My Corner (Happy Think, Happy Life)

My Most Unforgettable Journey : Dancer On The Muna Island

Ketika kecil, waktu liburan adalah waktu yang paling dinantikan. Liburan saat kenaikan kelas ataupun liburan hari raya. Karena saat waktu liburan, kedua orang tuaku sering kali mengajakku berlibur. Entah berlibur ke pantai, ke rumah uwak, ke rumah tante, temen-temennya mamah dan papah ataupun mudik ke Bandung. Dan hal yang paling dinikmati saat itu adalah bukan ketika sampainya di tempat tujuan melainkan saat di perjalanannya.

Jika ingat dengan perjalanan yang berkesan dan tak terlupakan, aku teringat oleh suatu perjalanan yang takkan pernah kulupakan seumur hidupku. Perjalanan ini tak terlupakan bagiku karena ini merupakan perjalanan pertama yang lokasinya jauh dan tak bersama mamah dan papah, tetapi bersama uwak. Perjalanan ini terjadi pada tahun 1990-an, kira-kira kelas 2 SD.

Sebenarnya sejak kecil aku sudah terbiasa melakukan perjalanan bersama kedua orang tuaku, minimal satu tahun sekali. Kami yang tinggal di tempat rantau, mau tak mau ada kerinduan untuk pulang ke kampung halaman. Mudik! ya, mudik adalah perjalanan yang rutin keluargaku lakukan. Mudik dari Bali ke Bandung, menjadi suatu hal yang amat ditunggu setelah waktu puasa atau liburan tiba. Perjalanan dengan menggunakan transportasi darat dan udara menjadi hal yang menyenangkan bagiku. Tapi aku lebih menyukai perjalanan darat dengan menggunakan bus atau kereta api daripada pesawat. Karena dengan bus atau kereta aku bisa lebih leluasa melihat pemandangan dan bertemu serta berkenalan dengan  orang-orang baru di perjalanan, hal itu berbeda dengan naik pesawat yang hanya melihat pemandangan awan dan laut saja.

Suatu hari, saat liburan kelas dua SD. Aku diajak oleh uwak pergi mengunjungi saudara sepupuku menjadi PTT   (Petugas tidak tetap)sebagai dokter  di  tempat yang jauh dari Bali.

Perjalananku kali ini tanpa ditemani adik dan kedua orang tuaku. Aku diajak oleh uwak haji ( bukan nama sebenarnya, hanya sebutanku kepada kakak perempuannya papah) untuk menemaninya, karena uwak berangkat dari Bali hanya sendiri.

Akhirnya dengan waktu yang ditentukan kami berdua berangkat memakai pesawat dari bandara Ngurah Rai ke Bandara Sukarno Hatta,Jakarta. Disana kami ganti pesawat menuju Ujung Pandang. Perjalanan yang ditempuh dari Jakarta ke Ujung Pandang selama dua jam dua puluh menit. Sungguh perjalanan yang tidak enak, karena waktunya singkat bila dibandingkan dengan perjalanan laut atau darat.

Setelah sampai di Ujung Pandang, kami berdua menginap selama beberapa hari di rumah kerabatnya uwak. Kami berdua makan dan berkeliling kota Ujung Pandang. Aku pikir, saat itu uwak memang sengaja ingin melepas rindu dengan kerabatnya. Namun ternyata baru kuketahui bahwa kita diam disana selama beberapa waktu karena menunggu jadwal pemberangkatan kapal laut yang akan membawa kami ke tempat saudaraku tersebut.

Beberapa hari kemudian, kami pun harus berangkat untuk menyebrang. Dengan diantar kerabat uwak ke pelabuhan kami menaiki kapal  yang besar.

Sumber Foto : penumpangpelni.blogspot.com

Sumber Foto :
penumpangpelni.blogspot.com

“Wak, kita naik kapal pesiar yah? Kita mau keluar negeri? kataku pada uwak karena kagum melihat kapal raksasa di depan mata kami.

“Bukan teh, ini kapal yang mau kita naiki ke tempatnya teh Nanin.” jawab beliau sambil tersenyum.

Asli, kapal ini. Gede banget. Beda banget dengan kapal ferri yang biasa aku naiki jika aku mudik.

Saat pertama kali kulihat kapal raksasa itu, ada tulisan KERINCI. Oooh, ada kapal  yang namanya Kerinci yah?Lhoh bukannya Kerinci itu nama gunung ya? sebuah pertanyaan yang polos yang  saat itu tiba-tiba muncul di benak masa kanakku. Dan nama kerinci itu masih menempel kuat di dalam ingatanku hingga saat ini.

Aku kagum dengan kapal kerinci ini. Kapalnya terlihat cantik pada malam hari (kami naik kapal selepas Maghrib) karena dihiasi oleh banyak lampu.  Ya seperti inilah kira-kira, gambarnya :

Mirip gak yah sama kapal Titanic?

Sumber Foto :  www.google.com (fuh.my)

Sumber Foto :
http://www.google.com (fuh.my)

Ternyata kapal Kerinci ini tidak hanya besar di luarnya saja, namun juga bagian dalamnya juga. Ada beberapa lantai di dalam kapal ini.

Ketika pertama kali kami masuk, kami memasuki ruangan yang mana banyak orang yang sudah menempati “lapak”nya  sendiri dan tidur bergelimpangan kayak bandeng. Ooh, gak beda jauh ternyata dengan kapal Ferri, semuanya tidur di lantai. Saat itu aku pikir, kami akan tidur di tempat yang tak jauh dari mereka. Tapi ternyata uwakku terus berjalan dan berjalan hingga meninggalkan mereka yang sudah beristirahat di lantai kapal.

Kami melewati sekitar empat lantai. Akhirya sampailah kami berdua di sebuah lantai. Dan wow! ruangan ini berbeda dengan yang sebelumnya. Jika dilantai pertama tadi kami menemukan orang beristirahat dengan tenang di lantai kapal, ternyata disini tidak. Kami masuk ke sebuah ruangan untuk beristirahat. Dan didalamnya ternyata ada kasur untuk beristirahat, seperti kamar di sebuah losmen.

“Nah, teh. Kita istirahat disini.”

“Disini wak? Asyik ada kasurnya..”

“Tapi wak, kenapa kita ada kasurnya. Sedangkan yang tadi gak?

“Iya teh, Uwak pesan tiket di kelas satu. Kalo tadi namanya kelas ekonomi. Kelas ekonomi gak ada kasurnya, jadi tidurnya di lantai. ”

“Emangnya lama yah wak kita sampainya?”

“Iya teh, baru besok pagi kita sampai.”

Saat kapalnya sudah berlayar, kami pun turun dari kamar untuk “jalan-jalan mencari makan dan “udara segar”. Ternyata setelah kami turun, penumpang di kelas ekonomi sangat banyak sekali. Bahkan semua lantai (kelas satu sampai kelas ekonomi) pun terisi penuh, mungkin kira-kira penumpang kapal ini ada  1000 orang lebih. Ya, persis para pengungsi di kamp pengungsian.  Dan setelah kenyang “berjalan-jalan” kami pun mampir ke toilet di kelas ekonomi,karena aku kebelet pipis. Lucunya saat megantri di kamar toilet kapal, sama sekali aku tak mengerti omongan para penumpang disana, kebanyakan mereka memakai bahasa daerah.

Karena kecapekan, kami pun langsung tidur ketika sampai di dalam kamar.

Esok paginya, kapal Kerinci yang kami tumpangi ternyata sampai di sebuah pelabuhan.

“Teh kita udah sampai, di  Bau-bau.”

“Apa wak,  Ba-bau? Bararau (pada bau) maksudnya?”

“Bukan, tapi namanya Bau-bau. Bau-bau itu nama ibukotanya pulau Buton. Ini kita ada di Sulawesi Tenggara”

“Ooh, gitu.”

“Ya, udah teh kita sarapan dulu yuk. Sambil nungguin uwak kok (bukan nama sebenarnya, hanya sebutanku kepada suaminya uwak haji).”

“Ada uwak kok juga wak?”

“Iya, ada. Uwak kan lagi di Kendari ada urusan kantor. Katanya mau ikut nengok teh Nanin juga. Nah nanti, dari tempat teh Nanin kita sama-sama ikut uwak ke Kendari buat nyelesaikan urusan kantornya, setelah itu pulang.”

Kami pun sarapan. Tak lama kemudian datanglah uwak kok seorang diri dan ikut bergabung dengan kami.

Setelah selesai sarapan, kami pun kembali ke pelabuhan yang tadi.

“Lho, uwak haji kita kok kesini lagi?”

“Iya, kan kita mau nyebrang. Tuh pulaunya teh Nanin di seberang sana. Kita mau ke Mawasangka, di pulau Mina”

“Pake apa wak nyebrangnya?”

“Ini pake perahu ini, namanya perahu Jonson”

Sumber foto :  Wikibooks.org

Sumber foto :
Wikibooks.org

Aku melihat ngeri ke arah perahu ini. Karena bagaimana tidak ngeri, pelabuhan ini anginnya cukup kencang dan menimbulkan gelombang. Sehingga pada saat kapal ini berlabuh, ia terombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Air lautnya pun seolah mau masuk ke dalam kapal dan membuat kapal ini tenggelam.

“Ini? Gak mau ah nanti tenggelam”

“Tenang aja, teh. Kan ada Uwak” Jawab uwak kok sambil menepuk-nepuk dadanya.

Aku pun menurut untuk naik, saat gilirannya tiba.  tapi biar bagaimana pun aku beranikan, kapal itu tetap saja seolah-olah akan tenggelam. Aku yang didalam kapal pun menjerit-jerit dan menangis.

Untung saja, orang-orang di dalam kapal paham dengan anak kecil yang khawatir tersebut. Karena mereka melihat kami bukanlah asli penduduk sini dan baru pertama kalinya kesini.

Ternyata sungguh indah pemandangan saat kami menyebrang. Laut yang menghampar dan pulau yang membentang. Ajaib, kapalnya pun tak tenggelam saat perahunya melaju dengan tenaga motor.Di tengah perjalanan, aku melihat suatu pemandangan yang menakjubkan.

Itu? Itu lumba-lumba?

Ya, aku yakin itu adalah lumba-lumba, seperti yang pernah kulihat di pertunjukan sirkus. Sejauh mata memandang, gerombolan lumba-lumba itu menampakkan dirinya ke permukaan. It’s beautiful. Mereka pintar sekali “menari”.. Kehadiran mereka seolah menyambut kedatanganku ke pulau ini.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam perjalanan laut, kapal pun sampai di pulau yang kami tuju. Selama di perjalanan pemandangannya sungguh indah.

Setiba kami di pelabuhan, kami dijemput dengan mobil ambulans (karena tidak ada mobil lainya, hanya mobil itu yang ada dan digunakan untuk transportasi).  disambut dengan ramah oleh teman-teman saudara sepupuku yang asli orang sana.

Seneng banget bisa tinggal disana selama beberapa hari. Walaupun terkesan gersang dan panas (karena dekat pesisir pantai), Alamnya masih asli dan “perawan” . Setiap sore aku selalu diajak naik sepeda ke pantai dekat pelabuhan sama temennya suadaraku.

Sumber Foto :  beacbaubau.blogspot.com

Sumber Foto :
beacbaubau.blogspot.com

Ya, walaupun ada kejadian yang gak menyenangkan disana. Beberapa kali aku melihat pasien yang terkena anjing gila, dan parahnya aku hampir dicium sama orang gila saat aku main ke puskesmas tempat teteh bekerja.

Disana, kami tak lama. Mungkin hanya sekitar seminggu,karena  berangkat kembali ke Kendari karena urusan uwak kok belum selesai.  Dan hanya sekitar dua hari kami di Kendari, kami pun harus pulang ke Bali dan singgah kembali ke pulau Muna.

Dengan menggunakan perahu Jonson yang kami tumpangi, dari Pulau Muna kami menyebrang menuju Bau-bau (Pulau Buton) dan kembali ke Ujung Pandang.

Selama di perjalanan aku melihat lagi mereka. Mereka menampakkan diri kembali ke permukaan. Jumlahnya kali ini lebih banyak dari sebelum kami datang ke pulau Muna. Seolah mereka kali ini menarikan tarian perpisahaan.

Sayangnya, aku tak punya semua dokumetasi ketika ke pulau Muna dan para lumba-lumba itu. Walaupun semua kenangan perjalanan ini dokumentasinya ada di uwak, namun semua kenangannya akan selalu terkenang di dalam hati.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Unforgettable Journey Momtraveler’s Tale”

GA Mom Traveller 14 April 2014

Iklan

13 comments on “My Most Unforgettable Journey : Dancer On The Muna Island

  1. edi padmono
    Maret 19, 2014

    Pada awalnya saya juga takut dengan naik transportasi air walaupun saya bisa berenang. Tapi sekarang sangat merindukannya….

  2. Editha Prananti
    Maret 20, 2014

    kerenn..liat lumba2 di laut lepas..sekarang masih ada ga ya..
    teh icha masih ingat dgn jelas pengalaman masa kecil..aq udah banyak yg lupa..udh banyak pikiran hehehee

    • ayundaslamet
      Maret 20, 2014

      hhehehe.. alhmdulillah masih inget teh Editha..

      Apa kabar teh Editha?

  3. Reza Maulana
    Maret 20, 2014

    nice post 😀

  4. eruvierda
    Maret 20, 2014

    owh di deket BauBau tho…. searching gambar2nya di google bagus ^_^

  5. momtraveler
    Maret 25, 2014

    yah sayang nggak ada foto2 pulau Muna ya mbak ..tapi seru banget bisa liat lumba-lumba 🙂
    makasih ya, sudah terdaftar sebagai peserta 🙂

  6. Rohyati Sofjan
    April 3, 2014

    Teh, ternyata perjalanan paling mengesankan kita alami kala kanak-kanak. Tapi Teteh hebat deh, bisa ngabolang kala kelas 2 SD. Belajar mandiri. Keluar pulau yang jauhhh banget. Subhanallah, bisa menghayati keindahan alam Indonesia dan semoga pula menumbuhkan rasa cinta pada tanah air. Wow, belum pernah lihat lumba-lumba, naik kapal pesiar, apalagi kapal terbang. Ngebayangin seorang anak kecil yang melakukan perjalanan tanpa rewel merupakan nilai plus. Selamat ya, Teh. Ceritanya mengesankan. Layak menang GA. Semoga. Aamiin. Salam kenal juga.
    Sekadar catatan, bagaimana pun disatukan jadi bagimanapun. Dan semoga nanti tak ada kesalahan dalam menulis tanda baca atau EYD lainnya. Bisa membedakan kata depan dan imbuhan.

  7. Ping-balik: Daftar Peserta Momtraveler Giveaway | Momtraveler's Tale

  8. Fathur Rosiy
    April 15, 2014

    Hi! Yuk, ikuti giveaway pertama saya bertajuk Take Me Home. Menangkan CD Original One Direction dan pulsa total IDR 50k. Jangan sampai kelewatan yaaa! Thank you. Cek: gebrokenruit.blogspot.com/2014/04/giveaway-take-me-home.html

  9. Uniek Kaswarganti
    April 20, 2014

    jauh sekali ya perjalanannya. pengalaman yg sungguh luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 18, 2014 by in Tulisan untuk Lomba Blog dan Give Away.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 41,175 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: