My Corner (Happy Think, Happy Life)

Mamahku Bukan Mamah Biasa

“Teman-teman.. nanti sebelum tidur ngumpul di kamarku ya.. Mamahku bawa banyak makanan nih, buat teman-teman di asrama.”

“Asyikk!!”

Tak beberapa lama kemudian, beberapa temanku datang ke kamarku di lantai 2.

“Wah,  mamah teteh tadi datang? kok gak ketemu sih?”

“Oh iya? aku juga gak ketemu ma kamu kok, Delta. Kamu tadi makan di mana?”

“Hehe, iya sih. Aku tadi ke warteg, makan di sana. Gak makan di masjid.”

“Ya, itulah makanya kamu gak ketemu ma aku dan mamahku.”

“Ya, padahal aku kangen banget ma mamahnya teteh.”

Aku pun hanya tersenyum manis.

“Iih, enak banget ya punya mamah kayak mamahnya teteh. Tiap minggu selalu ditengokin ma mamah ke sini, bawa makanan yang banyak lagi. Asyik kan kita jadi kebagian makanannya terus. Aku jadi kangen sama mamahku di Tulung Agung.” Timpal Hasanah temanku yang dari lantai 1.

“Mamah, si teteh mah emang mamah gaul. T.O.P. B.G.T lah, pokoknya!” sambung Yuyun.

“Lho, kok mamah Gaul?”

“Iya, dong. Mamah teteh Gaul Abis. Soalnya dia berani banget naik motor sendirian ke sini bawa makanan tiap minggu buat anaknya terus pulangnya malam. Kayak pembalap deh, pokoknya”

“Iya, mamahnya si teteh kan. Mamahnya kita semua.” Kata semua teman-teman yang sedang berkumpul di kamar saat membongkar “harta karun” kami.

***

Saat itu, September 2005 hingga Februari 2006. Selepas SMA aku mondok di pesantren Daarut Tauhiid. Pesantren yang dijuluki “bengkel akhlak” milik Aa gym adalah tempat pertamaku meneruskan pengalaman hidupku sebelum melanjutkan ke jenjang kuliah.

Ketika itu, bukannya aku tak mau meneruskan kuliah selepas SMA. Ujian SPMB sudah kuikuti. Dua jurusan pilihanku, Pendidikan Bahasa Jepang dan sastra Arab di dua universitas negeri ternama di Bandung menjadi harapanku. Berharap salah satunya kumasuki untuk meneruskan cita-citaku.

Segala kemampuan dan optimisme diri kumunculkan, berpeluh asa kukerahkan. Dan aku sangat berharap langsung masuk kuliah, namun di sisi lain papahku berharap lain.

Papah pingin teteh pesantren dulu, baru kuliah.

Ah, tapi saat itu aku tidak langsung menyetujuinya.  Aku tetep keukeuh untuk ikut ujian SPMB, walaupun papah tak menginginkannya.. Aku berjanji dalam hati

Kalau aku gak lulus SPMB baru aku mau masuk pesantren.

Akhirnya papah pun membiarkanku untuk mengikuti ujian. Walaupun papah tak merestuiku, namun beliau tetap dengan senang hati mengantarku untuk mengecek tempat sehari sebelum pelaksanaan SPMB.

Tak beberapa lama kemudian, pengumuman hasil SPMB pun diumumkan. Aku yang dengan semangat 45,  tanpa mandi dahulu dengan berpakaian piyama.. langsung pergi ke jalan untuk membeli surat kabar yang memuat berita pengumuman tersebut.

Setelah membeli koran, aku langsung membawanya ke rumah. Aku tak mau berita gembira ini aku yang nikmati sendiri. Apalagi kalo aku dilihat orang berjingkat-jingkatan, wuiih.. bisa-bisa aku disangka orang stress.

Dengan tidak sabar, sesampainya di rumah aku langsung buka surat kabar tersebut. Kucari-cari namaku diantara ribuan peserta SPMB yang ikut. Tapi namaku tidak ada. Wah, jangan-jangan ini salah. Masa namaku gak ada. Pikirku saat itu. Kubolak-balik terus, hingga tiga balikan. Namun, namaku tetap saja tidak ada.

“Yah.. nama teteh gak ada. Gak lolos.”

“Alhamdulillah doa papah terkabul” aku pun langsung menoleh ke sumber suara.

Papah? 

Ya, Ternyata  ada papah dan mamah yang sedang sarapan, diam- diam memperhatikanku yang sedang serius melihat hasil pengumuman.

Deg! Aku kaget setengah mati. Ternyata memang doa  papahlah yang terkabul.

“Gimana teh? jadi ke DT?”

“Ya pah. Teteh mau ke DT.” Jawabku dengan wajah tertunduk dan badan yang lesu.

Ya, Allah.  Kalo keputusanku ini adalah keinginan orang tuaku dan engkau meridhoinya, maka lancarkan keputusanku.

Dengan bismillah, aku pun maju ke “medan laga”

***

Selama pelatihan/nyantri enam bulan disana, di bulan-bulan pertama aku merasa tersiksa. Bagaimana tidak, kami diharuskan bangun jam 4 pagi, solat di masjid. Kemudian paginya (jam 6 pagi) pulang ke asrama untuk bersiap-siap dan membereskan serta membersihkan asrama. Sekitar jam delapan kami harus berangkat ke tempat belajar. Jam belajar dari jam 8 pagi hingga jam 10 malam. Ya, sungguh sangat melelahkan. Apalagi di bulan-bulan pertama ini, kami dilatih fisik dan disiplin yang sangat tinggi, semuanya serba dihitung dan di menit. Sungguh sangat membuatku tersiksa dan stress.

Namun, untunglah kehadiran mamah setiap malam Jum’at saat pengajian membuatku bangkit kembali.  Stressku agak terobati dan menjadi sosok yang amat kurindukan kehadirannya.  Apalagi mamah gak pilih-pilih kasih kalo datang ke tempat belajarku. Bila ada teman yang duduknya dekat dengan kami saat makan, mamah selalu mengajak teman-temanku untuk makan bersama. Sehingga mamah disukai oleh semua teman-temanku (yang perempuan) dan semua pembimbingku dan akrab dengan mereka.

Pernah aku bertanya pada mamah suatu hari, “Mah, mamah gak cape setiap malam jum’at kesini terus pas Ramadhan hampir setap malam ke sini?”

“Gak teh, mamah gak cape. Justru ini hiburan buat mamah. Mamah seneng banget bisa sering-sering nengokin teteh.”

Tadinya aku ingin protes atas sikap mamah yang berlebihan ini padaku. Namun, keprotesanku tak jadi aku ajukan setelah mendengar jawaban mamah tersebut.

Aku juga pernah tanya sama papah, “Pah, papah gak marah hampir tiap malam mamah datang sendirian ke DT bawain teteh makanan? Kan pulangnya malam, pah?”

“Gak teh, gak apa-apa.  Itu kan keinginan mamah sendiri. Kadang papah menawarkan untuk diantar, tapi mamah gak mau.”

Ya, Allah segitunya pengorbanan mamah.

Bayangkan, mamah menengokku sendirian tanpa ditemani papah hanya dengan naik motor. Berangkat sore dari rumah, dengan perjalanan selama satu jam. Disana mamah bertemuku hanya satu dua jam saja, dan pulang selepas Isya atau setelah shalat tarawih.

Karena supelnya mamah, setelah lulus dari DT pun beberapa teman-teman santri, baik lelaki maupun perempuan sering main ke rumah. Mereka sering curhat pada mamah.  Teman-temanku yang lainnya, bila  ketemu denganku di jalan atau mereka menelepon pasti yang ditanyakannya adalah, “Gimana mamah sehat? atau “Apa kabar mamah di Bandung?” Dan terakhir “Salam yah buat mamah.” Ya, mamahku memang jadi mamah kedua bagi mereka yang berjauhan dari mamahnya.

Tak hanya itu saja, selepas aku lulus dari pesantren selama enam bulan tersebut. Mamah juga dengan suka rela tanpa absen mengantar jemput aku ke kampus (kampus Swasta jurusan Bahasa Arab)  pada semester empat. Gara-garanya saat itu, mamah tahu kalo aku mulai ngedrop kuliah sejak awal semester. Aku merasa tak bisa mengikuti pelajaran pada enam bulan pertama.

“Mah, teteh gak kuat kuliah disini. Harus pakai bahasa Arab mah. Apalagi kalo di kelas, teteh selalu gak bisa jawab. Malu mah. Teteh gak bisa nerusin mah.”

“Teteh jangan gitu. Itukan udah keputusan teteh buat nerusin kuliah di sana. Masuk kuliah pake uang teteh sendiri hasil ikhtiar selama di DT. Masa mau disia-siakan? Teteh  harus tanggung semuanya.”

Aku pun mulai bangkit, walaupun belum sepenuhnya bangkit. Selain kucurhat sama mamah, aku juga sempat curhat sama temanku. Ternyata jawabannya sama. Dia juga sempat ngedrop, dan tak mau melanjutkan kuliah. Tapi dia akhirnya mencoba untuk kuat setelah dimotivasi oleh salah satu ustadah di kampus.

Ya, atas cerita temanku tersebutlah aku akhirnya mengunjungi salah satu utadzah yang menurutku bisa dicurhati.

“Ustadzah saya mau tanya, saya ini merasa gak bisa buat belajar disini. Susah ustadzah pake bahasa Arab terus. Saya merasa belum bisa, jadi saya hanya diam tak menjawab pertanyaan atau bengong di kelas.  Beruntung kalo ustadzahnya baik, saya masih bisa dimakluminya. Nah kalo pas yang ngajarnya ustdzahnya galak, saya disuruh Tafadhollii Saafir ilaa Baghdad (artinya silahkan kamu bepergian ke Baghdad, ungkapan untuk disuruh maju dan berdiri di depan kelas alias disetrap) terus. Saya merasa malu ustadzah dengan diri saya sendiri.”

Dengan bahasa Arab yang setengah kumengerti beliau pun menjawab, “Kamu jangan merasa malu atau rendah diri. Saya juga yang belajar bahasa Arab selama enam tahun, sampai sekarang masih belum fasih berbahasa Arab. Saya juga belum menguasainya walaupun saya adalah seorang ustadzah disini. Masih harus banyak belajar. Dan kamu jangan khawatir dan takut  belajar Bahasa Arab. Belajar Bahasa Arab itu seperti minum obat. Semakin kamu minum akan terasa semakin pahit. Tapi di kemudian hari kamu akan merasakan khasiat dari obat tersebut. Lama-lama juga kamu akan terbiasa.”

Cess.. kata-kata ustadzahku tersebut betul-betul menggugahku. Dan beliau adalah orang yang sangat rendah hati, padahal setahuku dia itu lulusan terbaik di kampusnya dan seorang hafidhah 30 juz.

Ya, mamah benar. Aku memang harus mempertanggung jawabkan keputusanku ini.

Jadilah aku, pada semester dua dan tiga mulai bersemangat. Hingga di semester empat, hanya tersisa 9 orang yang lulus dari jumlah awal semester 30 orang. Di semester empat ini pula ternyata hanya tersisa 5 orang yang aktif, karena 4 orangnya cuti. Ya, saat itu aku semakin ketar ketir saja. Kesulitan yang kurasakan mengahantuiku lagi.

Melihat semangat belajarku yang mulai berubah, mamah mulai mengantar jemputku. Apalagi bila kebagian shift siang. Pulang jam 7 malam, mamah sudah standby di depan gerbang kampus dengan kostum jaket kulit, sepatu olahraga, bersyal dan berhelm besar serta jupiter X setianya yang nangkring bersama helm untukku.

Ya, perhatian mamah memang menjadi rasa kagum bagi ustadzah dan teman-temanku. pernah temen sekelas berkomentar, “Teh, teteh anak bungsu ya? kok diantar jemput sama mamahnya terus.”

“Bukan teh justru saya anak pertama.”

“Wah hebat banget ya mamah anti, luar biasa!”

Atau salah seorang ustadzah yang menyapaku saat aku baru keluar dari kamar mandi setelah jam kuliah usai.

Hei, Ummuki qod tantadhiruki. Hayya bi sur’ah!, goda beliau.

(Hei, ibumu udah nungguin kamu. Cepetan!)

“Na’am ustadzah syukran!”

(Iya, ustadzah. Terima kasih).

Dan mamahku pun menjadi sangat dikenal di lingkungan kampus dan aku berhasil lulus dengan jumlah murid 5 orang tersebut pada semster 4.

Mamahku juga yang mengantarkanku bertemu dengan mantan calon suamiku dan orang tuanya.

“Mah, tadi kakak nelpon. Alhamdulillah! si kakak mutusin aku. Katanya aku disuruh nyari lelaki yang lebih baik dari dia, takut lama ditinggal dan gak bisa ngasih harapan. Soalnya dia diminta orang tuanya buat megang cabang toko milik orang tuanya di luar kota.” Kataku suatu hari seetlah beberapa bulan  pertemuan dengan keluarga (mantan) calon suamiku tersebut.

“Lho, kok alhamdulillah?”

“Soalnya aku gak sreg sama mamahnya si kakak.”

Selain itu mamahku juga  yang dengan luar biasanya mengantar jemput, mencari pinjaman pakaian dan perlengkapan ke rumah tanteku saat aku syuting sebuah film pendek di MQ TV.

 

Kedekatanku dengan mamah sempat membuat cemburu adik sepupuku.

“Enak banget deh kamu punya mamah yang selalu bisa nganter kemana-mana saat kamu membutuhkan”

“Apanya yang enak, Rin? Aku serasa seperti anak kecil aja.”

“Ya enak banget. Aku mah iri sama kamu. Mamah aku mah gak bisa kayak mamah kamu. Kami hanya bisa ketemu saat malam aja, itu pun dalam keadaan lelah atau  pas weekend. Kamu memang anak yang beruntung.”

“Tuh, makanya dengerin Irin. Dia aja pingin punya mamah kayak mamah.” kata mamah tiba-tiba mengagetkan kami berdua.

Ups, kedengeran nih… Aku pun langsung nyengir kuda.

Mamah selalu ada menemaniku. Kami berdua sama-sama besar di jalan. Aku memang selalu dibawa sama “pembalap wanita” ini kemana-mana.  Selain aku penurut dan memang hobi jalan-jalan naik motor (dibonceng, maksudnya), makanya tak heran, jika mamah hendak kemana-mana pasti orang nomor satu yang selalu diajaknya adalah aku. Aku pun amat menyukai gaya mamah mengendarai si Jupiter x nya. Walaupun dengan gaya “Menyetor nyawa”,  namun semuanya membawaku pada keberuntungan tanpa ada kata telat. Bayangkan, perjalanan yang normalnya ditempuh dalam waktu satu jam, ini bisa ditempuh mamah dalam waktu 20 menit. Benar-benar luar biasa kan? Mamah juga yang mengantarku untuk menyelesaikan tugas skripsiku sehingga semuanya selesai tempat waktu.

Sumber Ilustrasi :  kartunmania.com

Sumber Ilustrasi :
kartunmania.com

 

Mamah..mamah, engkau memang patriot sejati dalam hidupku. Yang selalu membawaku pada keberuntungan. Yang selalu mengajarkanku untuk bangkit di kala ku berkali-kali jatuh. Yang mengajarkanku akan kasih sayang dan kedermawanan. Yang mengajarkan akan arti kesabaran dan ketangguhan.. Walaupun seringkali aku tak mengerti akan sikap dari kekurangan mamah dan selalu membekas di dalam ingatanku, namun mamah adalah pahlawanku sampai kapanpun…

Mamah dan Aku Foto : Dokumentasi  Pribadi

Mamah dan Aku
Foto : Dokumentasi Pribadi

PAPAYA

Tulisan ini diikutsertakan pada :

Syukuran di Bulan Maret : Sang Patriot di Kehidupan Kami

 

Iklan

7 comments on “Mamahku Bukan Mamah Biasa

  1. Blogs Of Hariyanto
    Maret 30, 2014

    support seorang mama untuk anaknya yang sungguh luarbiasa…, kisah yang sangat inspiratif….selamat berlomba ya…semoga menjadi yang terbaik…Keep happy blogging always..salam dari Makassar 🙂

  2. nuzulularifin
    Maret 31, 2014

    Setiap ibu yang baik, pastilah beliau seorang patriot sejati bagi anak-anaknya. 🙂

  3. lozz akbar
    Maret 31, 2014

    Patriot ada di mana-mana ya mbak.. Juga pada Mamah Anda. salam hormat saya juga buat Mamah ya

    matur nuwun sudah turut menyemarakkan Tasyakuran Sang Patriot

  4. RZ Hakim
    April 2, 2014

    Terima kasih atas partisipasinya 🙂

  5. puteri amirillis
    April 3, 2014

    Mamahnya hebat ayunda, mendampingi terus aayunda di saat,ayunda butuh kekuatan. Salam takzim u beliau ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 30, 2014 by in Tulisan untuk Lomba Blog dan Give Away.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 41,545 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: