My Corner (Happy Think, Happy Life)

Review : I’m (Not) Perfect

Judul                    : I’m (Not) Perfect
Penulis                : Dian Kristiani
Penerbit             : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit      :  2013
Tebal                    : 153 + xi Halaman, Soft Cover
Genre                   : Nonfiksi / inspirasional

Dian Kristiani?

Pertama kali aku mengenal mba Dian Kristiani adalah dalam sebuah pertemuan dan perkenalan yang tak sengaja. (Emang dimana ketemuan  dan kenalannya??? Ehm, Mau tau aja apa mau tau banget? hihi… Ya tentunya di toko buku lah) Sebuah pertemuan tak sengaja itu terjadi di sebuah Rumah Buku. Saat itu sepulang bekerja aku (sedang) tergila-gilanya dengan sebuah buku berjudul “My Stupid Boss”. Buku yang Gokil abis dan berseri-seri (aku ngerelain nyisihin uang gajianku untuk ngejar dan ngelengkapin koleksinya). Tapi malang nasibku saat itu, buku yang dicari pun langsung ludes karena laku di pasaran. Akhirnya aku searching dari satu rak ke rak lainnya mencari buku yang serupa. Setelah di baca-baca cover belakangnya (membaca sinopsis dan label harga tentunya yang pas di kantong.. heheh) dan membaca  sekilas isi bukunya akhirnya pilihanku jatuh kepada buku LOL @The Office karya Mba Dian Kristiani, buku dari penerbit yang sama dengan buku yang aku cari sebelumnya.

Wah Boljug (boleh juga) nih buku, gak kalah seru, pikirku.

Tidak menunggu waktu lama setelah  habis melahap bukunya mba Dian yang oke punya tersebut, aku pun langsung meng add penulis via FB nya. Wah ternyata penulis, sang ibu dua anak ini, Edgard dan Gerald adalah penulis buku anak-anak juga. Ya Udin (baca: ya udah) deh aku pesan aja bukunya yang lain langsung ke mba Dian, satu buku Non Fiksi Komedi “Buying Office Girl” dan buku anak-anak “Monster Merah Jambu”.

Ayeyy!..Asyik banget! dapat bonus tanda tangan penulisnya pula.

Setelah itu buku “Monster Merah Jambu” aku pinjamkan ke adik sepupuku yang masih SD dan mamahnya (bibiku) kepincut. Beliau pun (akhirnya) berteman juga dengan Mba Dian Kristiani via FB. Hingga suatu hari, bibiku ini mengikuti sebuah kuis di FBnya mba Dian dan menang. Hadiah buku dari mba Dian tersebut oleh bibiku dihadiahkanlah kepadaku (hehe,,,mba Dian masih inget gak yah?). Aku yang kagum ama penulis satu ini langsung girang bukan kepalang. Dan tarra… aku pun mendapatkan sebuah buku yang berjudul :

I’m (Not Perfect)

I"m (Not) Perfect Walaupun tidak sempurna, perempuan tetap bisa bahagia  1001 curhat seru nan kocak tentang mengapa perempuan harus lebih mencintai diri sendiri dan menghargai orang lain

I”m (Not) Perfect
Walaupun tidak sempurna, perempuan tetap bisa bahagia
1001 curhat seru nan kocak tentang mengapa perempuan harus lebih mencintai diri sendiri dan menghargai orang lain

Aku pikir buku ini adalah buku non fiksi komedi seperti buku-buku mba Dian sebelumnya. Apalagi di cover depan tertulis 1001 curhat seru nan kocak tentang mengapa perempuan harus lebih mencintai diri sendiri dan menghargai orang lain. Aku makin penasaran aja dengan isi buku ini. Mataku sudah “lapar’ ingin segera melahap buku ini.

Buku I’m (Not) Perfect yang menceritakan kisah sehari-hari penulis mulai dari awal pernikahan tertuang dalam bab Happily Ever After.

“Alangkah bahagianya jika pernikahanku bisa seperti cinderella” (kutipan halaman 1)

Memiliki pasangan yang sempurna itu hanya ada di cerita-cerita dongeng semata. Yang jelas menikah itu seperti membeli kucing di dalam karung. Sebelum membeli kita harus meraba-raba dulu apa yang ada di dalam karung tersebut, maka saat kita membuka karung kita sudah siap dengan kucing yang ada di dalamnya. Lama dan sebentarnya pendekatan sebelum menikah tidak menjamin kita mengenali pasangan setelah menikah. Learn to know your partner as best you can, itu saja kuncinya. Kalau kita mau belajar, berusaha, bersabar, bersyukur dan berdoa, yakinlah happily ever after itu sebuah keniscayaan (kutipan halaman 4).

Kemudian penulis pun menceritakan pengalamannya dalam memiliki anak, dan keseharian tentang pandangan masyarakat yang berkaitan dengan perempuan. Ironinya kebanyakan yang melabeli perempuan-perempuan tersebut adalah dari golongannya sendiri (Perempuan).

Misalnya ketika seorang perempuan yang sudah menikah kemudian dia menjadi janda, baik itu janda cerai atau janda ditinggal mati. Janda kembang atau janda tak kembang (telah memiliki anak) orang-orang sekitar akan melabeli para janda tersebut dengan pandangan yang negatif. Istri-istri banyak yang ketakutan suami-suami mereka melirik janda tersebut. Padahal apa yang salah dari status janda?

Label tentang janda tersebut pun pernah aku saksikan sendiri. Ketika salah seorang teman di kantorku (ketika aku masih kerja) yang beda divisi. Dia memiliki seorang anak yang berusia dua tahun. Entah karena alasan apa dia dan suaminya bercerai. Banyak selentingan dan gosip murahan yang beredar tentang alasan dia bercerai. Hingga tanpa ada aturan yang tertulis, beberapa temanku terlihat menjaga jarak dengan temanku yang janda ini dan dia pun kini terlihat jarang mengorbrol dan (seperti) minder kepada yang lain. Bagaimana dengan pergaulan dan pandanganku terhadapnya? Aku sih cuek aja. Tetap bergaul dan mengobrol seperti biasa dengannya.  Bagiku temanku ini gadis atau janda, who’s care? .

Selain itu juga aku tertarik dengan bab yang berjudul “Memasak, yuk!”. Dimana seorang perempuan yang telah berumah tangga bisa disebut istri yang baik itu adalah yang bisa masak. Pengalaman ini persis dengan pengalamanku. Diawal aku berumah tangga, ada seorang uwakku yang mengataiku, “Percuma aja berumah tangga, hidup misah dari orang tua tapi gak bisa masak.”. Sebabnya adalah aku gak bantuin masak saat ada kumpulan keluarga. Oke, kuakui aku gak bisa masak, apalagi harus ngebantuin. Jujur aja aku memang gak suka kalo harus bantu-bantu masak apalagi untuk sebuah acara atau hajat kayak gitu. Aku gak pede dan  takut salah. Karena kalo salah takut dimarahin (ya ngebantuin mamah masak di rumah aja, kalo salah suka dimarahin apalagi ini?) Alih-alih ngebantuin aku malah ngacauin karena masakannya malah jadi gak enak. Terus kalo aku gak bisa masak? So what Gitu Loh?! Karena suamiku gak pernah rewel soal makanan. Walaupun begitu, aku berusaha kok untuk masak makanan untuk suamiku yang menurutku mudah. Untuk urusan variasi aku bisa belajar sama mbah sejuta umat, si mbah Google. Terus kalo aku lagi malas masak atau pingin menu yang berbeda bisa juga beli dari warung atau depot makanan. Yang penting bisa makan (yang penting halal, baik untuk badan, bersih dan enak tentunya). Gitu aja kok repot?!.

Ya..ya..  yang terakhir adalah kita harus menjadi diri kita sendiri, “Be Your Self”.

“Kamu adalah Kamu, dirimu sendiri. Tidak tergantung pada pendapat orang lain tentangmu.” (Kutipan halaman 101).

Kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Dan lebih kejam lagi jika kita menyiksa diri hanya demi melihat orang lain senang. Hidup ala AAS alias Asal Anda Senang hanya akan membuat hidup kita capek. Biarkan orang lain ngomongin tentang kita dibelakang. Ataupun orang tersebut ngomongin tentang orang lain atau teman kita kepada kita. Masuk telinga kiri keluar telinga kanan atau buang jauh-jauh ke dalam “tong sampah” alias gak usah dimasukkan ke dalam hati. Karena hakikatnya jika orang tersebut membicarakan kejelekan orang lain kepada kita maka sebuah kepastian kita pun akan jadi bahan omongannya kepada orang lain. Aku hidup bukan untuk mencari pujian dan pujaan. Aku hanya mau hidupku ini bermanfaat bagi orang lain (kutipan halaman 103). Ngapain juga repot-repot jaga image demi segelintir orang? (kutipan halaman 103). Gak usah bermuka manis di depan tetapi akhirnya malah mengumpat di belakang. Jangan jadi pribadi munafik dan perempuan bertopeng. Ingat kita bukanlah super woman!

Tentu saja, buku yang amat sangat menarik ini disajikan dalam kertas yang membuat mata ini gak akan lelah membacanya. Penulis yang menurutku menulis dengan melibatkan hati ini benar-benar sangat menyentuh dan memberi inspirasi serta membuat mata kita menjadi terbuka lebar dalam membaca situasi. Bahasanya yang tegas dan lugas mencerminkan karakter penulisnya yang sepertinya gregetan dengan polah para labeling tersebut. Membuat buku ini mengajak dan tidak menggurui kita untuk tidak berprasangka buruk terhadap realita yang ada yang kebanyakan disandang oleh kaum perempuan. Toh kita juga bukanlah manusia yang sempurna.

Ternyata tulisan yang terdapat di cover depan, 1001 curhat seru nan kocak tentang mengapa perempuan harus lebih mencintai diri sendiri dan menghargai orang lain ini adalah sebuah kiasan. Oooh…. Andaikan benar, kisah-kisah yang di tuliskannya berjumlah 1001 curhat (kisah) atau 1001 bab, pasti akan jadi lebih menarik dan bakalan jadi kamus panduan hidup yang lengkap, heheeh.. 🙂

Pesan yang disampaikan dalam buku “I’m (Not) Perfect ini adalah Don’t Judge the book by its cover, jangan menilai seseorang dari penampilan luarnya. Dan kepada kaum perempuan please.. jangan suka menghakimi dirimu sendiri (Kutipan dari Sekapur Sirih, halaman xi). Walaupun buku ini banyak mengangkat kisah labeling pada sosok perempuan, tetapi aku tegaskan kembali jika ingin hidup sehat dan bahagia, baik itu perempuan atau lelaki maka kuncinya adalah EGP alias emang Gue Pikirin. Kalo bahasa sundana mah Paduli teuing ah!

Ehm… Aku jamin, gak akan nyesel deh punya buku ini!!!.

Picture0405

 

Participated to Bikin review I’m (Not) Perfect, yuk …

(Pemenang Hadiah Hiburan berupa Pulsa Rp. 25.000)

Iklan

3 comments on “Review : I’m (Not) Perfect

  1. sri sugiarti
    September 22, 2013

    aku setuju dengan kata2 seperti ini “Aku hidup bukan untuk mencari pujian dan pujaan. Aku hanya mau hidupku ini bermanfaat bagi orang lain (kutipan halaman 103). Ngapain juga repot-repot jaga image demi segelintir orang? (kutipan halaman 103).:”…boleh juga nih buku besok tak hunting deh bukunya…sepertinya menarik banget ya mbak 🙂 .

  2. Noniq
    September 22, 2013

    Reviewnya menarik , jadi tertarik baca bukunya ^^ Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa punya dan ada kesempatan baca juga.

    Salam kenal ya, sekalian mau ngajak ikutan GA ku ^^
    http://noniq.blogspot.com/2013/08/1-giveaway-noniq-diary-x-firmoo.html

  3. Agfian Muntaha
    September 23, 2013

    wah, pose potonya kreatif, pesan i’m not perfectnya jadi makin kerasa, 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 22, 2013 by in recomended book, Tulisan untuk Lomba Blog dan Give Away.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 42,724 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: