My Corner (Happy Think, Happy Life)

Mengmeng dan Puspus

Aku sejak kecil suka sekali dengan yang namanya kucing. Mungkin kesukaanku terhadap kucing adalah saat aku kecil (umur 3tahun hingga umur 6 tahun), aku tinggal bersama uwakku. Uwakku memiliki seorang anak perempuan tunggal. Perbedaan usia antara teh Nanin (anaknya uwak) dan aku sangatlah jauh, mungkin terpaut sekitar dua puluh tahunan. Teh Nanin yang saat itu baru saja selesai kuliahnya sebagai dokter umum amat sangat menyukai kucing. Dia memiliki seekor kucing  belang-belang yang buntutnya sangat bagus (Mungkin sejenis Anggora). Si manis namanya.

Hampir setiap hari dimandikannya dan diberikan makanan Ikan sarden kalengan, susu, dll. Si manis ini sudah ada saat mamah mengandung dan melahirkan aku. Dan karena ketidak tahuan mamahku, teh Nanin pun menyarankan susu collostroum ( air asi yang pertama keluar) diberikan kepada si manis bukannya aku. Uhuhu.. kasihannya aku dan beruntungnya si manis.

Si manis ini berjenis kelamin betina. Suatu hari ia hamil. Pada saat melahirkan si Manis tidak lahir sendiri, tetapi dibantu oleh teh Nanin. Saat itu aku bingung, teh Nanin ini dokter hewan atau dokter umum ya? Karena proses kelahiran si manis berjalan sangat lancar. Tak tanggung-tanggung, layaknya seorang manusia, si manis melahirkan diatas kasurnya teh Nanin. Itulah kali pertamanya aku melihat proses kelahiran seekor kucing. Si manis beranak empat. Dia diberikan sebuah rumah yang terbuat dari kardus bekas dan selimut untuk menghangatkannya dan keempat anak-anaknya. Si manis dan anak-anaknya diperlakukan dengan sangat istimewa karena bagiku dan teh Nanin si manis adalah teman kami.

Karena aku tinggal bersama uwak jadi aku pun ikut menyukai si manis dan sangat tertarik dengan yang namanya kucing. Saat teh Nanin pergi bekerja sebagai dokter aku pun bermain dengan si manis dan keempat anaknya yang lucu-lucu.

Saat kelas dua SD, aku pun pindah rumah. Aku kembali diasuh oleh kedua orang tuaku. Saat weekend aku sering berlibur ke rumah uwak untuk mengunjungi keluarga uwakku dan si manis beserta anak-anaknya tentunya.

Saat aku tinggal kembali bersama kedua orang tuaku aku merasa kesepian, gak ada yang bisa aku ajak main. Adikku yang saat itu berumur empat tahun tidak mengenal aku dengan baik. Ya wajar saja karena beberapa tahun belakang aku tinggal bersama uwak. Aku belum terbiasa bermain dengan adikku, dan aku merasa malas bermain dengannya. Adikku sangat galak. Saat aku mengajaknya bermain dan mencandainya aku seringnya malah dicakar ataupun digigit. Padahal adikku itu perempuan.

Suatu hari saat selepas pulang sekolah aku bermain sendirian di taman belakang di dekat pura oma mangku yang punyanya rumah (-dipanggil oma mangku, karena ia adalah istri dari pemangku-pemimpin upacara adat- semacam ustadz di dalam Islam). Karena aku saat itu memang tinggal di Bali dan mengontrak (rumah dinas). Saat sedang bermain sendirian, tanpa sengaja mataku melihat ada seekor kucing kampung kurus berwarna putih dan berekor hitam  yang kelihatannya sangat kelaparan. Kudekati dia,

“EEErrr..”

Dan dia pun ketakutan.

Aku tak pantang menyerah untuk mendekatinya. Itu karena aku sangat suka dengan kucing..

Aku pun kembali ke rumah untuk membawakan ikan dan susu untuk makanannya. Awalnya kucing itu masih ketakutan. Kupanggil dia..

“meng..meng..meng..”

Dia mulai mau mendekati

“Eeer..”

Ooh rupanya kucing ini masih takut padaku.

Akhirnya aku pun mencoba taktik. Ku simpan ikan dan susu tersebut. Kuletakkan di sebuah tempat yang tak jauh darinya sambil berpura-pura pergi.

Akhirnya kucing itu pun mendekati umpanku. Kelihatan sekali dia sangat kelaparan.

Saat dia sedang makan, kudekati kembali dia. Mungkin karena khusyu’nya dia makan, dia pun tak menyadari ada aku yang mendekatinya dari arah belakang. Dan hap! Kepala kucing itu ku belai-belai. Kucing itu pun menoleh saat aku belai-belai. Saat dia menoleh, Aku kira dia akan kembali ketakutan. Tetapi ternyata tidak. Dia malah menggoyang-goyangkan ekornya sambil mendekatkan kepalanya dengan tanganku.

Yippie.. Kucing ini menyukaiku. Dan dia pun menjadi jinak.  Kucing ini pun aku pelihara dan ku beri nama si “mengmeng”. Karena ia selalu menoleh saat kupanggil mengmeng.

gambar diambil dari google.com Si Mengmengku dulu seperti ini,,

gambar diambil dari google.com
Si Mengmengku dulu seperti ini,,

Mengmeng menjadi teman mainku dan adikku sekarang.

Awalnya mamah melarangku bermain dengan si mengmeng, karena ia bilang,

“Anak perempuan gak boleh main sama kucing. Nanti gak bisa punya anak dan kena penyakit tokso.”

Begitu selalu beliau memarahi kami saat kami bermain dengan si mengmeng. Tapi saat itu aku dan adikku cuek saja, karena kami gak tau seperti apa itu penyakit tokso dan kami kan masih pada kecil-kecil. Aku masih kelas dua SD dan adikku belum sekolah, jadi bagaimana mungkin kami akan punya anak?

Sekeras apapun mamah melarang, papah sebaliknya. Dia malah membiarkan kami bermain dengan si mengmeng. Kadang-kadang jiga si mengmeng ku ajak tidur siang di kamarku. Karena papah pikir kami kan masih kecil-kecil dan sangat perlu memiliki hewan peliharaan. Belajar untuk mencintai hewan sejak kecil. Selain itu juga mengmeng sepertinya tahu balas budi, dia tidak pernah mencuri ikan yang ada di dapur, walaupun tidur di dapur. Dia selalu menjaga dapur kami dari serangan tikus-tikus nakal. Mengmeng juga tidak pernah merepotkan kami dengan kotorannya. Dia selalu buang kotorannya di halaman belakang rumah atau di WC. Jadi tidak ada alasan bagi mamah untuk melarang kami memelihara mengmeng.

Tapi dasar Mamah, dia selalu berusaha membuang mengmeng. Dia masih saja tidak suka dengan yang namanya kucing. Karena memang mamahku sejak kecil tidak diajarkan untuk memelihara hewan peliharaan.

Suatu hari di hari Minggu pagi, mamah dan papah membuang mengmeng ke pasar tanpa sepengetahuan kami. Sebenarnya papah tak ingin melakukan itu, tetapi mamah terus mendesaknya untuk membuang mengmeng di pasar. Mamah memikirkan kami, anak-anaknya agar tidak kecanduan kucing dan tertular penyakit. Papah terpaksa melakukannya agar istrinya tidak marah-marah walaupun beliau kasihan melihat kami yang bersedih karena mengmeng akan dibuang ke pasar.

Dengan mengendarai mobil, mengmeng berhasil dinaikkan ke dalamnya dan di buang ke pasar yang tak jauh dari rumah kami saat kedua orang tuaku pergi berbelanja.

Setelah berhasil membuang mengmeng mamah dan papah pun kembali ke rumah.

Tak disangka, ternyata mengmeng pun kembali ke rumah pada sore harinya. Ternyata ada tetangga yang melihat mengmeng turun dari dalam mobil saat jendela mobil kami terbuka karena lupa belum ditutup. Entah bagaimana caranya kucing itu bisa kembali. Mungkin saat kedua orang tuaku  sedang berbelanja kucing itu diam-diam menyelinap masuk ke dalam mobil yang jendela mobilnya terbuka.

Mengmeng memang kucing pintar. Sebanyak dan sekeras apapun usaha mamahku untuk membuang si mengmeng, sebanyak itu pula si mengmeng bisa kembali lagi ke rumah. Pernah juga ada yang melihat mengmeng turun dari langit-langit mesin mobil. Mengmeng sepertinya tak mau lepas dari aku.

Akhirnya mamah pun menyerah dan mulai menyukai kucing, terutama si mengmeng.
***
Suatu hari saat keluargaku pergi berlibur ke rumah uwak di Denpasar, kami pergi meninggalkan mengmeng di rumah. Saat kami pergi kucing itu selalu ada di rumah. Dia sepertinya mengerti kami pergi tidak lama dan seakan hendak menjaga rumah.

Dalam perjalanan ke Denpasar dengan mengendarai mobil, tidak jauh dari rumah uwakku lalu lintas kendaraan tiba-tiba menjadi macet dan bunyi klakson terdengar ramai saling bersahutan. Tidak seperti biasanya.

“Ada apa mah, pah.. kok macet?” tanyaku pada kedua orang tuaku.

“Iih, ko rame banget sih?” seru adikku kemudian.

“iya, yah. Ada apa?Pada bunyiin klakson jadi rame gini,” jawab papahku.

“Tumben yah pah?”Seru  mamahku kemudian.

Papah pun ikut membunyikan klaksonnya.

“Pah, daripada terus dibunyiin klaksonnya. Mending mamah keluar aja deh. Liat apa yang terjadi.” Ujar mamahku kemudian.

Mamahku pun turun dari mobil dan melihat apa yang terjadi di luar sehingga menyebabkan keributan.

Tak lama kemudian mamah kembali masuk ke dalam mobil dengan membawa sesuatu dalam pangkuannya.

“Meeong..meong..”

“Ahh.. kucing..” Seru aku dan adikku berbarengan.

“Ini nih pah yang bikin macet dan ribut. Ternyata kucing kecil ini sedang ada di tengah jalan. Mungkin dia  mau menyebrang jalan atau sedang mencari induknya. Trus orang-orang gak ada yang berani mengambilnya dan takut menabraknya. Akhirnya mereka membunyikan klaksonnya agar kucing ini segera pergi. Kucing kecil ini bukannya pergi menyebrang, tapi malah diam di tempat dan mengeong. Karena ia ketakutan mendengar bunyi klakson mobil yang bersahutan. Daripada kucing ini ketakutan, mending mamah ambil aja deh. Jalanan jadi gak macet dan berisik lagi kan?”

“Ooh.. iya. Ya udah kita pelihara aja mah, buat si teteh dan adek” Jawab papah.

“ Asyikk..punya kucing lagi, si mengmeng jadi punya temen.”Ujarku.

Sumber Gambar :  www.google.co.id Mirip seperti ini nih si Puspus ku dulu

Sumber Gambar :
http://www.google.co.id
Mirip seperti ini nih si Puspus ku dulu

Sesampainya di rumah uwak, aku pun segera mencari teh Nanin untuk memperlihatkan kucing yang kami temukan.

“Teh Nanin, liat nih teteh punya kucing lagi. Baru nemu tadi di jalan.” Kata adikku sambil menunjukkan kucing yang ada di dalam gendonganku.

“Iih lucunya, nemu di mana teh?” tanya teh Nanin kemudian.

“Tadi pas mau kesini, jalanan kan macet. Terus mamah turun. Terus nemu kucing anggora ini deh. Dan diambil kucingnya. Kucingnya mau teteh pelihara.” Jawabku

“Sini deh buat teh Nanin aja,” Ujar teh Nanin sambil mencandaiku.

“Gak boleh! Kucingnya teh Nanin kan banyak. Udah ada lima. Ada si manis ama empat anaknya. Masa mau punya kucing lagi. Nanti gak ke urus lagi. Week!” Kataku sambil menjulurkan lidah.

“Iih, kok gitu sih. Biarin aja kan yang bantuin jagain dan ngurusin si wak Iya (Pembantunya uwak dari Sultra).” Jawabnya.

“Gak boleh! Gak boleh!” Adikku ikut membelaku.

“Ya udah, gak apa-apa deh. Kalo gitu sini kucingnya dikasih susu dan makan dulu. Biar dia gak mengeong lagi.” Kata teh Nanin dengan nada yang mengalah.

Aku pun menyerahkan kucing anggora itu untuk di beri makan dan minum.

Menjelang malam kami pun pulang ke rumah. Denpasar-Sukawati sungguh perjalanan yang lumayan lama. Aku, adikku dan kucing anggora itu tertidur pulas di jok belakang.

Paginya, aku tak tahu apa yang terjadi. Karena saat aku terbangun aku sudah ada di dalam kamar bersama adikku. Pastilah saat aku tertidur papah yang menggendong aku dan adikku  dari mobil ke dalam kamar. Aku pun bersiap-siap untuk berangkat sekolah dan menunggu jemputan bis sekolah di depan rumah.

Menjelang sore, aku kembali ke rumah. Aku pun segera bergegas berganti pakaian dan mencari-cari si mengmeng dan kucing anggora yang kemarin ditemukan oleh mamah. Ternyata si mengmeng dan kucing angora itu sedang makan di dapur. Dia makan di tempat yang disediakan oleh mamah.

Setelah mereka selesai makan, kami pun bermain. Mainan kesukaan si mengmeng adalah gulungan benang yang ditarik-ulur. Ternyata si anggora itu pun menyukai juga. Mereka berdua cepat akrab. Kami bertiga pun bermain bersama.

Si Mengmeng dan anggora itu pun menjadi milik aku dan adikku sekarang. Kucing anggora itu ku beri nama si Puspus. Karena ia pun sama seperti si mengmeng, mau menyahut saat ku panggil puspus. Kami sekeluarga menyukai si mengmeng  dan si puspus. Si mengmeng dan si puspus pun sangat akrab, seperti adik kakak saja.
***
Setelah menemukan si puspus, Beberapa bulan kemudian kami sekeluarga pindah ke Ubud. Ya hal itu di maklumi karena papahku yang seorang kepala cabang dari salah satu bank daerah di Bali dipindah tugaskan untuk membuka dan memegang cabang baru di Ubud.

Kami sekeluarga pun pindah sambil tak lupa membawa kedua kucing kami, si Mengmeng dan si Puspus. Hal itu menjadi keputusan kedua orang tuaku, karena mereka berdua adalah kucing jantan jadi tak mungkin mereka akan beranak.

Sudah hampir tiga tahun mengemeng aku pelihara. Dan si puspus Dua tahun. Otomatis ikatan kami begitu kuat. Mereka tidak lagi kuanggap sebagai hewan peliharaan tetapi juga teman bermainku. Apalagi di rumah baru kami, di Ubud. Kami tak punya teman bermain. Rumah kami hampir di kelilingi oleh sawah. Samping sawah, belakang pun sawah. Depan rumahnya adalah bank di mana papahku bertugas. Kami tak punya tetangga dan akan yang seusia dengan kami berdua. Kalo pun ada, aku seringnya bermain dengan pesuruh kantor papah, Om Wayan. Ataupun dengan pemilik kolam renang umum yang ada di depan rumah kami dan menjadi langganan kami berenang.

SI Mengmeng dan si Puspus benar-benar teman yang setia bagi kami. Saat kami pulang mudik ke Bandung, Om Kadek yang mengantarkan kami ke terminal. Dia tak sendiri, dia selalu ditemani dengan si Puspus dan si Mengmeng. Bukannya om Kadek yang mengajak mereka berdua, tetapi mereka berdualah yang naik dengan sendirinya ke dalam mobil. Dan ikut pulang kembali ke rumah bersama om Kadek, Supir kami.

Sebagai teman, kami juga pernah berbuat jahil. SI Mengmeng dan puspus aku mandikan. Karena mereka tidak pernah kami mandikan. Niatnya agar mereka menjadi bersih.

“Teh, kan kata mamah kalo kucing itu jangan dimandikan. Nanti bisa ujan gede loh.. Trus ada geledek besar lohh..!” kata adikku.

“Ah boong itumah. Yuk ah kita mandikan kucing-kucing ini biar cakep. Adek mau bantuin teteh pegang si mengmeng dan si Puspus gak?” Kataku pada adikku.

Adikku pun menuruti perintahku. Tapi dasar jahilnya kami, kucing-kucing itu tidak kami mandikan pada pagi hari atau siang hari. Tetapi malah kami mandikan saat sore hari, sekitar jam 5an. Dan kami mandikan dengan sampo serta air dingin.

Si mengmeng dan si puspus kami mandikan dengan sukses. Tapi mereka kelihatan menggigil dan langsung menjauh dari kami.

“Bbbrr.. aku kedinginan.. kamu kedinginnan gak pus?

“Iii..ya.. aku juga kedinginan nih Meng.. Tega banget ya kedua majikan kita?”

“I..ya.. nih mana gak ada matahari, lagi. Kita menggigil begini,, Kok tega ya.. Kita pergi aja yuk pus?”

“Ayoo..bbrrr…brr.. kita cari tempat yang hangat yuk meng,,”

Dan setelah itu, selama beberapa hari hujan besar datang disertai geledek yang menggelegar.. bersamaan dengan mengmeng dan puspus yang tak kami temui kembali. Memang sudah musim hujan ataukan kata-kata adekku yang benar, “Jangan memandikan kucing, nanti ada hujan dan geledek”. Entahlah.
***
Suatu hari, mamah dan papah pergi keluar cukup lama. Mereka pergi les bahasa Inggris. Dari jam lima sore hingga jam tujuh malam mereka belum kembali juga, padahal tempat lesnya tidak jauh dari rumah kami.

Aku dan adikku sangat ketakutan, karena hanya kami berdua yang ada di rumah saat itu. Kami tak tahu si Puspus dan si Mengmeng ada di mana sejak insiden itu hingga kini mereka belum kembali.

Sungguh terlihat sangat mengerikan rumah baru kami ini, apalagi rumah kami yang hampir di kelilingi sawah dan tidak ada tetangga yang mengelilingi kami menambah suasana seram rumah ini. Rumah kami sering kemasukan ular.

Aku yang takut akan ular kembali masuk ke rumah dan harus menjaga adikku ini saat itu ingin pipis. Karena kamar mandi dan dapurnya ada di luar rumah, aku pun mengurungkan niatku untuk pergi ke ke kamar mandi.

“Dek, kita ke rumah Om Made yuk. Teteh takut nih sendirian. Apalagi gak ada Om Wayan lagi. Mamah papah juga belum pulang”

“Om Made siapa teh?” Tanya adikku.

“Itu, om Made yang rumahnya di seberang kantor papah. Yang Punya Andong Swimming Pool. Kita kesana aja yuk. Takut nih disini sendirian. Takut ada ular. Mana si Mengmeng dan si Puspus gak ada lagi.” Kataku kemudian.

“Tapi kan teh, ada si Onyet.” Jawab adikku sambil menunjukkan boneka monyet besar yang duduk di jok kursi di depan pintu masuk di luar rumah.

“Ih adek itukan boneka, bukan kucing. Gak bisa ngapa-ngapain. Kalo si Mengmeng dan si puspus mah bisa kita ajak main. emangnya adek gak takut apa? Ya udah kalo adek gak takut disini aja sendirian. Teteh tinggal!” Aku pun segera berlari menembus gelapnya malam.

“ Teteh Tunggu, Adek Ikut!!!” teriak adikku.

Akhirnya adikku pun menyusulku. Untung saja, jalan raya di malam hari tidak ramai sehingga kami bisa menyebrang.

Om Made pun kaget melihat kami berdua saat kami sampai di depan pintu rumahnya.

“Loh, kalian berdua sama siapa kesini? Mana papah dan mamah kalian?”

“Cuma kita berdua om. Mamah papah lagi pergi les bahasa Inggris, om. Belum pulang. Kita takut berdua om disana. Soalnya kucing-kucing kita juga gak ada. Kita takut gelap om. Suka ada ular Om masuk ke rumah.”jawabku.

“Iya om, kita takut ada Ular. Si mengmeng ama si puspus nakal om, gak nemenin kita. Mereka gak tau ada dimana om. Udah lama ilang. Gara-gara ama kita dimandiin. Biasanya kan mereka yang nemenin kita.” Ujar adikku.

“Siapa itu Mengmeng dan Puspus?” tanya om Made.

“Kucing-kucing kita om.” Jawabku.

“Oh Kalo begitu kalian diam sajalah dulu disini. Sampai mamah dan papah pulang. Mau makan?” kata Om Made.

“Mau om.” Jawab kami kompak

Sudah hampir tiga jam, mamah dan papah pun belum kembali. Kami pun mulai gelisah. Walau mata ini sudah mengantuk, tetapi kami tidak bisa tidur dan memaksakan diri untuk menonton teve.

Setengah jam kemudian.

Tok..tok..tok..

“Permisi pak Made, apa kedua anak saya ada di sini?” tanya seorang pria dari balik pintu.

“Ica dan Dinda?” Tanya Om Made

“Iya betul pak Made.”

“O iya ada..ada.. mereka berdua ada di sini. Tuh mereka sedang menonton teve. Silahkan masuk pak”
Pria itu pun duduk di sofa yang ada di ruang tamu.

“Ooh syukurlah. Kami sudah sejak sejam lalu mencari mereka tetapi tidak ketemu juga. Kami juga hampir saja lapor ke polisi karena mereka hilang. Tetapi istriku ingat anda pak Made. Karena anak-anak kami sering berenang disini dan mereka kan sudah akrab dengan anda. Jadi istri saya merasa kedua anak kami ada disini.”

“Iya betul pak. Jam 7 tadi, Icha dan Dinda ke sini. Katanya papah dan mamahnya belum pulang, masih les bahasa Inggris. Terus katanya, mereka juga takut kalau-kalau ada ular  masuk ke dalam rumah.”

“Iya betul pak Made. Kami terlambat pulang hari ini. Karena kami hari ini ada ujian. Terimakasih pak Made.”

“Iya sama-sama pak. Sebentar pak, saya panggilkan dulu kedua anak bapak. Icha.. Dinda.. kesini nak, papah dan mamah kalian jemput”

Kami pun berhamburan ke dalam pelukan mamah dan papah.

“Syukurlah kalian ada disini. Hampir aja papah dan mamah lapor ke kantor polisi. Disangakanya kalian ilang. Soalnya pintu rumah gak di kunci dan di depan kursi hanya ada si onyet yang lagi duduk manis.” Kata mamah dengan penuh kekhawatiran.

“Maafin teteh. Abisnya teteh sama adek takut di rumah berdua aja.”

“Iya, gak apa-apa. Yuk mari kita pulang.” Ujar papahku.

“Salam dulu yah sama om Made sebelum pulang” Kata mamah.

Kami berdua pun mengangguk.

“Mari pak Made, kami pulang dulu. Selamat Malam.” Kata papah.

“Malam pak. Sampai ketemu besok ya anak-anak” Ujar Om made sambil melambaikan kedua tangannya kepada kami.

Sesampainya di rumah, kami melihat si Onyet masih duduk manis di jok kursi di depan pintu di luar rumah dan di sebelahnya ada si Mengmeng dan si Puspus yang sedang tertidur pulas. Akhirnya mereka telah pulang kembali.
***
Beberapa bulan kemudian kabar gembira hadir di rumah ini. Mamahku mengandung lagi. Otomatis aku akan punya adik baru. Tetapi ketidaksenangan mamah kepada kucing-kucing kumat kembali.

“Pokoknya kucing-kucing ini harus di buang!” Mamahku marah suatu hari dengan alasan yang gak jelas.

“Tapi mah, Mengmeng dan Puspus kan udah jadi seperti teman kami. Kenapa harus di buang?” tanyaku.

“Mamah gak mau punya anak yang cacat karena tokso dari kucing-kucing ini. Kucing-kucing ini harus di buang.” Kata mamah.

“Mah. Jangan mah. Kasihan si Mengmeng ama si Puspus mah. Mereka makannya gimana? Eeknya dimana?” kata adikku.

“Ah..ngapain dipikirin. Kan selama ini yang ngasih makan dan minum kan mamah bukan kalian. Kalian hanya main-main aja ama mereka.” Kata mamah.

“Kata siapa? Teteh juga suka ngasih makan kok ke mereka. Mamah lupa ya?”

“Harus dibuang, titik!”

“Mah..” Adikku mengeluarkan air mata agar mamah hatinya luluh.

“Mah, gimana kalo yang dibuang si Mengmeng aja. Si mengmeng kan udah gede jadi udah bisa cari makan sendiri. Kalo si Puspus kan masih kecil, kasihan mah. Lagian kan si Puspus mamah yang nemuin. Kasihan mah.” Kataku menawarkan solusi.

“Oke kalo begitu. Besok sore teteh buang si Mengmeng sama papah.”

“Iya mah,” Jawabku dengan wajah tertunduk.

SI mengmeng pun ku bawa ke dalam mobil keesokan sorenya. Si mengmeng kelihatannya senang bukan kepalang saat ku ajak pergi. Dia menggerak-gerakkan ekornya.

Karena papah ada keperluan terlebih dahulu ke rumah temannya, kami pun di bawa keliling-keiling terlebih dahulu. Setelah selesai dengan urusannya, si mengmeng pun kami berikan ke salah satu nasabah papah yang juga adalah orang tuanya temen adikku di TK. Dia seorang pelukis yang ada di Ubud.

Aku dan adikku sedih saat kami harus kehilangan mengmeng kembali. Puspus pun tak kelihatan. Ah, mungkin dia sedang jalan-jalan mencari teman baru, begitu pikirku.

Keesokan harinya, saat aku membeli bakso. Aku melihat si Mengmeng dan si Puspus ada di halaman depan rumah. Mereka sedang bermain bersama. Aku senang bukan kepalang.

“Dindaaaaaaaaaaa.. cepet ke sini..si Mengmeng ada lagi..” teriakku memanggil adikku.

“Mana teh..mana teh?” tanyanya dengan girang.

“Ituu lihat..yang lagi main sama si puspus siapa? Mengmeng kannn..” Jawabku.

“Oh iya bener..”

Papah dan mamah yang mendengar kegaduhan kami pun segera menghampiri kami.

“Kok bisa yah? Padahal kan tempat pelukis itu ke rumah kita jauh, ada 3 km an.. gimana bisa pulang dia?” tanya papahku keheranan.

“Iihh.. kok ada lagi sih kucingnya?” kata mamahku..

“Mah. Si Mengmeng gak mau jauh-jauh dari kita dan si Puspus mah.. tuh dia balik lagi..” Kata adikku.

Akhirnya mamah pun kembali menyerah.

“Ya udah gak apa-apa.. asal jangan diciumin, jangan diajak tidur.. jangan dekat-dekat ama mamah.” Ancam mamah.

“Oke, siap!! Jawab kami berdua kompak.

Karena saking gembiranya, adikku pun membawa si Puspus ke dalam kamar. SI puspus di sayang-sayangnya dengan berlebihan. Ditindihnya si puspus dengan bantal saat adikku sedang bermain “Digger” di komputer. Sedangkan aku? Aku pun memberikan si Mengmeng makan dan membiarkannya beristirahat.
***
Enam bulan kemudian

“Pus..pus..pus..meng..meng..Meng..” Aku memanggil kedua kucingku itu.

Hari ini aku akan pindah ke Bandung. Bukan karena papahku akan dipindahkan untuk memegang cabang baru lagi disana, tetapi karena kepindahan ini adalah benar-benar kepindahan kami. Papahku resign dari kantornya dan murni untuk mencoba kehidupan baru kami di tempat asalnya. Dan aku ingin sekali membawa kedua kucingku itu yang telah setia menemani aku dan adikku selama ini.

Tetapi apa yang terjadi? Saat si mengmeng dan si puspus kupanggil-panggil dan akan kubawa mereka. Mereka tidak datang mengeong dan menghampiriku. Mungkin mereka tahu kami akan pindah dan memulai hidup baru di Bandung.  Aku menungguinya hingga esok pagi kami akan berangkat. Tetapi kedua kucing itu telah pergi meninggalkan keluarga kami terlebih dahulu dengan berjuta kenangan yang tersimpan. Dan kami tak pernah menemui keduanya lagi hingga kami pindah ke Bandung. Entahlah apa yang terjadi? Mungkin Si Puspus dan Si Mengmeng tak mau ikut dengan kami ataukah ia telah diambil orang saat mereka berdua berjalan-jalan di jalan? Atau kah mereka tertabrak mobil saat mereka menyebrang?

Tapi yang pasti, kenangan aku akan kedua kucing itu selalu membekas di hati. Dan di tempat baru ini, di Bandung. Kami selalu kedatangan kucing-kucing yang menemani kami dengan setia .

“Postingan ini diikut sertakan dalam Giveaway Aku dan Peliharaanku”

aku dan peliharaanku

Iklan

7 comments on “Mengmeng dan Puspus

  1. Muna Sungkar
    Agustus 22, 2013

    Kuciiinggg…. Aku jg suka bgt teh ma kucing, sedih deh kl ada org blg ga bisa hamil gara2 kucing, pdhl kl dipelihara dgn baik insyaallah mrka shat. Lgian toko g sllu krn kucing lohh…
    Sukses teh buat GA nya 🙂

    • ayundaslamet
      Agustus 22, 2013

      Wah kesukaan kita sama ya mba muna? Ayo Mba muna udah ikutan GA ini belum?
      Ikutan yukks..

  2. Chaidir's Web
    Agustus 23, 2013

    Widiiih.. puanjang bener nih tulisannya.. saya jadi gak baca sampai habis.. ^_^
    Hehehe..

    Sukses yaa mbak GA nya..
    Saya gak punya hewan peliharaan.. -_-

  3. Revipratiwi
    Agustus 23, 2013

    Wah si mengmeng serem juga ya.

  4. Artie
    Agustus 25, 2013

    hihi.. susu collostroum diberikan ke si manis..
    karena sebelumnya sy sempat baca https://tajdiidunnisaa.wordpress.com/2013/07/20/cahaya-di-tanah-sunda/ kaitannya jelas terasa 🙂
    Makasih banyak ya sudah ikut meramaikan GA..

  5. nick
    Agustus 25, 2013

    duh kalo dulu yg bikin macet si komo sekarang si mengmeng, you will be missed meng!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 22, 2013 by in Tulisan untuk Lomba Blog dan Give Away.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 39,597 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: