My Corner (Happy Think, Happy Life)

Guruku Memberi Arti

Oleh : Ayunda Slamet

Udah cape aku pindah-pindah sekolah terus. Belum bisa beradaptasi dengan teman-teman di sekolah satu, aku sudah harus beradaptasi lagi dengan sekolah yang baru. Perasaan itu yang sering aku rasakan, kenapa aku harus pindah-pindah sekolah terus? Apakah ini terakhir kalinya aku pindah sekolah terus? Ah entahlah.
Aku pindah sekolah ke Bandung, saat aku kelas empat SD. Pertengahan sekolah, ketika akan diadakan ujian Tari Bali. Tari Bali adalah pelajaran MuLok yang ada di sekolahku di Ubud, sebelum aku pindah ke Bandung. Sebelumnya aku bersekolah di Denpasar, SDS Rajyamuna, hanya dua tahun saja.
“Besok, kita ada ujian tari Pendet. Persiapkan diri kalian ya anak-anak”, kata ibu Putu kepada anak-anak kelas empat.
Wah gawat, aku belum hapal seluruh gerakan tari Pendet, batinku dalam hati.
Setibanya aku di rumah, papah sudah mengemasi seluruh pakaianku.
“Pah, kita mau kemana? Kan kita pindahan baru dua hari lagi? Kenapa uda diberesin bajunya?”, tanyaku kepada papah.
“Engga teh, kita berangkat besok pagi. Kan mang Ony, mau nikah dengan tante Onya  besok malam di Jakarta. Mamah dan Dinda, uda nunggu di Jakarta. Dari Bandung, langsung ke Jakarta dengan saudara-saudara yang lainnnya.”, kata papahku menjelaskan.
“Oh gitu? Asyik!”, kataku kegirangan.
Berarti aku nggak ikut ujian nari dong, pikirku.
“Emang pah, berangkatnya jam berapa dari sini? Kan Icha belum pamitan dengan teman-teman dan guru-guru di sekolah?”, kataku kemudian.
“Ga apa-apa teh kita berangkat jam sepuluh, dan sebelum berangkat kita pamitan dulu ke sekolah teteh,” kata papahku.
“Iya pah,” jawabku.
Esoknya aku berangkat ke sekolah tapi tidak memakai seragam, karena aku akan segera berangkat menuju Jakarta.
“Annisa aku hanya bisa ngasih gelang,” kata Arini teman sekelasku, satu hari sebelum hari kepindahanku.
“Aku ngasih kalung,” kata Kadek.
“Aku mainan aja ya, buat kamu,” kata Komang.
Teman-teman sekelasku memberiku kenang-kenangan berupa barang. Kenang- kenang-kenangan tersebut adalah hadiah dari chiki yang harganya Rp. 25. Walaupun harganya murah, tapi hadiahnya bagus-bagus. Dan teman-teman memberikannya untukku, supaya aku mengingat mereka.
“Annisa, aku nggak bisa ngasih apa-apa selain gulungan rambutku ini. Aku ga punya hadiah, dan aku juga nggak punya uang untuk beliin kamu hadiah. Kamu mau kan Annisa nerima kenang-kenangan gulungan rambutku?,” tanya Made Ariani, teman sebangku ku yang rambutnya panjang hingga sepinggang.
“Ya ga apa-apa, Made. Ini juga sudah cukup. Aku makasih banget kamu perhatian ma aku.”, jawabku.
Tiba-tiba Wayan Gandra, mendatangi kami.
“Made Ariani, kamu ngasih apa ke Annisa?”, tanyanya dengan logat Balinya yang medok .
“Wayan, tiang sing ngelah pis. Tiang ngasih Annisa, rambut tiang saje. Dia nyak, tiang ngasih rambut tiang buat kenang-kenangan.”1, jawab Made Iriani dengan bahasa Bali yang di campur bahasa Indonesia.
“Kamu, sing ngelah pis?. Kenken ni?2. Kalo kamu sing punye ape-ape 3 ga usah ngasih aja. Mending tiang 4. Tiang bikin kamus  Bahasa Bali yang tiang bikin sendiri, supaya Annisa ga lupa ma Bahasa Bali,” kata Wayan Gandra dengan nada agak mengejek.
“Wayan, kamu nggak boleh gitu sama Made Iriani. Ga apa-apa kok, dia ngasih rambut juga ke aku. Aku juga mau nerima, yang penting dia ada kemauan. Dan Wayan makasih yah, buku kamus Bahasa Balinya. Kamu keren banget siy, hebat bikinin aku buku. Pasti aku ga akan lupa dech.”,  kataku kepada Wayan.
“Iya Annisa, sama-sama. Semoga kamu bisa senang yah di Bandung. jangan lupa ma kami disini, teman-temanmu di SDN I  UBUD.” , kata Wayan kemudian.
“Ya, pasti. Aku nggak akan lupa ma teman-teman dan guru-guru disini. Mereka  semua orangnya baik-baik ma aku. Walaupun aku orang jawa. Tapi aku kan kelahiran Bali. Makanya namaku Balinda, Bali Sunda artinya.”, kataku.
Memang orang Bali biasa menyebut orang Sunda dengan sebutan orang Jawa. Walaupun berasal dari Sunda, tapi mereka kurang mengenal suku Sunda. Yang mereka tahu sunda itu ada di Jawa, tepatnya Jawa Barat.
Sesampainya aku di sekolah. Aku melepaskan haru dan rinduku pada teman-teman. Karena setiap pulang sekolah, aku selalu rindu sekolah. Aku tak sabar segera berganti esok. Aku sangat rindu dengan teman-teman dan wali kelas, bu Komang Dewi. Walaupun sekolah berada di desa, tapi semuanya mengajarkan makna. Teman-temannya, tetangganya, lingkungannya. Bahkan bila aku malas di jemput supir ayahku, aku memilih pulang berjalan kaki dengan teman-temanku, padahal jarak dari sekolah ke rumah cukup jauh, lima kilometer. Tapi aku tidak merasa capek, karena di jalan bisa melewati bale-bale latihan para penari Bali ataupun bertemu dengan para turis bule. Dan hari ini aku harus berpisah dengan mereka semua.
“Ibu, maafin Annisa yah. Selama jadi murid kelas empat, sudah banyak berbuat salah. Ya walaupun kebersamaan kita hanya setengah perjalanan tetapi ibu akan selalu Annisa ingat. Terimakasih atas bimbingan ibu ya,” kataku kepada bu Komang Dewi.
“Iya, nak. Maafkan ibu juga. Jangan lupa belajar ! Tuntutlah cita-citamu setinggi langit! Jadilah anak yang berguna bagi nusa bangsa dan agama”, kata bu Komang Dewi, wali kelasku menasihati.
Akhirnya aku pun berpamitan kepada semuanya. Memohon maaf atas semua kesalahanku. Walaupun rasanya berat, tetapi aku harus pergi.
Semuanya begitu sangat menyedihkan.
***
“Teh, teteh belajar ngaji yah di madrasahnya bi Ririn. Tuh, di belakang rumah. Di TPA Al-fitrah sama adik Dinda,” kata mamah suatu hari.
“ Ngaji mah? Apa ngaji itu?”, tanyaku kemudian.
“Ngaji itu belajar ilmu agama. Belajar baca Qur’an, bacaan sholat dan doa-doa. Supaya teteh bisa berdoa untuk  mamah dan papah dan kebaikan kita semua di dunia juga di akhirat,” jawab mamah.
“Iya mah,” kataku.
Aku pun tiap sore sepulang sekolah ngaji di Madrasah Al-Fitroh bersama adikku, atau terkadang pergi dan pulang bertiga dengan Danang adik sepupuku.
Aku betah mengaji di tempat ini, karena guru dan teman-temannya baik semua. Apalagi ada bibiku, bi Ririn yang menjadi kepala sekolahnya. Sehingga anak-anak yang nakal di kelas tidak berani menjahili aku, adikku dan adik sepupuku. Hingga suatu hari sepulang mengaji bersama Dinda dan Danang.
“Hey, Geulis. Bade uih kamana? Maneh nyandak artos teu? Uing mintalah artos maneh?.5”  Kata seorang anak yang usianya hampir sebaya denganku.
Aku, walaupun tinggal di Bali dan bergaul dengan teman-teman di sekolah memakai bahasa Indonesia, tetapi aku mengerti sedikit-demi sedikit Bahasa Sunda. Karena kalo mamah memarahi aku selalu memakai bahasa Sunda. Awalnya siyh, bingung n pusing. Apa arti dan maksud dari kata- kata mamah tersebut. Tetapi lama-kelamaan mengerti juga. Karena sebenarnya secara tidak langsung dan tidak sadar ia mengajarkan aku bahasa Sunda dengan tidak menggurui. Memang cara yang aneh, kupikir.
“Abdi teu nyandak artos,”6 jawabku.
“Halah, sia te ngabohong. Buru artos maneh!”8, kata temannya lagi.
Wah, ternyata ini pemalakan. Malak di depan gang madrasah menuju rumah. Walaupun mereka hanya berdua, tetapi bisa aja mereka berbuat nekat. Namanya juga anak nakal.
“Lari!!!” , teriakku kepada Dinda dan Danang.
Akhirnya kami bertiga pun berlarian menuju rumah lewat pintu belakang. Untunglah pintunya tidak terkunci, jadi kami dengan mudah masuk ke dalam rumah. Dan dua anak yang mengejar kami pun harus mengakhiri usahanya. Karena kami sudah masuk ” kandang”.
Kejadian tersebut membuat kami bertiga trauma.
“Danang, ayo ngaji!” suruh mamahnya keesokan harinya.
“Danang gak mau ngaji, Ma,” jawabnya.
“Kenapa, a  Danang?”? , tanya mamahnya kemudian.
“Pokoknya gak mau,” kata Danang dengan setengah marah.
Aku dan adikku, Dinda pun mogok ngaji hari  itu juga.
“ Teteh, ade ayo ngaji! Udah jam empat sore, nanti pada kesiangan lo!”, kata mamah.
“Gak mau!” Jawab kami dengan kompak.,
“Lho, kenapa pada gak mau ngaji? Biasanya pada rajin?”, tanya mamahku.
Belum sempat kami menjawab pertanyaan mamah, bi Ntun  mamahnya Danang datang kerumah kami dengan tergopoh-gopoh.
“Teh Icha, Teh Dinda, kenapa Danang enggak mau ngaji lagi di Al-Fditroh?” tanya bibiku.
“Bi, kemarin kita bertiga di palakkin ma dua anak nakal di ujung gang madrasah. Untung ga jauh dari rumah. Nah jadi kita lari aja. Soalnya takut banget. Kita takut diapa-apain, apalagi kan kita gak ada yang bawa uang karena gak suka jajan. Untung aja kita larinya nyampe ke pintu belakang dan gak ketangkep ma mereka. Kalo ketangkep, hiiy.. ga tau dech apa jadinya,” jawabku
“Oooh,” kata mamah dan bi Ntun berbarengan.
“Trus gimana? Kalian mau ngaji gak hari ini? Kalo gak ngaji nanti gak bisa baca Qur’an dan hapalan solat loh, trus nanti gak bisa berdoa buat mamah dan papah,” kata mamahku berusaha membujuk.
“Pokoknya gak mau! Sekali ga mau tetep gak mau!,” kata Dinda adikku dengan mulut yang manyun.
“Iya, teh Icha juga gak mau! Kapok ah mah. Nanti di palakkin lagi,” kataku kemudian.
“Ya udah kalo gitu, terserah kalian aja dech. Nanti mamah yang bilang ma bi Ririn,” kata mamahku mengalah.
Akhirnya kami bertiga pun mogok mengaji selama satu tahun. Hingga suatu hari, mamah dan papah sudah menemukan tempat mengaji yang baru. Jaraknya hanya 300 meter dari rumahku. Tapi kali ini kami hanya bertiga mengajinya, karena Danang harus pindah rumah.
Aku pun diajak papah untuk melihat madrasah tempat belajarku yang baru. Namanya madrasah Al-Ikhwan. Sama dengan nama  masjid yang ada di RW ku. Memang sama, karena pengurusnya adalah satu manajemen. Tempatnya ada TK nya juga. Jadi kalo mengaji pagi, kami bisa “nonton” anak –anak TK berbaris dulu.
Aku betah dan senang dengan madrasah Al-Ikhwan. Guru-gurunya baik teman-temannya juga, dan yang pasti tidak anak yang menjahili kami ataupun meminta uang jajan. Aku dan adikku jarang jajan di madrasah. Karena mamah selalu memberi kami makanan yang cukup di rumah.
Di madrasah Al-Ikhwan ada empat tingkat. Kelas satu hingga kelas empat. Tetapi kelas satu MDA belum tentu kelas satu juga di SD nya tergantung dia masuknya kapan dan tingkat pengetahuannya seperti apa.  Bisa jadi kelas tiga SD masuk di kelas empat MDA ataupun kelas empat SD masuk kelas satu MDA. Hal itu berlaku padaku. Aku duduk di kelas satu MDA saat aku menginjak kelas lima SD, sedangkan anak-anak lainnnya paling banyak kelas dua hingga kelas empat SD. Tetapi alhamdulillah aku sudah iqro enam dan sebentar lagi akan masuk ke alqur’an.
Ternyata selain aku yang berada di kelas satu MDA dengan badan yang “bongsor” ada juga Titin dan Atikah. Karena Titin seumuran denganku dan Atikah kelas enam SD. Sudah peraturan disini kalo anak yang baru masuk harus masuk kelas satu MDA dulu.
Guru-guru disana melihat kebutuhan kami dan badan kami yang “bongsor” jika dibandingkan dengan teman-teman lain yang berada di kelas yang sama. Akhirnya setiap Jum’at dan Sabtu jam pelajaran terakhir, aku, Titin dan Atikah diminta bu Warni wali kelasku utunk masuk ke kelas tiga MDA. Kami masuk pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Nama gurunya adalah a’Dadang.
Kami memanggil a’Dadang karena usianya yang masih sangat muda. Hanya beda sepuluh tahun lebih tua dariku. Ia seorang mahasiswa tingkat akhir IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Mungkin karena sudah tidak ada mata kuliah dia mengisi waktunya dengan mengajar di tempat ini.
Ternyata a’ Dadang itu masih saudaraku juga, tetapi sepupu jauh. Kakak iparnya adalah adik sepupunya mamahku. Entahlah aku harus menyebut apa kepada a’Dadang. Yang pasti dia adalah guru mengajiku sekarang.
Selama setahun kami bertiga belajar tiap Jum’at dan  Sabtu di kelasnya a’ Dadang. Hingga kami bertiga bisa berkenalan dengan anak-anak kelas tiga, kakak kelas kami.
Hal ini membuat keuntungan bagi kami. Kami bertiga bisa loncat kelas. Harusnya aku, Titin dan Atikah melanjutkan ke kelas dua, tetapi kami malah langsung loncat ke kelas tiga. Entah apa pertimbangan para guru tersebut.
Pertemuan aku dan a’ Dadang membuat perubahaan pada diriku. Bagiku ia guru yang hebat. Seorang mahasiwa yang sangat aktif dan berpotensi. Belum pernah aku diajar oleh seorang guru yang sangat luar biasa. Sebagai guru mengaji wawasannya sangat luas. Orangnya juga supel sehingga banyak murid yang menyukainya.
Aku dulu seorang yang bicaranya gagap. Entah mengapa sebabnya. Sejak aku diasuh kembali oleh kedua orangtuaku selepas pengasuhan ua ku bicaraku menjadi gagap. Ingin rasanya mengeluarkan kata –kata yang banyak tetapi yang terucap di mulutku hanya lah beberapa kata bahkan kata-kata yang terbata-bata. Mungkin karena faktor psikologis. Aku di Bali di didik dengan bentakan oleh mamahku, bila mamahku sedang memarahiku ataupun kadang kesal tanpa alasan yang jelas. Belum lagi ditambah guru sekolahku sekarang yang galak dan judes. Ini membuat keadaanku tak nyaman.

a dadang teacherA’ Dadang telah mengubah segalanya. Aku sungguh tak percaya diri jika ditunjuk atau menjawab pertanyaan.
Kupikir a’ Dadang tahu akan kelemahanku. Aku dan beberapa teman yang memang terlihat pemalu sering diajaknya ikut lomba menyanyi nasyid. Lomba menyanyi antar mesjid bahkan mesjid sebatununggal., walaupun suara kami tidak begitu bagus, tetapi kami sering “digenjot” dengan diikutkan ke berbagai kegiatan  untuk melatih mental kami.
Tak hanya itu, a’Dadang tahu akan potensi ku yang menyukai puisi.
“ Icha, ada Lomba Baca Puisi di masjid Darul Hidayah. Icha ikutan ya?, tanya A dadang suatu hari.
“t..t..ta..pi.. a, iicha..nng..ga.. Pee..de..,” kataku.
Tuh kan bicara gagapku kambuh lagi. Ngomong aja uda susah, apalagi ditambah ini yang harus ikut lomba baca puisi. Wah bisa-bisa kacau balau niyh. Malah bikin a’Dadang malu aja.
“Bisa, icha pasti Bisa.”
Iya. Aku pasti Bisa. A’Dadang bilang Icha bisa. Pasti aku Bisa. Soalnya Aku dendam niyh. Gara-gara pertama kali ikut lomba puisi di masjid Nurul Qomar. Minta diajarin A Fani, Ketua Remaja Masjid Al-Ikhwan, eh malah di maki-maki.
“Masa Baca Puisi aja ga bisa?,” kata a Fany suatu hari.
“I..ya.. A’, m..maa..ka..nya minn..ta be..lajar juga.. kare..na sa..ya.. belum mmmm..mak..sii..mal,” kataku dengan suara gagap.
“Ya orang gagap mau baca puisi, kacau dong.”kata A Fany.
Aku pun pergi. Sebel minta diajarin malah dikata-katain. Akhirnya aku pun beralih ke remaja masjid yang lain , A’Ary. Anak sastra Inggris UPI yang jago banget baca puisinya. Setelah diajarinya, aku pun bisa mengikuti lomba puisi di Masjid Nurul Qomar, walaupun tidak menang.
A’Dadang selalu memberiku semangat. Ayo harus semangat, harus kritis. Dia memberikan peluang kepada murid-muridnya untuk maju, tidak pemalu dan menjadi orang hebat.
Akhirnya aku pun ikut lomba puisi tersebut walau hanya meraih juara ketiga dan tidak mendapat hadiah, karena yang dipilih hanya sampai juara kedua saja.
Tak hanya itu saja. Ketika ada acara pesantren kilat yang diadakan a’Dadang dan teman-temannya aku selalu ikut serta menjadi peserta. Aku pun bahkan berani saat ditunjuk menjadi ketua kelompok di kelompokku. Mereka pasti tidak menyangka aku adalah anak yang pemalu dan biacranya gagap. Karena di mata teman-teman kelompokku aku adalah teman yang sempurna, karena bila ada games kelompok kami selalu menang.
Yups, bicaraku sudah tidak gagap. Proses ini berlangsung selama setahun setelah aku dekat dengan a’ Dadang. Dengan bimbingannya yang tulus, aku berani tampil di muka umum. Aku pun tambah rajin mengajinya sekarang. bisa saja saat libur sekolah, aku ikut dua kegiatan pesantren kilat. Ataupun dua waktu mengaji, pagi dan sore.
Aku jadi berani ikut berbagai lomba. Aku bahkan kenal dengan teman-teman a Dadang.
“Nama Saya Annisa, saya mengaji di madrasah Al-Ikhwan. Saya Muridnya A Dadang Setia.”, ucapku dengan bangga jika ada perkenalan peserta pesantren kilat. Aku memang selalu banga dengan guruku.
Sejak itu aku dikenal sebagai murid kesayangannya a’Dadang, karena kemana-maan selalau ada aku. Dimana ada aku disitu ada a’Dadang. Semuanya itu tak lain hanyalah karena aku ingin menuntut ilmu pada siapa saja dan a’Dadang adalah orang yang membuatku nyaman
A’Dadang juga mengubah nilai-nilai sekolahku. Semangat mengajiku yang tinggi berpengaruh pada nilai-nilai sekolahku. Hal yang mustahil bagiku aku bisa rangking 10 besar. Tetapi berkat a’Dadang, saat aku kelas dua SMP, aku bahkan bisa berada di rangking dua. Hal ini tentunya membuat mamah dan papahku senang akan prestasi belajarku.
Walaupun aku sudah tidak belajar lagi dengan a’Dadang, dan a’Dadang sudah tidak lagi mengajar di Madrasah Al-Ikhwan, tetapi SPIRIT nya tetap ada di jiwaku.
Pada saat kelas tiga SMP, aku mengikuti kegiatan pembinaan di SALMAN ITB. Aku jadi anak KARISMA. Hal itu kulakukan hanya karena aku ingin lebih menambah ruhiyahku. Dan aku berjanji jika aku sudah dewasa nanti jika aku menjadi guru, aku akan terus menularkan positifnya semangat a’Dadang pada anak didikku. A’ Dadang telah merubah segalanya, dan ia adalah guru yang memberi arti bagi hidupku. Karena ia lah aku sekarang.

(Cerita ini kau dedikasikan untuk Guru mengajiku, Dadang Setia)

nb: a Dadang, punten ya..fotonya saya ambil dari google… heheeh, 🙂

***

Istilah-istilah asing
1 Wayan Aku enggak punay uang. Saya kasih Annisa, rambut saya saja. Dia mau kok, saya kasih rambut buat kenang-kenangan.
2 Kamu nggak punya uang? Gimana ini?
3 Gak apa-apa
4 Saya
5 Hey, cantik. Mau pulang kemana? Kamu bawa uang gak? Saya minta dong uang kamu.
6 Saya gak bawa uang
7 Halah, Kamu ngebohong. Cepetan uang kamu!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 13, 2013 by in flash story.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 42,724 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: