My Corner (Happy Think, Happy Life)

Cahaya di Tanah Sunda

Ketika tahun 1996, sebelum terjadinya krisis moneter. Aku beserta keluargaku (papa, mamah yang sedang mengandung adik ketigaku, dan adikku) pindah ke Bandung. Kami pindah dari Ubud, sebuah desa yang terletak di pulau dewata nan indah. Saat itu aku baru beberapa bulan naik ke kelas 4 SD. Aku tak tahu mengapa saat itu kami semua harus pindah dan kembali ke kampung halamannya mama dan papah ke tanah sunda, Bandung.

Papah yang sejak tahun 1986 sudah merantau bersama mamah ke Bali Sehingga aku dan adikku pun lahir di pulau dewata tersebut.Beliau bekerja sebagai karyawan di sebuah bank swasta di Bali. Kariernya semakin menanjak hingga menjadi seorang kepala cabang dan di percaya memegang cabang di Sukawati dan Ubud, dan yang terakhir kami harus pindah ke Ubud karena kepercayaan dari atasan papah di kantor.

Di Ubud adalah puncak kejayaan bagi karier papah. Di sana hidup kami sudah enak. Disediakan rumah dinas, mobil dinas+ supirnya, listrik dan telepon pun di bayarin kantor. Aku pun di kenal oleh teman-teman di sekolah karena bapaknya mereka banyak yang menabung dan kredit di kantor papahku (karena memang bank nya hanya satu, bank yang papahku pimpin saat itu) dan bapaknya mereka sangat mengenal papahku.

Ubud adalah desa yang eksotis dan ramah. Setiap aku dan teman-teman  pulang dari sekolah, kami selalu melewati balai seni tempat para bule menonton tarian bali dan para penari berlatih menari Bali. Kami pun sering berpapasan dengan para bule. Selain itu, di Ubud orangnya ramah dan biayanya murah. Sekolahku saja saat itu hanya membayar SPP Rp. 500, itu pun kadang aku di bayarin oleh guru wali kelasku (hanya sayang aku lupa nama beliau). Waalupun aku adalah seorang muslim, teman-teman, guru hingga kepala  sekolah di sekolahku pun mengenalku. Hingga ketika aku akan pindah ke Bandung aku di banjiri berbagai hadiah antara lain buku tulis, kain bali, dll. Mungkin karena aku selalu masuk rangking 3 besar. Mereka semua merasa kehilanganku, .

Sebelumnya aku tak tahu mengapa kami semua harus pindah. Karena beberapa bulan sebelum kepindahan kami ke Bandung, aki meninggal dunia. Mamah (yang sedang mengandung adik bungsuku) dan adikku yang masih TK pun pulang duluan ke Bandung. Setelah masuk liburan sekolah, aku dan papahku pun menyusul mereka berdua ke Bandung. Karena setelah aki meninggal, omku yang pangais bungsu akan melangsungkan pernikahannya di Jakarta.

Tak lama setelah itu, liburan sekolah pun usai dan kami kembali ke Ubud. Setelah beberapa bulan di Ubud.

“Teh, caturwulan II nanti teteh pindah ke Bandung. Kita nanti pindah ke Bandung”, begitu kata papahku suatu hari.

Aku pun saat itu hanya menurut saja. Sebenarnya sedih rasanya saat aku harus meninggalkan teman-teman dan guru di sekolah yang sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri juga uwakku (kakaknya papah) yang ada di Denpasar yang sudah mengurusku saat aku TK. Karena hanya merekalah penyemangat dan penghiburku sekaligus teman mainku. Aku dan adikku memang tak punya tetangga di sana kecuali pemilik kolam renang yang ada di seberang rumah. Depan rumah dinas kami adalah kantor tempat papahku bekerja sedangkan belakangnya adalah sawah yang luas terbentang wilik warga sekitar. Selain itu rumah warga juga letaknya berjauhan dan masih jarang.

Sebelum kepindahan kami, kedua orang tuaku dicibir oleh uwak dan keluarganya. Keputusan kami untuk pindah di ragukan oleh mereka.

“Punya apa kamu disana? kamu ini sombong! Sudah enak disini, pake pindah segala. Make bawa anak segala!”

Begitulah kira-kira kata-kata mereka yang meragukan kepindahan kami ke Bandung. Sebenarnya mereka gak rela kalo kami harus pindah ke Bandung, karena konon katanya aku adalah anak kesayangan uwakku. Dan kepindahan kami membuat mereka bersedih. Tapi tekad kedua orang tuaku untuk pindah ke Bandung sudah bulat.

Kami pindah ke Bandung hanya bertiga dahulu, karena papah masih menyelesaikan urusan kantornya dan akan menyusul kemudian. Kami menempati sebuah rumah kosong milik aki dan ene yang dahulunya adalah gudang tempat menyimpan bahan-bahan bengkel trafo milik almarhum aki. Setelah di benahi akhirnya jadilah hunian kami yang sederhana. Rumah ene dengan kami berdekatan. Selain itu juga ada rumah uwak (kakak mamah yang ketiga) dan rumah mang serta bibi (adik mamah, anak ene no 11 dan 12) yang berada di sana. Ya, rumah ene dikelilingi oleh rumah anak-anaknya.

Setelah beberapa bulan papah pun datang dan menyusul kami ke Bandung. Bagi kami saat itu papah benar-benar berubah 180 derajat. Papah menjadi tegas apalagi dalam hal solat dan ibadah. Jika aku dan adikku tidak mau solat, terutama solat subuh kaki kami akan dipukul dengan tangan kosong ataupun sapu lidi. Kami semua berpikir papah menjadi aneh dan ikut aliran tertentu.Di Bali kami  melaksanakan ibadah sebagai muslim hanya sebatas puasa, solat idul fitri, solat idul adha, solat jumat dan tarawih. Solat wajib lima waktu jarang kami laksanakan, karena kami tak tahu itu adalah kewajiban dan apa pentingnya solat lima waktu saat itu. Karena betapa susahnya kami menemukan masjid. Jarak tempuh dari rumah ke masjid pun paling dekat adalah sejauh 5 km.

Di Bandung aku masuk ke sebuah SD negeri. Beberapa bulan disana aku merasa gak betah. Mungkin karena masih penyesuaian dengan pelajaran dan teman-temannya. Aku kangen sekali dengan teman-temanku di Ubud. Apalagi setelah aku mengalami pembullyan yang dilakukan beberapa teman kepadaku.

Selain itu kondisi keuangan papah dan mamah makin lama makin menipis saja. Papah yang resign dari kantornya dan ketika di Bandung sudah tidak bisa melamar lagi karena umurnya udah tidak mencukupi untuk persyaratan mengajukan lamaran. Jadilah mamah dan papah bekerjaa membanting tulang, bekerja siang malam mulai dari menjadi sales handbody, multivitamin, briket kompor batu bara, kompor gas, minuman, makanan, berjualan makanan frozen food  (Sosis, kentang, nugget, burger, dkk) hingga menjadi sales asuransi.

Mamah merasa berat dengan kehidupannya sekarang. Biasa dahulu pulang pergi diantar supir, uang belanja ada dan tercukupi, biasa berlibur weekend ke pantai kuta atau sanur dan menginap di rumah uwak. Sedangkan sekarang harus kembali ke titik nol, tanpa memiliki apa-apa. Saudara dan teman-teman kedua orang tuaku yang melihat kami ada di Bandung pun kaget karena kedua orang tuaku kini berjualan. Tapi mamah selalu bilang,

“Bakat saya mah. Bakat ku butuh.”

Walaupun rumah kami dekat dengan ene, tapi kami pantang meminta nasi ataupun lauk pauknya kecuali dikasih. Mental itu sudah kedua orang tuaku tanamkan di jiwa anak-anaknya ketika masih merantau dahulu. Maka sejak di perantauan hingga kini harus kembali ke kampung halaman orang- orang selalu  melihat kami sebagai orang yang berkecukupun tanpa kurang sesuatu apapun. Padahal tanpa mereka ketahui, kami saat itu seringkali hanya makan nasi ditambah garam dengan kerupuk pedas, supaya menambah rasa dan selera.  Paling mewah kami makan dengan telor yang dikocok dan dibagi empat bagian.

Hal yang paling berat yang aku rasakan saat itu adalah saat aku akan masuk ke SMP. Kedua orang tuaku tak punya uang. Mamah menunjukkan uang yang ada di dompetnya. Hanya ada selembar uang seribu rupiah yang nangkring manis di dompetnya. Saat itu aku pun berkecil hati, dan tak yakin akan bisa meneruskan sekolah. Aku pun pasrah jika harus diam di rumah membantu mamah untuk menjaga dan mengurus kedua adikku. Aku menghibur diri dengan ikut kegiatan pesantren kilat yang diadakan di madrasah tempat aku mengaji. Alhamdulillah tak lama kemudian kedua orang tuaku pun menyusul ke tempat di mana aku melaksanakan pesantren kilat.

“Teh, ayo kita daftar ke SMP,” kata mamahku.

Aku pun kaget dan heran sekaligus senang.

“Mah, emang ada uang gitu buat daftar?” Tanyaku.

“Alhamdulillah ada. Papah dan mamah baru dapat rejeki. Uwak nitipin uangnya buat biaya teteh masuk SMP.”

“Alhamdulillah, mah. Ayo!”

Alloh pun menolong kami melalui hambanya.

Mamah yang semula sudah menjabat sebagai manajer di sebuah perusahaan asuransi harus merelakan untuk melepas jabatannya demi adik bungsuku yang masih kecil dan membantu usaha papah berdagang makanan frozen food dengan menunggui pelanggannya di rumah sedangkan papah pergi berkeliling keluar. Alhamdulillahnya setelah itu usaha kedua orang tuaku pun maju pesat hingga aku kelas tiga SMA.

Sejak SD kelas 5 aku pun mulai mengikuti kegiatan keagamaan di Bandung. Mengaji dan ikut berbagai kegiatan pesantren kilat di sekitar rumah maupun di luar lingkungan rumah hingga ke mesjid-mesjid besar. Aku pun mempunyai banyak teman dan kenalan dari sekolah lain. Begitupun dengan adikku. Kami berdua berlomba-lomba mengumpulkan sertifikat kegiatan tersebut. Papah yang memotivasi kami berdua. Ia membelikan kami masing-masing sebuah binder map untuk menyimpan sertifikat-sertifikat tersebut. Alhamdulillahnya masih ada sampai sekarang dan beberapa sertifikat sudah tidak tertampung lagi di tempatnya.

Setelah ekonomi keluarga kami menanjak naik kami pun mempunyai seorang pembantu. Dia bukan seorang pembantu biasa. Tetapi dia adalah seorang kakak, dan guru spritual kami semua. Darinyalah kami sekeluarga belajar solat, mengaji dan belajar menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Namanya teh Iis. Dia bahkan sudah dianggap anak oleh mamahku.

Selama 5 tahun dia tinggal dan membantu kami, kami merasa nyaman dan senang dengannya. Pekerjaannya pun rapih dan selalu beres. Teh Iis pun mencontohkan akhlak yang mulia melalui jilbabnya hingga kemudian Aku,mamahku, dan adikku pun kemudian memutuskan untuk berjilbab. Dan teh Iis pun akhirnya harus berpisah dengan kami karena ia harus menikah. Uniknya calon suaminya tersebut meminta teh Iis kepada kedua orang tuaku karena dikira ia adalah anak mereka.

Aku yang telah dewasa pun akhirnya mengetahui alasan kepindahan kedua orang tuaku dari Bali ke Bandung.

“Papah dan mamah pindah dari Bali ke Bandung hanya ingin menyelamatkan agama kita dan menyelamatkan kalian. Karena papah dan mamah gak mau kalian jadi salah pergaulan di sana dan pindah agama”

GA hikmah di balik peristiwa

“Tulisan ini diikutsertakan dalam momtraveler’s first Giveaway “Blessing in Disguise”

(Pemenang ke II berhadiah Mukena Bali)

Iklan

15 comments on “Cahaya di Tanah Sunda

  1. Muna Sungkar
    Juli 20, 2013

    Subhanallah alesan kepindahannya tyt mulia banget ya.. Salut buat ma2 pa2 yg mo mengorbankan smua kenikmatan demi kebaikan anak2.
    Thanks for partisipating 🙂

  2. Insan Robbani
    Juli 20, 2013

    Subhanallah…. sungguh di paragrap terakhir yang membuatku merasakan kebanggaan terhadap Papah dan Mamahnya…
    Semoga Allah merahmati beliau berdua…

  3. Esti Sulistyawan
    Juli 20, 2013

    Subhanallah…Mamah Papah mu hebat Mbak 🙂

  4. niken kusumowardhani
    Juli 21, 2013

    Berani hijrah dari Bali ke Bandung untuk menyelamatkan agama, sungguh sebuah keputusan yang berpetunjuk.

  5. Artie
    Agustus 19, 2013

    Salut buat mama dan papa nya..
    Sebuah keputusan yang belum tentu semua orang berani melakukannya.. demi keyakinan..
    Luar biasa..
    Salam kenal, kunjungi blogku juga ya 🙂

    • ayundaslamet
      Agustus 21, 2013

      iya mba artie salam kenal juga..
      Siap mba siap saya akan berkunjung..

      Siapkan aja jamuannya yah..heheh 🙂

  6. Uniek Kaswarganti
    Agustus 31, 2013

    aih, nggak kepikiran sama sekali loh alasan papah dan mamahnya sebenarnya itu, kirain ada masalah apa gitu di Bali. Semoga Allah selalu memberikan keselamatan dan kesehatan kepaa papah, mamah, mba dan adek2nya ya.

  7. Ping-balik: When Blessings Are Revealed: Jawara Kontes My First Giveaway | momtraveler's Blog

  8. putuwinda
    September 6, 2013

    teteh aku terharu bacanya, everything happens for the reason. kisah teteh hampir sama dengan kisah aku tapi sedikit beda versi 🙂

    • ayundaslamet
      September 6, 2013

      oh iya? sok atuh tulis di blognya.. nanti saya kunjungi..

      Putu Winda orang bali juga? soalnya namanya putu.. heheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 20, 2013 by in Tulisan untuk Lomba Blog dan Give Away.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 39,597 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: