My Corner (Happy Think, Happy Life)

Dibuang Sayang

“Eh..eh awas! Jangan dekat-dekat!” Suara seorang perempuan yang tiba-tiba mengagetkanku.

Aku pun langsung sadar siapa perempuan itu dan mengapa dia berteriak. Dia adalah Uwakku. Dia berusaha menghalauku dari seorang laki-laki berpakaian compang-camping, kotor dan berambut gimbal. Uwakku berusaha mengusir lelaki gila dari hadapanku yang hendak menciumku itu. Untungnya tidak jadi. Dan untungnya aku segera fokus dari lamunanku.

“Teh, jangan ngelamun aja. Untung ketahuan, kalo nggak..  teteh dicium ama orang gila tadi.” Ujar uwakku.

“Iya, wak.” jawabku masih dalam keadaan syok.

Itulah saat pertama kalinya aku bertemu langsung dengan orang gila. Saat itu kelas 4 SD dan baru pindah ke Bandung. Uwak ( yang tinggal di Bandung), mengajakku dan saudara sepupu laki-lakiku (yang berusia 5 tahun) kepasar saat sore hari untuk berbelanja. Dan setelah berbelanja sana-sani kami pun mampir di apotek untuk membeli obat. Dan disinilah insiden tersebut terjadi, saat aku sedang duduk disalah satu bangku menunggu uwak yang berbelanja obat .

Aku yang kaget, syok berat gak bisa berkata apa-apa. Boro-boro nangis, yang ada malahan bengong. Bingung dengan apa yang terjadi.

Uwak pun memperingatkan aku untuk tak sering melamun. Ya, memang saat SD aku sering melamun (Kata yang melihat siyh). Padahal aku itu fokus lo, hanya terlalu fokus sampai-sampai pikirannya melayang-layang entah kemana dan BLANK!!

Aku juga syok, baru tau yang namanya orang gila itu seperti apa. Dari penampakannya yang aduhai tak enak dipandang mata.

Sebenarnya aku tak hanya sekali itu mengetahui dan mengenal orang gila . Karena dahulu teras rumah nenekku seringkali menjadi tempat singgah para gelandangan, pemabuk dan orang gila. Jadi ketika membuka pintu, sangat amat kaget melihat seserang yang tergolek di teras rumah, dan gak berani untuk keluar kecuali si ‘tamu’ tersebut sudah pergi.

Akhirnya rumah nenek yang tak berpagar itu (karena gaya klasik rumah orang Belanda jaman dahulu) di pagar. Sehingga para tamu yang tak diundang itupun tak berani lagi untuk sekedar beristirahat apalagi ikut tidur (dikiranya rumah singgah kalee ya?).

kelas enam SD, ketika kami sedang hangat-hangatnya tugas kelompok. Aku pun mendapat tugas dari guru wali kelas untuk membuat sebuah prakarya yang dikerjakan  perkelompok. Kami mengerjakannya di rumah salah seorang temanku. (Rumahnya dekat sekali dengan pasar dan stasiun kereta api)

“Lari!!!” teriak Palupi dan dua orang teman yang lain yang sedang berlarian.

Aku dan Siska yang sedang membeli bahan-bahan di di tempat foto kopian pun ikut-ikutan lari terbirit-birit. Walaupun kami tak tahu mengapa kami harus berlari. Tapi kami tetap berlari.. dan berlari hingga akhirnya bersembunyi.

Setelah napas ngos-ngosan dan kami keluar dari tempat persembunyian, kami pun akhirnya sampai di rumah Palupi.

“Kalian kenapa tadi lari,,hh..?Tanyaku pada palupi.

“Iya sih kenapa harus lari? Ca..pek..hehe.. khaan..” Sambung Siska kemudian.

“Tenang..tenang.. ntar aku ambil minum dulu ya untuk kalian berempat.” ujar Palupi kemudian.

Setelah Palupi mengambilkan minuman untuk kami berempat,

“Tadi itu kita dikejar-kejar ama orgil” kata Palupi

“Orgil?” Tanyaku dan Siska.

“Iya ORGIL.. Orang Gila..” jawabnya.

“Iya makanya kami teriak lari. Untung aja kalian berdua lari. Kalo ga kita bakal ditangkap ama orang gila itu.”  Ujar Anggi.

“Iya tadi gak tau kenapa pas mau nyusul ke tempat kalian, tiba-tiba kita dikejar ama laki-laki gelo” Ujar ika.

“Kenapa disini banyak orang Gila, gitu?” tanyaku pada palupi.

“Iya gak tau kenapa bisa banyak orang gila.  Banyak banget.  Banyak yang stress kalee.. Mangkanya kalian nanti pulangnya kudu ati-ati” kata Palupi kemudian.

Ehm.. Kenapa harus selalu ketemu orang Gila. Di rumahku orang gila, di rumahnya palupi juga banyak orang gila.

Dan sejak itu aku jadi parno kalo ketemu orang gila.

**

Beberapa tahun kemudian (setelah dewasa-kuliah)  Aku melihat ada seorang perempuan yang sering berjalan-jalan di pagi hari. Dia kadang terlihat normal, kadang terlihat bicara sendiri, namanya Ceu Deti (Maaf ya, kalo ada namanya yang mirip). Ada juga seorang perempuan yang sering berteriak-teriak, mencaci maki dengan cacian yang gak jelas, namanya Ceu Juju ( Maaf juga ya kalo ada nama yang mirip).Kedua orang itu, sering kali berjalan mengelilingi komplek rumah hingga ke jalan raya. Uniknya kedua orang ini bukanlah dua orang tuna wisma. Mereka masih memiliki keluarga. Bahkan ceu Deti memiliki seorang putri yang sangat cantik dan ia normal. Uniknya dari ceu Deti pula, jika ada pengajian atau solat tarawih ia sering datang, duduk dan bahkan mengikuti gerakan orang yang sedang solat, tapi seringnya pulang duluan dan menukar sandalnya yang butut dengan sandal orang lain yang masih bagus.

Aku pernah melihat ceu Deti ngomong sendiri, dan aku tak memperdulikannya. Aku tau dia orang gila, dan takkan mengganggu jika tak diganggu. Ketika itu aku pulang mengaji dari Madrasah  melewatinya.

“Eh.. budak teh teu sopan.. teu bilang punteun..punteun acan” katanya memaki padaku.

“Ya iyalah gak bilang punteun da dianya juga lagi ngomong sendiri. Dasar orang gila” kataku kepada saudara sepupuku yang pulang bersama.

Saudara perempuanku itu pun menganggukkan kepalanya.

“Naon Siah!” kata ceu deti kemudian.

Dia pun mengambil tongkat dan hendak mengejar kami.

Aku heran, mengapa ceu Deti kadang sadar kadang gak. Konon katanya dari berita yang kudengar dari mamahku, dia dulunya gak gila. Hanya suatu hari dia ketauan selingkuh oleh suaminya. tapi dia gak ngaku. Dia malah bersumpah, kalo dia selingkuh dia berani gila. Dan eh ternyata dia GILA beneran..

Yang kedua adalah ceu Juju. Menurut cerita mamahku juga, dia gila karena masalah keluarganya. Dia stress berat karena suaminya yang selingkuh. Padahal dia  usdah berkorban banyak harta dan berkorban jiwa raga (aih lebay banget deh aku). Dan sekarang suaminya itu pergi entah kemana (mungkin hanya keluarga suaminya lah yang tahun dimana suaminya itu berada). Ceu Juju ini selalu memaki-maki di depan bekas rumah mereka (rumahnya dan mantan suaminya). Rumah tersebut kini telah ditinggali adik iparnya. Naasnya, rumah tersebut ada di depan rumah kedua orang tuaku. Jadilah kami sekeluarga selalu mendapat  sarapan pagi “kicauan” ceu Juju.

Sangat disayangkan akan kondisi kedua orang ini. Mereka yang masih memiliki keluarga seperti tidak pernah memperhatikan kondisi anggota keuarganya. Keadaan mereka yang sering dimaklumi oleh tetangga sekitar tetapi juga membuat para tetangga merasa terganggu. Dan hal ini dibiarkan berlarut-larut hingga bertahun-tahun.

Aku pikir cara terbaik untuk membuat mereka (Para Penderita Skizofrenia/Orang gila) kembali normal adalah :

1.  keluarga mereka tidak hanya memberikan dukungan materil tetapi juga moril.

Kulihat kedua orang ini tidak sekumuh orang gila pada umumnya yang berkeliaran dipinggir jalan. Mereka bersih, terawat dan disediakan rumah oleh keluarganya. Karena biar bagaimanapun mereka masih bagian dari anggota keiuarganya. sangat memerlukan kasih sayang.

2. Diajak Curhat dan sharing oleh anggota keluarganya untuk meringankan beban pikir mereka

Orang-orang ini dibiarkan begitu saja berkeliaran. Aku tak pernah melihat salah satu diantara anggota keluarganya yang mengajak ngobrol mereka. Entah karena merasa malu ataukah sengaja membiarkan saja karena sudah pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat mereka sedang kambuh.

3. Didekati dan diayomi oleh anggota keluarganya.

4. Para tetanga menghimbau anak-anaknya untuk mengganggu mereka agar tidak kambuh lagi

Yups! yang namanya anak-anak pasti senang mengganggu orang gila. Mereka merasa punya ‘mainan’ yang bisa diolok-olok

5. Para Tetangga peduli akan kesehatan mentalnya, dan ketua RT-RW memberikan penyuluhan dan pendekatan kepada mereka

6. Doakan agar mereka cepat sembuh

 Biar bagaimanapun mereka adalah masih bagian dari anggota keluarganya yang harus ditolong.

7. Usahakan kesembuhannya

Kalo terpentok biaya bagaimana? Ya baiknya ngobrol dengan ketua RT dan RW agar masyarakat sekitar membantu proses kesembuhannya.

8. Rumah Sakit Jiwa  sebagai salah satu solusi

Kalo keluarga sudah menyerah mungkin ada baiknya untuk menyerahkan ke rumah sakit jiwa. Tetapi dengan pengawasan yang intensif dari keluarganya.

Mereka juga manusia.. Jadi mari kita hargai mereka sebagai manusia walaupun mereka punya dunianya sendiri. Dan jangan biarkan mereka sendiri…

(Aku bukanlah seorang Psikolog.. Tetapi aku adalah orang yang hanya mengamati realitas yang ada)

  “Tulisan ini diikutsertakan dalam event ‘Psychology Giveaway’ yang diselenggarakan oleh d’Paresma”

GA PSikologi

Iklan

6 comments on “Dibuang Sayang

  1. Yanuarty Paresma Wahyuningsih
    September 3, 2013

    keren artikelnya 🙂 makasih ya bunda Ayunda udah ikut serta

    yap saya pun setuju banget, skrg ini sosialisasi terkait kesehatan mental masih amat kurang apalagi ke kaum marjinal atau yg di pelosok, mereka sering salah dalam menangani mereka yg skizofren.

    oh ya sepertinya ada yg kelupaan, kritik dan sarannya mana nih buat blog saya? 🙂

    • ayundaslamet
      September 3, 2013

      ooh iya maaf lupa blum saya cantumkan.. nanti saya revisi ya.. masih bisa khan? da belum DL ya? Hehhe 🙂

  2. Yanuarty Paresma Wahyuningsih
    September 5, 2013

    di kolom komentar aja bunda kritik dan sarannya ya

    • ayundaslamet
      September 6, 2013

      wokeh.. siph!

      • Yanuarty Paresma Wahyuningsih
        September 30, 2013

        eumm kayaknya saya belum liat masukan dari bunda.. hehe 🙂 sy cek di kolom komentar, gak ada. belum ya Bund? udah hari terakhir looh 😀

      • ayundaslamet
        Oktober 5, 2013

        aduuh maaf.. saya lupa.. soalnya internetnya dipake suami terus dan sedang persiapa ngurus taman baca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 2, 2013 by in Tulisan untuk Lomba Blog dan Give Away.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 41,545 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: