betemu dengan prajurit yang sama.

“Hey, sepatu merah menarilah lebih cepat” teriak prajurit itu.

“Aku mohon hentikan” teriak Karen.

Namun sepatu merah itu menari lebih cepat dan membawa Karen menari sampai berhari-hari.

Akhirnya sampailah Karen di sebuah makam. Disana sedang ada upacara pemakaman. Ternyata itu adalah upacara pemakaman nenek yang telah merawatnya.

“Nenek maafkan aku, aku telah meninggalkanmu.” Ratap Karen dalam hati.

Malam hari telah tiba, Karen terus menari melewati duri-dri semak yang telah menusuk badannya.

“Sakiit…! Toloong…! Maafkan aku!” teriak Karen. Sepatu merah itu membawa Karen ke sebuah pondok penebang kayu.

“Aku mohon potong kakiku. Jika tidak dia akan terus membuatku menari.” Pinta Karen kepada penebang kayu sambil menangis. Tanpa bisa berbuat penebang kayu itu memotong kaki Karen. Kaki yang terpotong itu masih menari dan masuk ke hutan rimba.

Akhirnya tubuh Karen berhenti bergerak. “Terima kasih, Tuhan. Aku ini hanyalah anak jelek yang mementingkan diri sendiri” sesal Karen dalam hati.

Penebang kayu itu merasa iba melihat Karen, dan ia membuatkan Karen sepasang kaki palsu yang terbuat dari kayu. “Mulai sekarang, jadilah anak yang baik” kata Penebang kayu kepada Karen.

Karen kemudian kembali ke gereja dan bekerja tekun disana. Bila pekerjaannya telah selesai, ia berdoa pada tuhan dengan sungguh-sungguh. Ia selalu mendoakan neneknya dan tak lupa mohon ampun atas segala kesalahanya.

Setiap hari ia berdoa dengan hati yang bersih. “Nenek, aku ingin menjadi anak yang baik,” janjinya didepan makam neneknya.

Pada suatu hari, datanglah seorang bidadari di hadapan Karen. “Karen kau telah menjadi anak yang baik, tuhan telah memaafkanmu,”kata sang bidadari.

Kebaikan hati Karen telah sampai ke surga. Di hadapan Karen kini tampak jalan yang bersinar. Jalan itu menuju surga. Mata Karen berkaca-kaca Karen bahagia. Dengan wajah bersinar ia naik ke surga bersama sang Bidadari.

[cerita dengan beberapa perubahan diambil dari sini]

Cover Buku  "Sepatu Merah" Sumber Gambar  : http://komikarea.blogspot.com/

Cover Buku
“Sepatu Merah”
Sumber Gambar :
http://komikarea.blogspot.com/

 

***

Weekend adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu olehku ketika masih kelas 1 SD. Karena  weekend adalah waktu bertamasya ke pantai Sanur/ Kuta atau pergi  mengunjungi rumah uwak dan bibiku. Suatu hari, di hari weekend tak seperti biasanya orang tuaku tak mengajak bepergian. Ooh mungkin papah lagi ada kerjaan di kantor, begitu pikirku saat itu.

Hari berganti dan malam menjelang. Tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar di pintu

tok..tok..tok..

Aku yang sedang menonton TV kaget melihat siapa yang datang.

Bi Ntun?

Ya, dia adalah tanteku (adik dari mamah). Tak seperti biasanya dia datang ke rumah kami, karena biasanya kami yang mengunjungi tempat kosnya.

Entah apa keperluannya saat itu, yang pasti aku sangat senang dia datang ke rumah kami. Sambil melepas lelah mamah dan bi ntun pun ngobrol ngalor ngidul. Waktu menunjukkan pukul 8 malam, mamahku langsung menyuruhku untuk tidur. Aku heran, padahal aku biasa tidur paling malam jam 9.. Alih-alih aku beranjak untuk tidur, aku malah merapat mendekati bibiku tersebut.

“Sudah teh, gak apa-apa. Mungkin Icha kangen. Lagian besok kan hari minggu, masih libur sekolahnya.”

Aku yang merasa dibela olehnya, langsung menghambur ke pangkuan tanteku tersebut. Dan mamah pun meninggalkan kami berdua di ruang TV.

Aku memang merindukan bi Ntun. Selain kami akrab, bi ntun lah orang yang pertama kalinya mengenalkanku dan mengakrabiku dengan buku-buku saat aku pertama kali bisa membaca.

“Teh Icha, lihat! Bi Ntun bawa apa?”

“Ah! Snow White?” teriakku kegirangan.

“Iya, mau dengar ceritanya?”

“Mau!Mau!”

Cerita pun mengalir dari bibirnya dan aku sungguh terbuai dengan ceritanya. Sungguh menarik! Bi Ntun benar-benar bisa membuatku merasa aku lah si snow white itu. Aku tak tahu sudah berapa lama aku berada di pangkuannya, karena yang kutahu saat pagi aku sudah berada di kamarku.

Bi Ntun memang tante yang berbeda. Jika saat ulang tahun saudara-saudaraku memberiku hadiah mainan, boneka atau baju. Bibi yang satu ini tak pernah melewatkan untuk  memberi hadiah buku cerita. Bi Ntun lah yang membuatku mengandrungi buku dongeng dan menyukai komik, Doraemon dan Sailoor Moon. Walhasil jika aku bepergian ke toko buku aku pasti membawa pulang buku-buku dongeng atau komik yang tadinya nangkring manis di rak etalasi toko buku tersebut.

Buku yang aku beli tersebut, selalu aku bawa jika kami berkunjung ke tempas kost bi ntun. Aku selalu suka bi Ntun membacakan buku ataupun mendongeng. Ya, walaupun mamahku kadang-kadang membacakan cerita saat aku akan beranjak tidur dari buku-buku yang kumiliki. Namun kekhasan bi Ntun bercerita sangatlah berbeda dan membawa semangat yang luar biasa..

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Tibalah saatnya bi Ntun untuk menikah. Kecintaannya kepada buku membuatnya berjodoh pula dengan seorang lelaki yang mencintai buku juga. Mereka sama-sama bookcholic. Tak ayal, ternyata kecintaan mereka terhadap buku menurun kepada anak-anaknya yang kini sudah berjumlah empat orang.

Kisah Cinderella, Putri Tidur, Snow White, Si 3 Babi Kecil, Pinokio, Putri Duyung, Si Itik buruk Rupa. Legenda Malin Kundang, Bawang Merah dan Bawang Putih masih terekam dalam ingatanku hingga kini dan bagaimana bi Ntun membacakan atau menceritakan kisah dongeng saat aku masih kecil tersebut.

Hingga suatu hari, saat aku kelas 4 SD tahun 1996, saat kami pindah dari Bali ke Bandung mama membelikan buku  untukku.  Buku dongeng “Sepatu Merah”. Aku sangat senang dengan kisah Karen, sang pemilik sepatu merah karena ini adalah buku yang dibelikan pertama kalinya oleh mama  (kebanyakan yang lainnya adalah hadiah). Hobiku membaca buku -buku dongeng terpantik karena bibiku yang bookholic.

 Buku dongeng Sepatu Merah karya Hans Christian  Andersen (HC. Andersen) terus kubaca atau aku minta mama untuk mendongengkan saat aku akan beranjak tidur. Dongeng Sepatu Merah tersebut juga kudengarkan setiap hari setiap paginya sebelum berangkat sekolah atau pada sore hari selepas aku mengaji di madrasah. Kenapa di dengarkan? Ya, karena  buku ini juga dilengkapi dengan kaset dari kisah tersebut.

Aku sungguh-sungguh bisa mendengar kegembiraan yang dirasakan oleh Karen saat ia mendapat sepatu merah baru yang dibuatkan oleh ibu pemiliki toko, “Indah sekali, terima kasih bu!” Karen tak bisa menahan rasa gembiranya. Demikian juga merasakan lirihnya ibu Karen saat Karen menunjukkan sepatu merah barunya tersebut, “Indahnyaa” lirihnya dalam hati penuh rasa bangga.

Saat nenek angkat Karen melarangnya, “Kau tidak boleh memakai sepatu merah saat pemakaman”. Juga pandangan sinis orang-orang yang melihat Karen memakai sepatu berwarna merah ke gereja, “Ya ampun gadis itu datang ke gereja memakai sepatu merah…”

Semuanya sungguh terasa hidup. Aku hanyut dan dapat  merasakan dalam dunia Karen. Selain intonasi bicara para tokohnya yang benar-benar seperti hidup juga iringan musik yang menyertainya.

Ketika prajurit yang ditemui Karen dan neneknya di gereja, dan kemudian berkata, “Sepatu merah melekatlah pada kaki anak itu dan menarilah!”. 

Saat Karen hendak naik ke kereta kuda, prajurit yang tua mendekatinya lagi.

Setelah itu iringan musik yang menyertainya berbunyi Jreng..jreng… disertai musik khas klsik jaman Eropa kuno. Bunyi yang sungguh sangat di dramatisir. “Sepatu merah, menarilah!” teriaknya.

Dan sungguh sangat menakutkan saat Karen bilang,“Aa…. Tolooong !!” teriak Karen ketakutan.. Karen berusaha menghentikannya, tetapi sepatu merah tetap menari sesuai kehendaknya sendiri. Dan suara sepatu yang berbunyi ketoplak..ketoplak.. suara sepatu yang menari-nari.

Semangat dan rasa cintanya bibiku pada buku juga menulariku, hingga setiap bulan  aku selalu meminta mama (jika ada uang belanja lebih) untuk membelikan buku-buku dongeng baru.

Sejak aku mengandrungi kisah dongeng “Sepatu Merah”  dan terus memutar ulang kasetnya, saat itu juga aku tak mau menjadi seperti Karen. Karen, seorang anak yang nakal dan egois juga tak mau menurut pada orang tuanya. Selain itu juga ia berbohong dan tak menepati janjinya, karena neneknya melarangnya untuk memakai sepatu merah namun ia tetap memakainya.

Dongeng sepatu merah mengajarkan aku akan nilai-nilai hidup. Sejak itu, aku gak mau jadi anak yang nakal, aku gak mau memaksakan kehendakku kepada orang tua, aku gak mau menjadi orang yang ingkar janji, orang yang suka berbohong dan  juga tak mau menjadi anak yang tak serius saat beribadah.

Aku takut jika aku berbuat kesalahan seperti yang dilakukan oleh Karen, maka sepatu-sepatu yang aku kenakan terus menari-nri tanpa henti. Selain itu, aku pun jadi takut sama sepatu berwarna merah karena takut jadi seperti Karen..

Tulisan ini disertakan dalam Giveaway “Semua Tentang Dongeng Anak” 

Iklan

4 comments on “[Give Away] Gara-gara Sepatu Merah

  1. jampang
    April 12, 2014

    dongeng yang baik adalah dongeng yang memberikan pelajaran baik kepada yang mendengarnya

  2. Muhammad Lutfi Hakim
    April 12, 2014

    semoga sukses GA-nya,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 11, 2014 by in Tulisan untuk Lomba Blog dan Give Away.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 39,597 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: