My Corner (Happy Think, Happy Life)

Disaat Harus Menikah

“Teh nanti kalo punya suami mau yang kayak gimana?” tanya mamahku suatu hari.

“Teteh mau punya suami yang kayak papah.” Jawabku.

Ya..Aku memang sejak kecil memang meng idola kan Papah. Aku begitu mendambakan seorang suami yang memiliki karakter seperti papahku atau minimalnya mendekati beliau. Papahku yang tegas tetapi lembut, sabar tetapi sekalinya marah membuat kami (anak-anaknya bahkan mamah) begitu takut. Tidak suka berbasa-basi tetapi bila nyambung dengan orang suka mengobrol. Rajin beribadahnya. pekerja keras ulet bertanggung jawab serta sayang terhadap keluarganya. Baik hati suka menolong dan Rajin menabung, ehehh..

Papah yang dengan segala didikan dan arahannya (tentunya berkolaborasi dengan mamah) secara langsung telah menjadikanku seperti sekarang ini. Pokoknya segala sesuatu yang ada di dalam diri papah setidaknya harus ada di dalam diri suamiku nanti.

Pernah juga suatu hari saat aku dan mamah pergi jalan-jalan bersama om dan tante, tante mendoakanku (Aku lupa kejadiannya apa).

“Mudah-mudahan nanti Icha dapet suami yang baik, soleh dan sayang sama keluarganya.”

“Amiin..” Aku pun mengaminkan dengan suara yang lantang dan bersemangat.

Mudah-mudahan juga kayak papah. Tambahku dalam hati.

Dan empat tahun kemudian,  tahun 2010 di bulan Juli bertepatan dengan hari ulang tahunku. Setelah mengalami pendekatan dengan beberapa pria, akhirnya Tuhan menjodohkanku dengan seseorang yang belum pernah kukenal sama sekali. Bahkan di tempat yang tak pernah kuduga sama sekali, yaitu di Fesbuk.

Memang awalnya aku tak terlalu memperdulikan ajakannya untuk menikah. Karena aku baru saja malas berhubungan dengan seseorang yang ditolak oleh kedua orang tuaku. Kita sebut saja oknumnya si X. Kedua orangtuaku gak sreg dengan si X ini. Mungkin mereka berpikir bahwa karakter dan latar belakangnya bakalan gak cocok dengan aku dan keluarga besarku. Dan lebih mengecewakannya lagi, dia ternyata telah melakukan beberapa kebohongan. Belum jadi suami saja udah melakukan kebohongan publik, bagaimana nanti bila sudah menikah? Maka dipastikan aku yang (masih) polos akan jadi sasaran empuk bagi kebohongan-kebohongan berikutnya.

Nah karena orang baru kenal orang ini, apalagi via medsos. Maka aku pun harus lebih berhati-hati lagi. Akhirnya aku banyak bertanya kepadanya. Aku pun meminta fotonya. Karena aku gak munafik, aku takut kalo wajahnya bakalan jelek (Gak bisa memperbaiki keturunan doong..heheh). Aku pun memintanya untuk mengirimkan sebuah foto dan  CV (Curiculum Vitae) via email. Kemudian setelah ia mengirimkan persyaratan yang kuminta,  aku pun membacanya.

Tapi, what? Ternyata lelaki tersebut umurnya terpaut cukup jauh denganku. Tiga belas tahun lebih tua diatasku. Awalnya aku sangsi, tetapi Bismillah. Aku pun memberikan CVnya kepada kedua orang tuaku.

“Mah, pah. Ada yang mau kenalan sama teteh. Ini Curiculum Vitaenya.”

Kedua orang tuaku pun membacanya.

“Teteh kenal dimana?” tanya mamahku.

“Di Fesbuk mah,” jawabku.

“Teteh yakin? Umurnya 13 tahun lebih tua.” Tanya mamahku kemudian.

Aku pun menganggukkan kepala.

Walaupun sebenarnya masih setengah yakin sih.

“Ya udah suruh orangnya ke rumah.” Kata papah kemudian.

Akhirnya setelah beberapa kali membuat janji dengan lelaki yang akan datang ke rumahku kami pun menemui titik temu. Kami sepakat bertemu pada saat hari kedua puluh satu Ramadhan sekalian buka bersama di rumah.

Aku pun menunggunya di depan toko parfum dekat rumah. Kami yang sama-sama belum mengenal dan bertemu secara langsung pun hanya menebak-nebak dari kode pakaian yang kami kenakan sesaat akan bertemu.

Wajahnya yang putih dan pipinya yang merona merah menambah ketampanan lelaki ini saat wajahnya terkena sinar mentari saat senja tiba di depan pintu rumahku.

Aku yang terpesona saat itu ada rasa geli juga, batinku tiba-tiba berbisik

Iih ini cowok kok pakai bedak. Pipinya juga kayaknya pakai blush on.

Proses pertemuan pun terjadi dengan membawa oleh-oleh sebuah parsel chodot dan dua buah buku yang telah dia tulis. Ajaibnya, bukan karena pemberian oleh-olehnya papahku yang biasanya dingin jika kukenalkan dengan teman dekat lelakiku selalu melengos pergi dan seakan tak perduli, kali ini sungguh berbeda. Papah dengan lelaki yang baru saja kami kenal ini langsung akrab, seolah ada chemistry diantara mereka.

“Awas loh teh yang ini nanti boong lagi, apalagi ini kenal di Fesbuk,” celetuk adikku saat aku mengambilkan minuman di dapur.

“Insya Alloh ini mah gak akan Din, Bageur kelihatannya.” Jawab mamahku.

Tiba-tiba nenekku pun keluar dan mendekati kami bertiga yang sedang ada di dapur.

“Ada siapa?” Tanya nenekku pada mamah.

“Ada Calonnya Teteh Ne.” jawab mamah

Nenekku pun melihat dan menemuinya sebentar.

“Tah, yang ini mah ganteng.” Kata nenek kemudian.

Setelah itu lelaki tersebut berjanji akan kembali lagi ke rumah.

Aku yang saat itu ada rasa senang dan bingung menjadi satu. Bagaimana tidak, lelaki tersebut akan melamaarku. Tetapi bingung juga karena aku belum mengenalnya dan usia yang terpaut sangat jauh itu yang membuatku menjadi bimbang.

Aku pun menanyakan pendapat teman-temanku mengenai perbedaan usia yang jauh tersebut.

“Gak apa-apa beda usia jauh juga, berarti lebih dewasa.” Kata si S

“Ihh, gak apa-apa karena setelah menikah biasanya perempuan itu kelihatan lebih tua dari laki-laki. Nanti juga kalo udah menikah malah kelihatannya gak beda jauh umurnya.” Kata si N
Ada lagi yang bilang

“Ya Alloh, kamu mau nikah ama yang lebih tua? Ama om-om gitu?” Kata si Z

Atau yang bilang..

“Hati-hati loh teh kenal di Fesbuk nanti ditipu. Teman aku juga ada yang kenalnya di Fesbuk terus mereka menikah. Tetapi hanya sebulan karena dia merasa ditipu ama suaminya. Terus temanku bilang walaupun udah sebulan nikah tapi katanya dia belum di apa-apain. Ih, kata temanku yang lainnya mah gak mungkin belum pernah diapa-apain apalagi udah sebulan nikah.” Kata si Y

Astaghfirullahal’adziiim.. ini mah bukan ngasih pendapat malah jadi ghibah. Ah.. nyesel deh aku nanya ama si Y ini..

Akhirnya di tengah kegamangan ini aku pun mencari jawaban kepada sang pemilik jawaban. Yup.. aku melakukan sholat istikhoroh, supaya di berikan petunjuk olehNya atas keputusanku ini. Supaya aku gak salah langkah lagi.

“Ya Alloh, Biarlah jika dia berjodoh maka dekatkan dia kepadaku tetapi bila tidak segera tunjukkanlah kekurangannya dan jauhkanlah segera dia dariku dan berikanlah apa yang terbaik untukknya dan untukku, amiin.”

Beberapa kali aku meminta melalui solat istikhoroh aku malah tidak mendapatkan jawabannya melalui mimpi. Tetapi hatiku malah dikuatkan untuk teguh pada keputusanku tersebut.

Untuk yang kedua kalinya dia pun datang ke rumah setelah lebaran dan menanyaiku.

“Papah sama mamah sih terserah teteh aja. Apa teteh siap?” tanya mamahku.

Aku pun mengangguk dan tersipu-sipu. Tetapi kali ini adalah anggukan kemantapan hati.

“Boleh aja nikah, tetapi mamah sama papah punya satu syarat. Teteh harus beresin skripsinya. Kan sayang, kuliah dapat beasiswa tapi skripsi belum beres.” Mamah bersuara lagi

Duuh skripisi..skripsi.. sungguh mengganggu.

“Iya mah..”jawabku

“Punteun bu, kalo skripsi insya Alloh nanti teh Icha akan saya bantu supaya cepat selesai. Kebetulan saya di kampus biasa membimbing skripsi.”jawab lelaki tersebut.

“Iya percanten ibumah. Tolong dibimbing yah.”

Yess! Ada untungnya punya calon suami dosen. Tapi ini kok jadi kayak ibu yang nitip anaknya buat bimbingan skripsi ke dosen yah? Hehe

Ternyata janjinya untuk membantuku bukanlah isapan jempol semata. Setelah pertengahan oktober dia melamarku, langsung kami mengebut untuk menyelesaikan skripsiku. Aku yang (sengaja) menunda skripsi karena sibuk bekerja dibantunya. Mulai dari awal lagi. Dari pengumpulan bahan, mewawancarai nara sumber aku pun diantarnya hingga membantu saat pengolahan data. Dan luar biasanya ternyata hanya memerlukan waktu kurang lebih satu bulan saja.

Hingga saat penyerahan skripsi dan akan sidang, admin di kampus heran dengan progressku tersebut.

“Wah Icha cepet sekali skripsinya. Dibantuin yah?”

Aku pun hanya menjawabnya dengan senyuman manisku.
Iya teh. Icha dibantuin skripsinya. Soalnya syarat nikah dari mamah dan papah.

Finally, Akhir Desember aku pun sidang skripsi. Uuh..leganya. Satu beban telah berkurang

Dua bulan kemudian kami pun memutuskan untuk menikah. Ternyata untuk menuju kepada kebaikan sungguh amat berat  sekali ujiannya.

Aku kira menikah itu akan seperti cinderella. Tetapi ternyata tidak.

Mamahku yang tergoda oleh bujuk rayu teman lamanya untuk berinvestasi di bidang pertanian malah terjebak. Tadinya mau untung malah berujung buntung. Investasi sebesar 30 juta yang tadinya dibayangkan akan menambah biaya pernikahanku bahkan diiming-imingi untuk umroh hanyalah buaian mimpi di siang bolong. Mamahku frustasi berat. Dia jadi sering uring-uringan di rumah dan tidak tampak ada semangat di wajahnya.

Selain itu rencana kami semula yang akan mengadakan hajat nikah secara sederhana dengan hanya mengundang anak yatim piatu (Sesuai cita-citaku dulu) harus berubah. Hal itu tak lain adalah keinginan nenek yang ingin pernikahanku itu adalah pernikahan yang seperti kebanyakan orang pada umumnya. Tetapi hal itu juga terpercik karena berita aku akan menikah dengan hanya menggelar karpet saja sudah tersebar hingga ke seluruh tetangga. Dan Nenekku gak tau kalo mamahku abis aja kena tipu.

“Teh Icha ada yang bilang ke bi Teta, Masa, anak orang kaya nikahnya cuman gelar karpet aja?” Lapor salah seorang tetangga kepadaku.
Padahal yang kaya itu kan Ene dan almarhum akiku. Aduuh emang susah sih jadi cucu orang kaya. Udah susah juga dikira kaya aja.

“Terus Bi Teta Bilang apa?”

Ya udah bi Teta bilang aja,” Bagus atuh Cuma gelar karpet da kalo punya uang mah mau disumbangin ke Yatim Piatu katanya teh”

“Bagus bi Teta. Makasih yah udah dibantuin ngomong” jawabku.

Aku sempat putus asa. Seakan masalah yang keluargaku hadapi sangat amatlah berat. Antara keterbatasan kemampuan dan keinginan untuk memenuhi keinginan nenek. Waktu terus berjalan dan seakan tak mau berhenti barang sejenak pun. Akhirnya aku dan papahpun bergerilya. Papah berbicara dengan calon suamiku dengan kondisi kami saat itu dan membujuk mamahku.

Aku yang mempunyai beberapa pundi uang di tabungan pun merekomendasikan temanku yang mempunyai usaha mencetak undangan dengan harga teman dan  merekomendasikan tukang rias dan dekor ruangan yang mengurusi pernikahan sahabatku dengan harga miring tetapi hasilnya bagus. Papahku pun setuju, tetapi ternyata mamah masih sulit dibujuk
Ditengah kebingungannya mamah, mamah pun mencari perias pengantin yang berada di dekat rumah. Ternyata harganya  tidak pas di kantong kami. Selain itu juga tanteku (dari pihak papah) menawarkan perias dan dekor pengantin. Kami pun mencoba mendatanginya. Kata tukang riasnya nanti dibayarin ama tanteku.

Setelah melihat ke Tekape bersama kedua orang tua dan calon suami. Ooh ternyata norak banget riasan, dekor dan pakaiannya. Harganya pun lumayan mahal. Kami pun urung. Dan hari menjelang pernikahan kami baru tahu tante juga bayarnya di cicil (karena niatnya ingin membantu tetapi sedang tidak punya uang saat itu).

Yeess.. akhirnya opsiku yang terakhir yang ditawarkan kepada papah diterima oleh mamah juga.

Dan alhamdulillah hari yang berbahagia pun tiba. Bulan februari Tahun  2011 kami menikah. Semuanya sungguh diluar dugaan. Yang tadinya mau gelar karpet malah jadi hajat. Yang tadinya kebingungan malah kegirangan karena semua keluarga besar berkumpul dan  bergotong royong mensukseskan acara ini. Panitianya adalah kedua orang tuaku sendiri.

Yah memang niat baik (menikah) selalu banyak ujiannya. Bahkan umur pernikahan kami yang masih seumur jagung ini, masih bayi yang baru mulai “berjalan” masih harus banyak belajar dari kehidupan rumah tangga kedua orangtua kami.

Dan lelakiku ini adalah doaku selama ini. Persis seperti yang aku idam-idamkan.

Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine

logo 10th wedding anniv 2

Selamat ya untuk Mba Uniek dan suami yang sedang merayakan ulang tahun pernikahannya yang kesepuluh.. Semoga pernikahannya selalu diberkahi oleh Allah SWT dan berjodoh Dunia Akhirat. Dan semoga anak-anaknya menjadi anak-anak kebanggaan orang tuanya, 🙂  

Iklan

One comment on “Disaat Harus Menikah

  1. Uniek Kaswarganti
    Oktober 25, 2013

    Terima kasih untuk doanya ya Ayunda, demikian juga semoga segala kebaikan dalam doamu itu akan kembali berlipat ganda untuk kehidupan rumah tanggamu.
    Thks untuk partisipasinya. Good luck yaa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 15, 2013 by in Tulisan untuk Lomba Blog dan Give Away.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 41,545 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: