My Corner (Happy Think, Happy Life)

Gerimis

Namaku Sofi. Aku adalah anak berumur delapan tahun. Aku adalah anak tunggal dari mamah dan papah yang sangat sibuk. Papahku seorang dosen dan ibuku adalah wanita karier. Mereka adalah orang tua yang super sibuk. Sering sekali mereka keluar negeri untuk urusan pekerjaan mereka. Aku jarang sekali bertemu dengan kedua orang tuaku. Aku hanya bertemu mereka tiga hari dalam seminggu, saat weekend. Selebihnya aku sendirian dan kesepian. Aku dirumah yang megah ini  hanya bertiga saja. Seorang pengasuh, seorang pembantu rumah tangga dan seorang supir yang selalu setia mengantarku kemana-mana. Mamah dan papahku memang sangat memanjakan aku dan membelikan dan memberikan aku segalanya, tetapi tidak dengan kasih sayang. Bagiku kehadiran mereka dalam  waktu tiga hari itu hampa, hanyalah sekedar kewajiban mereka  yang  bertemu aku sebagai anaknya. Aku sering iri melihat teman-temanku yang dijemput oleh ibunya sepulang sekolah. Sedangkan aku? denagn setianya supir pribadiku menjemput.

Aku merindukan sekali kehadiran adik agar aku memiliki seorang teman. Teman yang bisa diajak bermain dan bercanda. Bukan teman yang sekarang aku miliki, pengasuhku hanyalah menuruti apa keinginanku dan ia juga “robot” mamahku.
Keinginanku untuk memiliki adik selalu ditolak mamahku,

“Sofi sayang, kamu gak perlu adik. Kan udah Mba Nah, Pak Ujang dan Bi Surti yang menemanimu. Kalau kamu punya adik nanti mereka akan tambah repot dan kamu tidak akan terperhatikan. Dan adikmu pasti hanya akan membuatmu iri. Mainan dan semua milikmu akan direbutnya”

Begitu selalu jawaban mamah setiap kali aku meminta seorang adik.

Lain halnya dengan papah,

“Sofi. Kamu gak perlu adik. Kita saja sudah cukup repot membagi waktu. Kasihan nanti mamah kecapean, dia juga tidak cukup banyak waktu membagi  perhatiannya antara pekerjaannya dan adik barumu.” Kata papah.

“Tapi pah, aku butuh adik. Bukan hanya mainan dan uang aja. Aku kesepian. Aku bosan main dengan mba Nah dan Pak Ujang. Aku ingin membantu pekerjaan dapur juag dilarang oleh bi Surti. Aku Bosan pah, pingin adik.”

“Sayang, semua ini papah dan mamah lakukan demi kebahagiaan dan masa depan kamu juga. Kamu harus mengerti kami, sayang.” Kata papah.

Eemh.. sudah malas lah aku bicara dengan mereka lagi.

Sebenarnya setahun yang lalu mamah sempat hamil, tetapi ia keguguran karena terlalu sibuk dan kecapekan dengan pekerjannya. Sehingga mamah tidak mau mengandung lagi dan memberiku seorang adik.

Papah dan mamah bukan harta kalian yang aku mau, aku ingin kasih sayang dan perhatian kalian juga aku ingin adik baru.

Sebenarnya mamah dan papah juga bila sedang ada di rumah  suka sekali mengajakku liburan ke luar kota. Tetapi seringnya mereka tak pernah lepas dari gadget  ataupun handphone. Sehingga selalu saja ada urusan penting ataupun kantor yang mengharuskan mereka melupakan kebersamaan kami. Semua itu membuatku muak.

19 Juli 2012


Hari ini tanggal 19 Juli 2012. Hari ini adalah hari Jum’at. Mamah dan papahku seminggu yang lalu berjanji akan mengajakku berlibur ke puncak besok. Karena hari Minggu adalah hari ulang tahunku. Jadi kami akan merayakan hari ulang tahunku di puncak. Aku senang sekali mendengarnya. Tetapi aku tidak terlalu berharap mamah dan papah akan full berkonsentrasi dengan hari ulang tahunku.
Ah, pasti mereka akan diganggu lagi oleh pekerjannya, pikirku.

Maka aku pun memiliki permohonan kepada mereka.

“Aku mau liburan dan merayakan ulang tahunku di puncak asalkan mamah dan papah tidak membawa handphone dan gadget kesayangan kalian. Aku ingin liburan kita kali ini berkesan tanpa di ganggu oleh siapapun.”

“Iya, mamah dan papah janji sayang. Besok kita akan pergi berlibur tanpa di ganggu oleh siapapun. Dan mamah sudah menyiapkan surat ijin ke sekolahmu hingga hari senin. Nanti pak Ujang yang akan mengantarkan suratnya hari Senin ke sekolah.” Jawab Mamah.

“Bener mah? Pah?” tanyaku.

Yes, akhirnya aku bisa menikmati liburan tanpa gangguan siapapun.

Keesokan paginya kami bertiga pun berangkat. Rumah mewah itu kini menjadi milik pembantu, pengasuh dan  supirku selama tiga hari. Kedua orangtuaku mempercayakan rumah mewahku kepada mereka dengan beribu pesan.

Yaa, selamat menikmati menjadi orang kaya Bi Surti, Mba Nah dan Pak Ujang.. Jangan rindukan aku yah., heeheh.. pikirku dalam hati.
“Non Sofi, hati- hati yah di jalan. Selamat ulang tahun yah. Ni ada kado dari Mba Nah. Tapi dibukanya nanti yah pas tanggal 21, pas tanggal ulang tahun non Sofi.” Kata Mba Nah pengasuhku.

“Sip mba Nah… Mba Nah hati-hati juga yah di rumah. Pak Ujang , Bi Surti jangan pada nakal yah di rumah” Kataku kepada mereka

“Heeehe, siap Non Sofi.” Jawab mereka berbarengan.
Kami bertiga berangkat. Mamah dan papah telah mempersiapkan perbekalan selama tiga hari disana. Pakaianku tentu saja telah dibereskan oleh Mba Nah.

Jam 00.00 menjelang tanggal 21


Mamah membangunkanku setelah seharian kami bertiga bermain bersama. Lelah dan kantuk ini telah membuaiku ke alam mimpi. Tapi suara kejutan  dan nyanyian Happy Birthday to you.. mamah dan papah telah membangunkanku. Nyala lilin dari kue ulang tahun bergambar hello kitty  yang cantik itu telah menghilangkan rasa kantukku.

Happy Birthday to you.. Happy Birthday to you..Selamat Ulang Tahun..Selamat Ulang tahun..

“Selamat ulang tahun, anakku Sofi.” Kata mamah sambil mengecup keningku.

“Selamat ulang tahun juga, Sofi. Semoga kamu jadi anak yang pintar, cantik dan sukses seperti kami.” Kata papah.

“Makasih pah, mah. Sofi senang sekalii. Baru kali ini Sofi benar-benar merasa bahagia dan bisa merayakan ulang tahun bersama kalian. Sofi mau kita terus seperti ini.” Kataku

“Pasti sayang, mamah dan papah sayang sama kamu. Kamu adalah mutiara kami.” Jawab mamah.

“Oh, iya Sofi mau hadiah apa dari papah? Maaf yah papah belum sempat membelikan hadiah buat Sofi.  Papah ingin hadiah yang spesial yang Sofi inginkan.” Kata papah.

“Yah, papah ko lupa siyh. Mamah nih udah beli hadiah buat anak kita yang cantik ini. Nih  Sofi kadonya, dibuka ya.” Kata mamah ambil menyerahkan sebuah kado

“Ah, papah.  Sofi siyh sebenarnya gak ingin hadiah apa-apa. Sofi hanya ingin kita bisa selalau bersama-sama aja. Tetapi ada satu yang Sofi inginkan. Sofi ingin Skuter pah. Sofi ingin bia jalan-jaaln keliling kompleks. Sofi bosan pah diruamh terus, ga ada teman.”

“Ok, sayang nanti papah belikan.”
Aku pun membuka kado yang mamah berikan tersebut. Ternayat hadiahnya adalah boneka hello kitty yang besar, teman aku saat tidur. Dan aku pun membuka kado yang diberikan oleh mba Nah. Hadiahnya adalah sebuah buku diary bergambar Hello Kitty. Mereka sangat tahu tokoh favoritku.

“Sudah sayang, kamu harus tidur. Besok kita akan bersenang-senang lagi. Kalo kamu nggak tidur, kamu akan ngantuk besok. Tidur yah.” Bujuk mamah.

“Okeh mah.” Jawabku.

Senangnya hatiku. Di usiaku yang kesembilan bisa merasakan moment yang manis dan indah ini. Semuanya seperti mimpi. Aku tak ingin terbangun dan tak ingin semuanya segera berakhir.

Setelah bersenang-senang selama tiga hari,Keesokannya kami pun pulang. Tak seperti biasanya mamah dan papah pergi bekerja pada hari Rabu bukan hari Senin. Mungkin mereka sengaja mengambil cuti untuk merayakan hari ulang tahunku.

Setelah sampai dirumah, selasa malam setelah jam makan malam. Mamah dan papah pun mengajakku ngobrol.

“Sofi, ada yang ingin mamah dan papah bicarakan.” Kata papah

“Ada pah? Ngobrol aja. Kayak ada urusan penting.”

“Sayang, mulai besok hingga selama tiga minggu kita tidak akan bertemu. Karena papah akan ada seminar di Belanda dan mamah ada urusan bisnis di inggris.” Kata papah.

“Lama sekali, pah. Mah.”

“Iya sayang. Maaafkan mamah dan papah yah. Kami akan menitipkan semuanya kepada pak Ujang, Mba Nah dan bi Surti. Kamu jangan nakal yah di rumah. Jadi anak yang baik dan penurut.” Kata mamahku.

“Nanti kamu juga akan papah belikan skuter yang tercanggih sesuai keinginan kamu.” Kata papah.

“Iya, pah. Mah. Sofi janji.” Kataku dengan nada dipaksakan dan bernada lemah.

Aku kembali sendiri..dan akan selalu kesepian.

Selama tiga minggu itu aku pun menurut. Tetapi kau jadi malas makan karena kangen dengan mamah dan papah.

Akhirnya mamah dan papah pun pulang. Mamah dan papah membelikan aku oleh-oleh yang banyak sekali, salah satunya skuter yang aku minta. Skuter canggih berwarna pink lengkap dengan helm dan pelindung bantalan untuk  tangan dan kakinya. Tak lupa juga pak Ujang, Mba Nah, dan bi Surti pun di belikan baju oleh Mamah dan papah. Mereka tampak bahagia dan senang sekali mendapat oleh-oleh dari Inggris dan Belanda.

Tapi ternyata Mamah dan Papah  pulang hanya untuk memberikan aku oleh-oleh saja, karena esoknya mereka harus pergi kembali ke rutinitas masing-masing, bekerja. Aku ditinggal lagi sendiri oleh orang-orang kepercayaan mereka. Aku pun hanya bisa melihat mereka dengan sedih.
**
Rabu, Jam 14.00

Keesokan harinya, setelah pulang dari sekolah aku pun bergegas ke kamar mengganti seragamku dengan pakaian mainku di rumah. Aku segera mengambil skuter baruku yang papah belikan kemarin. Aku bergegas keluar tanpa makan siang terlebih dahulu dan tanpa pengaman helm, bantalan kaki dan tangan.

“Non Sofi, makan dulu non,” Teriak mba Nah.

“Gak mau ah Mba Nah, belum lapar” teriakku.

“Tapi nanti non sakit” jawabnya lagi.

“Gak mau Mba Nah…” Teriakku lagi.

Mba Nah pun nggak bisa mengejarku.
Wuuzzzhhh…

Skuterku itu secepat kilat melesat keluar dari halaman rumah yang megah ini.

Aku kesal dengan semuanya. Aku ingin melepaskan kekeslanku pada mamah dan papah dengan berjalan-jalan keliling kompleks.

Ternyata ketika aku keluar. Aku sudah melewati kompleks rumahku dan menuju tempat yang aku tak tahu dimana ini. Gerimis hujan pun turun. Aku lapar. Aku tak tahu harus pulang kemana, aku tak tahu jalan pulang. Jalan ini nampak sama bagiku. Aku yang setiap harinya diantar jemput oleh pak Ujang kini harus nekat keluar rumah sendiri demi kekesalanku pada mamah dan papah.

Tiba-tiba ketika aku hendak berusaha mencari jalan  pulang, kepalaku pusing berkunang-kunang. Didepanku juga ada mobil yang dengan kecepatan tinggi berada di depanku.

Dan… Semuanya menjadi gelap… dan ringan…
**
Namaku Rinda. Aku berumur 22 tahun. Aku  adalah seorang mahasiswa di universitas keguruan.  Aku dari keluarga yang berkecukupan.  Aku hanya diberi modal sebuah motor oleh kedua orang tuaku untuk pergi dan pulang ke kampusku dan juga aktifitasku yang lain. Demi mengirit ongkos.

Sudah dua tahun ini aku mencari tambahan biaya kuliah dan jajanku dengan mengajar les privat. Aku kasihan dengan kedua orang tuaku. Karena usaha dagang ayahku tidak selaris dahulu dan aku punya seorang adik yang masih harus dibiayai oleh mereka. Sedangkan kakakku yang menjadi tulang punggung keluarga kami kini telah menikah dan dan kini dia hanya memberikan uang bulanan ala kadarnya kepada kedua orang tuaku, karena kini ia sudah bersuami dan mempunyai anak yang masih kecil..
Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga. Aku kasihan kepada mereka, jadi aku bertekad tak mau meminta uang lagi kepada kedua orang tuaku.

Hari ini jadwalku mengajar di rumah adik Syahida. Rumahnya berada di kompleks yang mewah di kota kami, Cempaka regency. Sebenarnya aku hanya mengajarkan matematika dan IPA saja kepada Syahida, tetapi ibunya meminta lain. Ia ingin aku mengajar semua mata pelajaran dan mengulang semua mata pelajaran di ruamh agar nilai Syahida tidak jelek.

Tak seperti biasanya hari ini Syahida belajar lebih awal. Biasanya ia pulang sekolah jam 4 sore dan belajar setelah maghrib. Tetapi karena hari ini mamahnya memintaku mengajar jam 2 siang, karena disekolahnya Syahida ada rapat guru sehingga jam 12 siang dia sudah sampai di rumah.

Hari ini semua berjalan lancar. Jam 4 sore pelajaran hari ini telah selesai.  Setelah solat dan makan sore yang diberikan oleh mamahnya, jam 5 sore pun aku segera pulang.

“Kak Rinda nanti saja pulangnya,diluar gerimis” ujar mamah Syahida.

“Iyah kak. Nanti saja. Nanti kakak kehujanan” kata Syahida.

“Ah, gak apa-apa. Ibu, Adik syahida. Mumpung gerimis. Soalnya kakak gak bawa jas hujan keburu hujannya gede.” Jawabku.

“Tapi nanti kalo keburu gede hujannya gimana kak?” tanya ibu Syahida.

“Insya Alloh gak, bu. Kan ke rumahnya juga cuman seperempat jam kok. Mudah-mudahan hujan lokal.” Kataku.

“Ohh, ya sudah.” Kata ibu Syahida.

“Yuk ah, Ibu. Adik Syahida. Kakak Pamit pulang yah. Assalamu’alaikum” kataku

“Iya kak,Wa’alaikum salam.” Jawab mereka berbarengan.

Aku pun menstarter motorku agar hidup dan bergegas pulang setelah motor ku hidup.

Memang ternyata gerimis. Aku gak bawa jas hujan. Tanggung basah biar cepat sampai rumah, pikirku.

Saat gerimis begini kompleks ini ternyata sepi. Tak ada satpam yang menjaga ataupun orang yang keluar masuk kompleks. Padahal baru jam 5 sore.

Setelah sepuluh menit berlalu danmeninggalkan rumah Syahida, setelah melalui belokan  aku pun menerobos jalan di tengah gerimis yang agak membesar di banding sebelumnya.

Setelah belokan ini jalan menuju gerbang keluarnya adalah jalan lurus.  Di tengah jalan sambil aku berkonsentrasi menjalankan motorku, tak sengaja tiba-tiba aku melihat  seorang anak perempuan kira-kira berumur delapan atau sembilan tahunan menaiki skuternya.

Aneh, kok hujan-hujan ada anak kecil naik skuter? Gak pake jas hujan lagi. Trus kok wajahnya pucat dan kosong. Dia cuek aja lagi. Gak takut hujan yah? Pikirku.

Tiba-tiba bulu kudukku pun berdiri…

Anak berskuter itupun melewatiku.

Ketika kata-kataku  hendak keluar untuk  menyapa dan menegur anak itu, entah mengapa aku ingin sekali  mengintip anak itu lewat kaca kanan spion motorku.

Dan Tiba-tiba anak perempuan berskuter itu pun menghilang…

Ia menghilang hanya dalam hitungan detik padahal  belokan blok kompleks ini masih berjarak 200 meter lagi…
**
Sofi
Aku berjalan tanpa tentu arah dan mengahrapkan jalan pulang. Skuterku ini kini terasa lebih ringan dari sebelumnya…

 

skuter 1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juni 3, 2013 by in cerpen.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 41,175 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: