My Corner (Happy Think, Happy Life)

Haji Asfal

pak haji 1

Asfal adalah seorang penjahit. Setiap hari kerjaannya adalah menjahit sesuai orderan, walaupun tidak banyak  tetapi hasilnya cukup untuk menyambung kehidupan ia dan anak istrinya.

Tita, istri Asfal seorang penjahit adalah istri yang tak pernah mengeluh. Ia adalah istri yang setia menemani suaminya dalam keadaan susah sekalipun. Darinya, Tita memiliki lima orang anak.

Keadaan ekonomi Asfal dan Tita lama-lama mengalami kemajuan. Usaha menjahitnya laris manis. Dari hasil kerja keras suaminya, Tita pun menyisihkan sebagian uang untuk menyewa toko makanan dan kebutuhan pokok yang terletak di pinggir jalan tak jauh dari rumah mereka.

Ternyata Tita juga bertangan dingin sama seperti suaminya. Usaha toko makanan dan kebutuhan pokok sewaannya pun berkembang dan menghasilkan banyak keuntungan. Tak lama mereka pun bisa membeli toko yang disewanya.
Keberhasilan Tita dan Asfal tentu saja membuat warga kampung senang. Karena mereka tak usah jauh-jauh lagi pergi ke kota untuk memenuhi membeli dan memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Kelima anak Tita dan Asfal sudah dewasa. Diantara mereka ada yang meneruskan ke jenjang perguruan tinggi hingga menjadi PNS dan ada pula yang hanya menamatkan SMA karena mengikuti  jejak kedua orangtuanya menjadi wirausaha.

Asfal dan Tita kini menjadi OKB alias Orang Kaya Baru di kampungnya tersebut. Mereka tak hanya memiliki satu toko tetapi juga beberapa toko yang mereka beli dan sewakan kepada orang lain.  Tanah dan sawahnya pun luas dan dimana-mana. Semua harta kekayaan tersebut mereka wariskan kepada kelima anak mereka.

Pekerjaan menjahit yang dulu menjadi ladang pembuka pintu rejekinya perlahan-lahan ia tinggalkan, karena ia kini memiliki usaha baru, yaitu sebagai penjual materi bangunan.

Kekayaan dan keberhasilan yang diperoleh oleh mereka bukan tanpa halangan dan hambatan. Mereka melalui proses yang panjang, 12 tahun. Mereka menjalaninya dengan penuh ujian, walaupun akhirnya bisa berhasil.

Tita dan Asfal adalah orang yang rajin beribadah ritual. Sehingga ketika mereka telah sukses dan berhasil, mereka pun pergi menunaikan ibadah haji.

Sekembalinya dari berhaji, Asfal dan Tita pun memiliki gelar baru, Haji Asfal dan Hajjah Tita. para pembeli dan warga kampung pun menyebut toko yang dimiliki oleh mereka bukan dengan nama tokonya tetapi dengan nama pemiliknya, Toko Haji Asfal.

Seperti kebiasaaan di kampungnya pada umumnya, jika seorang lelaki yang telah sukses dan kaya biasanya memiliki istri lebih dari satu orang.

Suatu hari temannya mencandainya dan berkata,

“Pak haji, naha teu nyandung? pan pak haji teh geus sukses. Pan biasana anu geus maraju teh pamajikannana sok leuwih ti hiji” 1

“Ah urang mah moal. Urang Karunya ka pamajikan urang, inget ka pengorbanan pamajikan ti masa-masa susah jeung manehna babarengan, ngarintis usaha nepikeun ka maju kieu.”2

Sungguh setia sekali Asfal ini kepada istrinya. Ia tidak mau membagi hatinya dengan wanita lain, hanya karena ia sudah berhasil dan sukses.

Asfal dan Tita yang sudah sukses, selama 40 tahun ini hampir setiap tahun bolak-balik ke Mekah untuk Haji dan Umrah.
Sayangnya dibalik kesuksesan ia selalu lupa. ia punya kebiasaan buruk yaitu lidahnya yang tidak bisa dikontrol, ceplas ceplos kalau berbicara dan suka ngomong seenaknya. Sering sekali tetangganya ataupun orang yang berinteraksi dengannya merasa sakit hati akibat ucapannya tersebut.

Tita, istrinya pun demikan tak jauh berbeda dengan suaminya. Mereka senang sekali meremehkan dan merendahkan orang lain. Mereka merasa bahwa hanya merekalah orang paling kaya dan paling hebat di kampungnya tersebut.

Suatu hari salah seorang tetangganya hendak memperbaiki dan membangunnya rumahnya. Namanya pak Hamid. Ia ingin memperbaiki rumahnya karena rumahnya sudah tua dan hampir roboh. Pak Hamid adalah seorang pedagang di pasar. Ia orang yang taat beribadah juga. Hanya saja ekonominya masih jauh berbeda dengan haji Asfal. Haji Asfal dan tetangganya yang lain heran, bagaimana bisa pak hamid membangun dan memperbaiki rumahnya padahal ia hanyalah seorang pedagang biasa di pasar dan memiliki penghasilan yang pas-pas an?. Sebenarnya wajar saja pak Hamid bisa memperbaiki rumahnya karena ia memiliki empat orang anak yang soleh-soleh. Mereka bergotong royong dan menyumbang dan memperbaiki rumah orang tuanya agar tidak roboh.

Pak Hamid adalah teman bermain bulutangkis Haji Asfal. Karena merasa mereka berteman, pak Hamid berpikir lebih baik membeli bahan material dari haji Asfal, walaupun  harganya aga mahal daripada yang lainnya.

Anak-anaknya tidak mengizinkan ataupun melarangnya membeli bahan material dari haji Asfal walaupun mereka tahu  betul seperti apa karakter haji Asfal. Mereka semua hanya ingin menjaga perasaan ayahnya karena merasa sebagai teman bermain Bulu tangkis haji Asfal.

Tina, anak pak Hamid pernah dikomentari oleh haji Asfal ketika melewati tokonya,

“Tina, eta tiung meni panjang- panjang teuing. Siga istri teroris”3 kata haji Asfal

“ Yeuh pak haji. Lainna pak haji teh geus ka haji? Tapi naha omongannana teu bisa dijaga? Urang wae can pernah nincak mekah”4, jawab Tina dengan nada marah.

“Nya eta tiung teh meni panjang-panjang teuing atuh siga istri teroris”5, sambut haji Asfal kemudian”

Walaupun dengan sakit hati, Tina pun pergi meninggalkan haji Asfal. Haji Asfal berkata begitu sebenarnya karena ia iri dan kesal karena ketika Tina membangun rumah tidak membeli bahan-bahan darinya.

Pak Hamid baru saja seminggu membangun rumahnya. Awalnya dia membayar kontan kepada haji Asfal. Tetapi untuk semen dan batu yang kurang dan ia pesan selanjutnya belum ia bayar karena barang tersebut belum diterima olehnya.

“Ibu Mita. Ari rek ngaragrag imah teh kudu diperhitungkeun heula. Sameter teh sakibik hargana sajutaeun. Yeuh di etang sabara meter eun. Terus kudu puguh oge pembayaran ka urangna. Mun rek dianjuk saminggueun teh sakibik na dalapan ratus rebu, mun rek dianjuk sabulaneun sakibikna salapan ratus ribueun. Tah mun pesan dua kibik sabulaneun jadi sajuta dalapan ratus rebu.”6, Kata Haji Asfal.

“Mun kontan sabara pak Haji?” 7 Tanya ibu Mita istri pak Hamid.

“Nya pun kontan dalapan ratus rebu oge sarua.” 8  Jawabnya kemudian.

Ibu Mita pun menangis dan mengadu kepada salah satu anaknya, Tina. Padahal dia sangat butuh sekali dengan barang kekurangan tersebut. Pak Hamid yang mendengar cerita dari bu Mita, istrinya hanya kecewa dan marah. Tetapi ia tak bisa berbuat banyak.

“A***ing si Asfal. Haji mengeung. Hayu mah urang lunasan weh. Geus dilunasan urang penta barang-barangna.”9 Kata Tina dengan berapi api.

“Geus weh atuh , si Asfal teh jualan duit weh ari kitu carana. Bet ngarentenkeun kitu. Go***og!” 10  Ujar Hari anak lelaki pak Hamid.
Padahal pak Hamid sudah membeli barang sebanyak tujuh juta rupiah. Sedangkan ia hanya beutang sebesar satu juta delapan ratus rupiah dan belum dibayar saja marahnya bukan main dengan menghina-hina pula. Padahal barang yang dipesannya belum ia terima.

“Tingalikeun weh mah. Mun manehna ngahina mamah deui ku urang dilabrak. Kudu dilawanan si A***ing Asfal teh. Urangna tong cicing wae. Tuman!” 11 Kata Tina.

Mereka pun pergi ke haji Asfal untuk melunasi pembayaran. Untung saja di tokonya, haji Asfal tidak menghina dan merendahkan ibu Mita lagi. Padahal Tina sudah siap meledakkan emosi amarahnya lagi jika Haji Asfal ber ulah lagi terhadap mamahnya.

“Mah, ngke mah urang meuli bahan-bahanna ti haji Endang jeung haji Udin weh. Teu sudi aing meuli ka haji mengeung eta deui.”12 Kata Herla.

Setelah diluansi, barang-barang  yang tertunda pun datang dan dikirimkan ke rumah pak Hamid oleh anak buah Haji Asfal.

“Teh, eta kai na tos dongkap. Bade dicandak?”13 tanya Eman, anak buah haji Asfal.

“Moal! Sudi teuing aing mah . Aing mah da ngarasa jelema teu boga bisi teu kabayar. Bejakeun tah ka dunungan maneh, urap weh kai na.”14 Kata Tina.

Tina dan anak-anak pak Hamid yang lainnya pun ikut memarahi dan meluapkan kekesalan atas perlakuan haji Asfal kepada anak buahnya.

“Teh, naha bet abdi nu di carekan?”15, tanya Eman.

“Nya da naha atuh maneh bet jadi anak buahnya si haji mengeung. Bejakeun tah ka dunungan maneh. Moal dibeulian deui. Bisi teu kabayar. Dunungan maneh geus ngahina indung urang. Mun ngahina indung urang sama wae jeung ngahina urang.”16 Jawab Alya, anak pak Hamid.

“Emang ngomong naon kitu dunungan abdi teh?” 17 Tanya Eman lagi.

“Aah. Tanya weh ka dunungan maneh s**ah” 18 timpal Tina.

“ooh, maklum lah teh. Da dunungan abdi mah kieu”19 ujar Eman sambil menempelkan telunjuk kanannya dan memiringkan sedikit di dahinya.

“Oooh, sinting! Baelah mun sinting mah!”20 kata Tina.

Pak Hamid dan keluarganya terlanjur sakit hati dengan perbuatan dan ucapan haji Asfal. Seumur hidup mereka gak akan bisa melupakan dan memaafkan haji Asfal. Mereka pun berdoa agar haji Asfal mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya.

Akhirnya selama tiga bulan perbaikan, rumah pak Hamid pun selesai. Dia membeli kekurangan bahan-bahan material di tempat lain dengan harga yang lebih murah dan kualitasnya yang baik serta pelayanan yang memuaskan.

**
Bersamaan dengan itu usaha haji Asfal pun menjadi lesu. Dia terlilit banyak utang dan menjadi bangkrut hingga yang tersisa hanya rumah dan pakaian yang melekat pada dirinya dan istrinya.

Anak-anaknya pun tidak ada yang peduli dan membantu mereka. Mereka merasa kesuksesan yang didapatnya adalah hasil dari kerja keras dari mereka sendiri dan mereka merasa  pemberian  harta a berupa toko, tanah dan sawah yang didapat dari orang tuanya adalah hadiah yang tak harus dibayar apalagi dibalas.
Footnote terjemahannya :

1: “Pak haji, kenapa gak cari madu (istri kedua)? Kan pak haji udah sukses. Kan biasanya yang sudah pada maju teh istrinya suka lebih dari satu.”

2 : “Ah, saya mah gak akan. Saya kasihan sama istri saya, inget ke pengorbanan istri dari masa-masa susah dengan dirinya bareng-bareng, merintis usaha sampai maju seperti ini.’”

3 :“Tina, itu kerudung ko panjang-panjang amat. Kaya istri teroris.”

4 : “Yeuh, pak haji. Bukannya pak haji pernah ke haji? Tapi kenapa omongannya enggak bisa dijaga? Saya aja belum pernah nginjak (pergi ke) Mekah”

5 : “Ya, itu kerudung ko panjang-panjang amat. Kaya istri teroris”

6 : “Ibu Mita, Kalau mau memperbaiki rumah teh harus diperhitungkan dulu. Satu meter teh satu kubik harganya satu jutaan. Nih diitung dulu berapa meter. Terus harus jeals juga pembayaran ke saya nya. Kalau mau diutang satu minggu teh satu kubiknya delapan ratus ribu, kalo mau diutang sebulan satu kubiknya sembilan ratus ribu. Nah kalo pesan dua kubik satu bulan jadi sejuta delapan ratus ribu.

7: : “ Kalo kontan berapa pak haji?”

8 :” Ya, kalo kontan delapan ratus ribu juga. Sama.”

9 : “A***ing si Asfal. Haji sinting. Ayo Mah kita lunasin ajah. Udah dilunasin kita minta barang-barangnya.”

10 : “Udah aja atuh, si Asfal teh jualan duit aja kalo gitu caranya. Malah Ngerenten begitu. Go***og!”

11: “Liatin aja Mah. Kalo dia mengina mamah lagi. Sama saya dilabrak. Harus di lawanan si A***ing Asfal teh. Kitanya jangan diem aja. Kebiasaan!”

12: “Mah, Nanti mah kita beli bahan-bahannya dari haji Endang dan Haji Udin aja. Gak sudi saya beli ke haji sinting itu lagi.”

13 :“Teh, Itu kayu nya sudah datang. Mau diambil?”

14 : “Gak akan. Gak sudi saya mah. Saya mah da ngerasa orang gak punya takut gak kebayar. Bilangin tuh ke majikan kamu, Urap aja kayu nya.”

15 :” Teh, kenapa malah saya yang dimarahin?”

16: “ Iya da kenapa atuh kamu malah jadi anak buahnya si haji sinting. Bilangin tuh ke majikan kamu. Nggak akan dibeli lagi. Takut gak kebayar. Majikan kamu sudah menghina ibu saya. Kalo ngehina ibu saya sama aja dengan menghina saya.”

17 : Emang ngomong apa gitu majikan saya, teh?”

18 :“Ah, tanya aja ke majikan kamu s**ah”

19 : “Ooh, maklum lah teh. Da majikan saya mah begini”
“Oooh, sinting! Baelah mun sinting mah!”20 kata Tina.

20 : “Ooh, sinting! Biarinlah kalau sinting mah”

Iklan

One comment on “Haji Asfal

  1. aussie Porn
    Agustus 13, 2013

    What’s up to every one, since I am genuinely keen of reading this weblog’s post to be updated regularly.
    It includes good data.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juni 3, 2013 by in cerpen.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 42,724 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: