My Corner (Happy Think, Happy Life)

Pohon kersen mendadak beken

Aku begitu mencintai dan suka dengan yang namanya buah-buahan. Semua buah-buahan sangat kusukai tanpa terkecuali. Hal tersebut karena mamahku yang sejak aku kecil selalu membiasakan kami sekeluarga hampir setiap harinya makan buah-buahan. Sehingga dulu aku bisa menghabiskan hampir satu kilo buah-buahan yang mamah beli dipasar, seperti jeruk, apel, mangga, manggis atau apa aja hanya seorang diri.

Buah-buahan yang aku nikmati itu pada umumnya adalah buah-buahan yang mamah beli di pasar dan memang lazim dimakan karena gampang diperoleh dan harganya terjangkau.  Walaupun aku tak pernah tahu seperti apa pohon dari buah-buahan yang sering aku makan tapi setidaknya aku tahu bentuk dan rasanya itu seperti apa. Terkecuali oleh buah yang satu ini.

ketika  aku kelas 3 SD papah masih bertugas di Ubud dan kami mendiami rumah dinas dari Bank tempat papah bekerja.  Aku melihat sebuah pohon besar yang tumbuh lebat tepat di depan teras rumah yang kami diami. Pada mulanya aku tak menghiraukan pohon apa itu. Tetapi dari hari ke hari pohon itu selalu saja menggugurkan daun-daunnya dan buah-buahnya yang kecil berwarna hijau, ataupun merah. Dan hampir tiap hari Om Wayan, pesuruh kantor membersihkan daun yang berserakan tersebut. Melihat hal itu aku pun mulai tertarik.

“Om, ini pohon apa namanya?  tanyaku pada om Wayan.

“Ini namanya pohon kersen.” jawabnya kemudian.

” Ooh, itu buahnya? kok kecil-kecil?” tanyaku lagi dengan penasaran.

“Iya teh ini buahnya. dan memang bentuknya kecil-kecil. Teteh mau nyoba?”

“Enak gak om?”

“Enak teh. Manis. Nih kalo mau coba om kasih. Tapi sebelum dimakan di cuci dulu. Soalnya kotor.” Kata om Wayan

Aku pun berlari ke rumah untuk mencucinya. Setelah itu aku kembali lagi ke luar dan memakannya bersama om Wayan.

Ketika kumakan buah yang kecil itu ada sesuatu yang muncrat dan keluar dari dalam mulutku. Rasanya manis banget.

“Bener om, enak! Manis banget.” Kataku kemudian.

“Teteh lagi ngapain? Apa itu?mau dong!” Adikku tiba-tiba datang sambil menyodorkan tangannya.

Kami bertiga pun memakan buah kersen yang dipunguti om Wayan dari tanah. Sejak itu aku dan adikku menyukai buah kersen.

Suatu hari di hari Minggu. Kami sekeluarga berkumpul di teras rumah. Aku yang mulai mempunyai kebiasaan baru memakan buah kersen pun memungutinya satu persatu buah kersen yang berjatuhan dan masih terlihat bagus.

“Teh, lagi ngapain?” tanya mamahku.

“Ini mah lagi mungutin buah kersen.”

“Buah kersen? Iih.. itukan makanan ular?” kata mamah dengan nada menakut-nakutiku.

“Beneran mah?” kataku kemudian.

Mendengar “Ular” membuatku bergidik ngeri dan ketakutan. Mengingat ular menjadi hewan yang hampir sering kami lihat. Ular-ular sawah yang  dari ukurannya kecil hingga besar dan panjang ini seringkali bersembunyi di balik kardus atau perabotan yang disimpan di luar rumah. Mereka juga pernah menyelinap masuk ke dapur dan hampir masuk ke dalam rumah. Hal tersebut karena di belakang dan samping rumah kami dikelilingi oleh sawah para penduduk sekitar yang terbentang luas.  Entah alasan apa ular-ular tersebut sering “hijrah” dari sawah menuju rumah kami.

Adikku yang sedang menyuapi kersen (yang sudah dicuci bersih) ke mulutnya pun tiba-tiba berhenti.

“Iya buah kersen itu makanan ular. Ular memang suka sama buah kersen.  Tapi papah juga suka kok sama buah kersen.” kata papah sambil menyuapkan kersen ke mulutnya.

“Mamah juga suka kok teh, adek. jadi gak apa-apa dimakan juga, gak akan bahaya.” Kata mamah kemudian.

“Euuh mamah.. papah.. bikin kaget aja. Tapi kok tahu ini makanannya ular? Emang mamah dan papah pernah makan juga yah?” Tanyaku kemudian.

“Iya, suka. Dulu kan di rumah Opa-oma di Madura banyak sekali nanemin pohon-pohon yah diantaranya ada kersen.” jawab papahku.

“kalo mamah, dulu suka manjatin pohon kersen yang ada di rumah uyut di Sumedang. Dulu mah banyak sekali pohon kersen te, teh.”

Ari Mamah bisa manjat?” tanya adikku kemudian

“Wuiih mamah jagonya.” jawab mamah

“Sok atuh panjat pohon kersen itu, terus ambil buahnya buat kita.” tantang adikku.

“Ah, sekarang mah gak mau. Malu sama papah .” jawabnya.

“Huuuuuuuuuuu.. alesan..!” Ujar kami bertiga.

Kami pun tertawa bersama.

Pernah juga suatu hari Dewi dan Ni Putu, teman sekelasku main ke rumah. Dengan senang hati aku menyambut kedatangan mereka. Karena jarang-jarang ada yang mau main ke rumah, karena rumahku yang lumayan jauh dari sekolah yang memakan waktu sekitar satu jam.

Teman-teman yang datang ke rumah kuajak berenang di kolam renang yang ada di seberang rumah. Setelah itu kuajak mereka bermain di dalam mobil VW Combi milik papah yang sudah tidak bisa jalan lagi. Kusuguhi mereka minuman dan buah kersen yang sudah diambilkan oleh om Wayan sebelum aku pulang sekolah.

“Icha, buah apa ini? Kok cenik-cenik (kecil)?.” tanya ni Putu.

“Ini namanya kersen.” jawabku

“Enak ga? Soalnya tiang (aku) belum pernah tahu ni yang namanya buah kersen” tanyanya kemudian.

“Ya enak doong. Makanya aku suguhin buat kalian.” kataku

“Kalo gitu aku mau coba duluan ah.” Kata Dewi.

“Silahkan.”

Pulangnya kusuguhi mereka beberapa buah kersen untuk oleh-oleh.

Oleh karena buah kersen itu, teman-teman di sekolahku (teman sekelas dan yang beda kelas)  banyak yang berdatangan dan main ke rumah walaupun rumahku cukup jauh dari sekolah  dibandingkan dengan rumah-rumah mereka yang hanya memakan waktu 5 sampai 10 menit lamanya. Dari cerita heboh dan serunya teman-teman yang pernah main ke rumahku, mereka (yang belum pernah main ke rumah) merasa tertarik  untuk melihat pohon kersen dan merasakan buahnya karena mereka belum pernah melihat pohon kersen dan memakan buahnya. Mereka sangat penasaran dengan pohon kersen yang ada di rumahku itu.

Dan Pohon kersen itu pun mendadak beken.

Sekilas Tentang Pohon kersen

Pohon Kersen (Sumber Foto : Diambil dari www.google.co.id)

Pohon Kersen
(Sumber foto diambil dari cicilia-menulis.blogspot.com)

Kersen atau talok (Muntingia calabura L.) adalah sejenis pohon sekaligus buahnya yang kecil dan manis berwarna merah cerah. Di beberapa daerah, seperti di Jakarta, buah ini juga dinamai ceri (untuk ceri yang sebenarnya, lihat artikel ceri).

Di Lumajang, anak-anak menyebutnya baleci. Nama-nama lainnya di beberapa negara adalah datiles, aratiles, manzanitas (Filipina); mât sâm (Vietnam); khoom sômz, takhôb (Laos); takhop farang (Thailand); krâkhôb barang (Kamboja); dan kerukup siam (Malaysia).

Juga dikenal sebagai capulin blanco, cacaniqua, nigua, niguito (bahasa Spanyol); Jamaican cherry, Panama berry, dan Singapore cherry (Inggris). Orang Belanda dulu menyebutnya Japanse kers (“ceri jepang”), yang lalu dari sini diambil menjadi kersen dalam bahasa Indonesia atau ada yang menyebutnya ceri. (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kersen)

Buah Kersen  (Sumber Foto: Diambil dari www.google.co.id)

Buah Kersen
(Sumber Foto: Diambil dari http://www.google.co.id)

Buah yang biasa disebut cery Jawa ini mengandung Air 77,8 gram, Protein 0,384 g, Lemak 1,56 g, Karbohidrat 17,9 g, Serat 4,6 g, Abu 1,14 g, Kalsium 124,6 mg, Fosfor 84 mg, Besi 1,18 mg, Karoten 0,019 g, Tianin 0,065 g, Ribofalin 0,037g, Niacin 0,554 g, dan kandungan Vitamin C 80,5 mg. Nilai Energi yang dihasilkan adalah 380KJ/100 gram. Ini menunjukkan bahwa dengan mengkonsumsi kersen, kita bisa memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.(Sumber : http://news.liputan6.com/read/479971/khasiat-buah-kersen)

Karena masih kurangnya pemanfaatan buah kersen, mahasiswa Jurusan Pendidikan IPA Fakultas MIPA UNY yaitu Nugrahini Dwi dan Maya Istikhomah, meneliti buah kersen untuk mengetahui kandungan gizinya dan berhasil membuat produk olahan kersen berupa sirup sebagai salah satu upaya meningkatkan nilai guna dari buah kersen.

Menurut Nugrahini, ditinjau dari segi kandungan gizinya buah kersen tidak kalah dengan buah yang lain misalnya mangga. Kandungan vitamin C buah mangga 30 mg, sedangkan pada buah kersen 80,5 mg, selain itu kandungan kalsium pada buah kersen 124,6 mg, jauh lebih banyak dari buah mangga yang hanya 15 mg.

“Di Indonesia secara tradisional buah kersen digunakan untuk mengobati asam urat dengan cara mengkonsumsi buah kersen sebayak 9 butir 3 kali sehari dan terbukti dapat mengurangi rasa nyeri yang ditimbulkan dari penyakit asam urat,” ungkapnya seraya menambahkan, rebusan daun kersen juga memiliki khasiat anti radang dan menurunkan panas bahkan kandungan dan rebusan daun kersen ternyata dapat berkhasiat sebagai pembunuh mikroba berbahaya dan dapat digunakan sebagai anti septik. (Sumber : http://indonesiaindonesia.com/f/106571-khasiat-buah-kersen/)

Tulisan ini diikut sertakan dalam “Give Away Aku dan Pohon”

GA aku dan pohon

Iklan

14 comments on “Pohon kersen mendadak beken

  1. pudja
    September 4, 2013

    wah aku juga suka banget ama buah kersen, kalau pulang ngajar dlu kerjaannya ngambilin kersen dlu baru pulang hhe…
    berkunjung kesini juga ya mba 🙂 http://pudjakusumah.blogspot.com/2013/08/au-dan-kenangan-tentangmu-bunga-wijaya.html

  2. Insan Robbani
    September 4, 2013

    Wah kalau buah kersen, atau kalau disurabaya namanya buah keres hampir semua orang khususnya anak2 pasti suka, cuman sayangnya sekarang susah nyari pohonnya apalagi buahnya

    • ayundaslamet
      September 4, 2013

      iya betul mas insan, skrg emang susah nyarinya. itu buah kersen yang saya ceritakan juga buah kersen yang ada tahun 1995 an. Dan sekarang saya gak tau nasibnya bagaimana. Karena saya belum pernah ke Ubud lagi, berkunjung ke mantan rumah kami dulu. 🙂

  3. purnomo
    September 4, 2013

    Saya sdh menggeluti dunia buah2an dan sayur mayur cukup lumayan lama..tapi baru tahu.akan keberadaan buah ini mbak…(beneran :)…)
    moga sukses GA nya ya..
    Salam 🙂

    • ayundaslamet
      September 4, 2013

      Masa baru tahu? ya sudah ga apa-ap asekarang jdi tau kan?

      Terimakasih sudah berkunjung dan komentar serta doanya..

      Salam kenal ya.. 🙂

  4. lazione budy
    September 4, 2013

    Di kampung ku di Palur, Solo pohonnya berjejer sepanjang jalan. Kami menyebutnya buah ‘talok’. Di Karawang, di tanah rantau ini masyarat menyebutnya buah ‘cerry’.
    Ini memang buah fenomenal, mudah sekali tumbuh kembang. Cepat besar dan buahnya bejibun.
    Sewaktu kecil saya suka memetiknya, rebutan sama teman-teman seusai mandi di sungai. Cuma kalau yg jatuh warna merah itu kurang resep rasanya. Terlalu matang, paling enak yang saat transisi dari hijau ke merah.
    Rantinya mudah patah, daunnya mudah rontok. Di rumah saya nanam 1 pohon, jadi rebutan ponakan buahnya. Mereka juga suka buah talok ini.

  5. Susanti Dewi
    September 5, 2013

    saya baru tahu ternyata daun kersen/ceri itu juga bermanfaat ya… dan ternyata buahnya juga bisa utk penyakit asam urat. Saya juga dulu suka memakan buah kersen/ceri ini. Tapi skrg sepertinya pohon ini sudah jarang ditemui ya…
    Nice info, makasih buat infonya, saya jadi tahu 🙂

  6. Riski Fitriasari
    September 5, 2013

    Saya juga suka buah kersen.. hehehe dulu jalan di kampus banyak sekali, suka ngambilin buat camilan, maklum anak kos harus super irit hehehe

    • ayundaslamet
      September 5, 2013

      iya yah si kersen itu buah yang yang menarik.. 🙂
      Terimakasih sudah berkunjung dan salam kenal:)

  7. Ria
    Desember 15, 2013

    Kalau ada yg jual buah kersen, hubungi aku ya….rianiridwan@yahoo.co.id, aku mau coba buat bikin kue nih….trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 4, 2013 by in Tulisan untuk Lomba Blog dan Give Away.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 39,597 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: