My Corner (Happy Think, Happy Life)

Bangga Itu? Sesuatu..

Aku itu sejak kecil orangnya pemalu dan agak cenderung tertutup. Lebih senang menyendiri daripada berkumpul. Bahkan disaat berkumpul dengan keluarga besar mamah dan papahpun aku seringkali berdiam diri di kamar, atau mengekor dengan setia kemanapun mamah pergi. entahlah, aku saat itu merasa sangat rendah diri. Aku merasa orang-orang tidak “menerima” dengan keadaan diriku. Keadaan diriku yang bertubuh besar. Diantara sepupu-sepupuku bahkan adik-adikku hanya akulah yang bertubuh besar.

Rendah diri tingkat dewa tersebut membuatku tak mau mengenal lebih jauh dengan dunia luar. Aku tak mau bertemu dan berkumpul dengan keluarga besar mamah dan papah, teman-temanku. Aku hanya memiliki beberapa teman saja yang kuanggap mereka mau menerima apa adanya diriku ini.

Keadaan demikian, diperpaarh dengan kondisi diriku. Aku sejak mulai bicara hingga kelas tiga SMP mengalami Gagap. Gagap yang aku pikir hanya aku alami saat berbicara saja dan tidak terlalu sering. Tetapi kenyataannya gagapku ini mengalami keparahannya saat aku kelas tiga SMP. Entah apa penyebab gagapku tersebut. Yang kutahu saat itu aku mengalami dual pendidikan, yang mana aku diurus oleh keluarga uwak dan orang tuaku. Saat aku diurus oleh uwak aku dimanja selayaknya anak kandung mereka sendiri. sehingga aku merasa percaya diri dan bawel. Tetapi saat pengasuhanku kembali ke kedu orangtuaku, aku yang anak pertama dan memiliki satu adik lebih banyak di kasih ketegasan, terutama oleh mamahku. Aku sering sekali dibentak bila aku salah (Aku sering tak mengerti aku salah apa sehingga aku sering dibentak). Dimarahi bila saat diajarin mamah aku sering gak ngerti. Aku seringkali dikunci di dalam ruangan (aku luoa juga, seingatku aku gak nakal-nakal amat kecuali suka mengganggu adik yang masih kecil). Aku suka dipukul dan dicubit. Saat itu aku seringkali berpikir, salah apakah aku ini hingga mengalami  hal tersebut. Saat ini aku berpikir, mungkin mamah saat itu adalah orangtua yang masih muda, belum banyak pengalaman dan sangat capek untuk mengurusi kedua anaknya yang terpaut tiga tahun. Dan oleh sebab itulah jiwaku menjadi labil dan gagap.

Gagapku semakin parah saat aku sedang belajar di dalam kelas, di dalam kelas ketika pelajaran Bahasa Indonesia atau pelajaran apa saja yang menuntut para siswa untuk membacakan soalnya satu persatu. Jika akan tiba giliranku badan dan tanganku akan keringatan. Jantung berdetak sangat cepat seperti orang berlari marathon dan terasa seperti akan copot saja. Aku selalu mencari ketenagan kepada teman sebangkuku, dengan cara minta tolong pundak atau pahaku di tepuk-tepuk jika gilirannya tiba atau temanku tersebut memegang tanganku saat sedang membacakan soal. Beruntung jika teman sebangku adalah anak perempuan, tapi jika lelaki maka aku hanya bisa pasrah dan berdoa saja supaya diberi kelancaran saat membaca. Dan rasanya badanku langsung meriang dan mukaku memerah seperti kepiting rebus. Waktupun terasa amat sangat lambat saja saat itu.

Dan aku makin merasa gak nyaman saja dengan keadaan tersebut, hingga mempengaruhi prestasi belajarku. Hingga suatu hari saat kelas 5 SD, aku mulai belajar mengaji di suatu madrasah di dekat rumahku. Anak kelas 5 SD saat itu sudah mendapatkan pelajaran bahasa Inggris di kelas. Beruntungnya di kelas tersebut aku bertemu dengan seorang guru laki-laki (ustadz) yang masih muda (baru lulus kuliah) yang amat sangat sabar mengajari kami. Dia tahu betul bagaimana caranya mengambil hati dan menggali potensi anak didiknya. Kami semua diperlakukannya istimewa sesuai kemampuan dan bakat kami baik di kelas maupun di luar kelas.Aku merasa dia pun “menerima”ku. Dia sepertinya tak masalah dengan kekurangan yang melekat padaku, sifat gagapku.

Aku pun mulai diajaknya mengikuti berbagai kegiatan lomba atau kegiatan pesantren kilat. Awalnya aku merasa ragu dan merasa tak mampu. Tetapi guruku tersebut seolah mengajarkan kepadaku secara tak langsung “kamu pasti bisa”. Maka sejak itulah aku merasa telah menemukan rasa percaya diriku . Dan ajaibnya penyakit gagapku hilang saat bergaul dengan beliau dan teman-teman di madrasah maupun di lingkungan yang melibatkan beliau. Aku menjadi murid yang cukup menonjol di madrasah tersebut. Aku berprestasi, baik bidang akademik maupun non akademik. Teman-teman dan guru-guru yang baru mengenaliku melihatku sebagai anak yang percaya diri tinggi.  Padahal dibalik itu semua aku memiliki kekurangan, gagap.

Ternyata gagapku ini belum 100% hilang. Aku seolah menjadi bunglon. Di lingkungan madrasah aku adalah murid yang supel, berprestasi. Tetapi saat di sekolah formal aku adalah si anak gagap. Keadaan tersebut berlangsung hingga kelas tiga SMP. Aku pun membenci diriku. Diriku yang seolah memiliki dual kepribadian. Apalagi saat pertengahan kelas tiga SMP, aku kehilangan guruku tersebut. Dia menikah dan resign dari tempatnya mengajar, dimadrasahku dulu. Parahnya dia lupa mengundangku ke acara yang paling berbahagai sepanjang hidupnya tersebut, padahal aku adalah murid kesayangannya. Hal itu membuatku makin terpuruk saja. Aku sempat malas sekolah madrasah (banyak bolos) hingga mamah memanggil ustadzku yang lain membujukku untuk mau masuk kembali ke sekolah madrasah yang hanya satu cawu lagi akan lulus.

Tapi aku gak menyerah, aku harus sembuh. Bicaraku harus lancar. Gak mungkin selamanya aku menjadi gagap, begitu pikirku. Aku pun akhirnya mencoba berdamai dengan diriku. Aku harus bangkit dan terus memotivasi diriku. Akhirnya aku dapat menyelesaikan sekolah madrasahku dengan nilai yang cukup memuaskan.

Kemudian tibalah saatnya diriku untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu SMA. di saat kelas satu SMA aku mengalami pembullyan. Sebenarnya sih tidak hanya aku yang mengalami saja yang mengalaminya, tetapi hampir semua anak yang berkerudung di kelasku mengalaminya. Pelakunya adalah ketua kelaku sendiri. Bentuk pembullyannya tersebut adalah kami tidak diberikan ruang untuk dapat peran di kelas (pelajaran kesenian kami hanya jadi seksi konsumsi saja, dipirnya mbok-mbok apa yah? dan juga aktivitas lain yang berhubungan dengan proses belajar, kami hanyalah dianggap sebagai kaum marginal saja). Ah.. karena efek inilah aku pun kembali ngedrop. Gagapku kembali kambuh.. malunya aku saat itu.

Hingga suatu hari aku bertemu dengan beberapa orang teman dan juga kakak kelas yang membuat hidupku berubah Aku ikut bagian dalam redaksi pembuatan majalah sekolah dan beberaap kegiatan ekskul yang lain, sehingga aku sering pulang hampir menjelang maghrib. Tanpa aturan yang tertulis, kami berenam berkumpul dan seolah ada chemistry .Banyak suka dan duka yang kami alami saat itu. Banyak peran yang harus aku ambil bagian selaam berkumpul dengan mereka. Dan aku merasa menjadi seseorang yang penting dan bermanfaat.  Dan Akhirnya kali ini penyakit gagapku benar-benar sembuh. Yess.. ternyata perjuanganku selama bertahun-tahun membuahkan hasil juga.

Selepas SMA aku kembali dipertemukan Tuhan dengan guru mengajiku tersebut. Dia yang kini sudah menjadi seorang bapak dengan memiliki seorang putra memberikan banyak pelajaran untukku, Aku pun sudah bisa berdamai dengannya yang telah “melupakan” aku dihari baahgianya. Dia memotivasiku kembali agar terus bangkit dan menjadi pemenang di dalam hidup ini. Dia ternyata bukan hanya guru yang baik tetapi juga ayah yang baik. Karena pernah suatu hari temannya menanyakan bagaimana  caranya mendidik anak. Dia dengan bijaknya mengatakan,”Saya akan membiarkannya menjadi anak yang tak mau diam saat dia masih kecil dan mengajarkannya sedikit demi sedikit tanpa pernah melarangnya. Biarkan dia merasa sakit saat terjatuh agar dia dapat menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan. Karena potensi dia terbentuk dari proses dia mengalami sesuatu.”. Its Awesome word!. 

Setelah diberi suntikan motivasi tersebut aku semakin percaya diri saja dalam menghadapi semuanya. Saatnya kuliah adalah saatnya pembelajaran. Masa dimana kita benar-benar belajar menjadi seseorang. Gagapku pun sudah menghilang dan orang takkan pernah tahu aku mengalaminya. Aku yang kuliah saat itu, beruntung sekali bisa masuk kuliah dengan uang kuliah di awal masuk dari usaha kerja kerasku dari berjualan makanan.

Kemudian di semester dua SMAku mengadakan reuni. Aku bertemu dengan salah satu dari enam sahabatku tersebut. Aku menanyakan aktifitasnya apa sekarang. Dia bilang dia membina (mentoring setiap hari Ahad) anak-anak TK dan SD di salah satu mesjid terkenal di  Bandung. Woow itu memang impianku sejak dulu. Aku ingin sekali membina anak-anak saat aku ikut pembinaan di tempat yang sama saat kelas 1 SMA. Aku yang masih kelas satu SMA bertekad ingin memasuki dunia anak-anak dan tidak tertarik dengan almamaterku dunia remaja.

Akhirnya aku yang sejak dari SMA doyan berorganisasi dan  bukan tipe mahasiswi Kupu-Kupu (Kuliah Pulang kuliah pulang) mengikuti jejak temanku tersebut. Hingga aku masuk kedalamnya dan mencandu. Benar-benar amat mencandu. TAk ada waktu libur yang dihabiskan selain datang ke tempat ini walaupun hanya berkumpul dengan teman-teman sesama kakak pembina.

Kedua orang tuaku yang mengetahui hal ini malah menjadi marah. Karena saat aku amat sangat mencandu keadaan ekonomi mereka jatuh. Usaha dagang papahku mulai sepi. Mamah sering marah-marah kepadaku dan sempat melarangku untuk tak datang kecuali hari Ahad saja. Tetapi aku tetap saja keras kepala. Aku yakin dengan keputusanku ini.

Setelah dua tahun aku lulus kuliah diploma dua, aku pun melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, S1. Dengan hanya memakan waktu dua tahun. Aku yang semula ingin kuliah jauh dari orang tua, di Jakarta tidak diijinkannya. ALasannya banjir (saat itu musim Jakarta banjir). Kemudian ada kampus yang direkomendasikan oleh kakak kelasku, tetapi jaraknya sangat jauh dari rumah dan mengharuskan tinggal di Asrama. Papahku setuju dengan keputusanku untuk masuk ke kampius tersebut. Setelah daftar, mamah marah besar. Seakan perang dunia ketiga meletus. Aku dilarangnya kuliah di tempa  tersebut  jika masih mau beraktifitas setiap hari Ahad seperti biasa.

Akhirnya aku menyerah untuk kuliah di tempat tersebut, tetapi tidak dengan mimpiku itu Aku pun mengikuti saran mamah untuk kuliah di tempat yang dekat dari rumah saja dan terus beraktifitas setiap hari Ahad.

Setelah beberapa tahun mengabdi di tempatku beraktifitas, seniorku menawari beraktifitas. Beasiswa aktifis untuk mahasiswa yang keluarganya kurang mampu atau mengalami masalah keuangan saat itu, Dengan nominal Rp. 300.000/bulan cukup membantu biaya kuliahku dan meringankan beban orangtuaku.

Dan tak lama kemudian saat skrispi ada telepon dari admin kampus aku untuk mengikuti seleksi beasiswa kuliah. Dilihat berdasarkan kemampuan ekonomi dan nilai-nilai. Syukur alhamdulillah aku mendapatkan beasiswa tersebut karena ternyata beasiswa terakhir yang aku dapatkan adalah untuk membiayai biaya kuliahku hingga wisuda (jadi sejak skripsi hingga wisuda orang tuaku tidak mengeluarkan biaya sama sekali). Dan akupun lulus tepat waktu.

PAPAYA

Aku si anak gugup (dulu) bisa mengaatsi masalahku dan menggapai impianku.  Dan aku bangga akan hal itu. Bangga itu bagiku adalah Sesuatu.. sesuatu yang membuat kita bahagia dari dalam hati dan tak peduli dengan anggapan orang lain.

trailler video CineUs Book.

 

 

“Di dunia ini hanya ada dua yang patut diperjuangkan, impian dan cinta. Melelahkan sekali kalau kita terus memikirkan pengakuan dari orang lain. Nilai kepuasan itu dari sini (hati) bukan disana (dunia luar)”

 

smartfren

 

 

 

 

Iklan

3 comments on “Bangga Itu? Sesuatu..

  1. lazione budy
    Oktober 17, 2013

    Good luck!

  2. Susanti Dewi
    Oktober 18, 2013

    Waahh… hebat ya, saya salut. Pengalaman hidup yg berharga dan bisa dijadikan pelajaran utk menjalani kehidupan di masa depan.

  3. Karena kegigihan akhirnya bisa mengantarkan pada keberhasilan. Salut ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 17, 2013 by in Tulisan untuk Lomba Blog dan Give Away.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 42,724 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: