My Corner (Happy Think, Happy Life)

Trouble is friend

Mentari pagi menghangatkan bumi dan membawa kebaikan kepada seluruh penduduknya. Membuat semua orang begitu antusias mrenyambut pagi ini dengan ceria, tidak terkecuali dengan Sita. Dia begitu menyenangi pagi, karena dia yakin akan ada selalu hal baru dan pelajaran yang bisa di ambil setiap harinya. Dia penuh semangat pergi ke Sekolahnya, SMA Indonesia Merdeka.
Setibanya di kelas, kelas masih terlihat sepi dan ternyata Sita menemukan temannya sedang duduk di pojok bangku depan. Sita melihat temannya, Khumsa terduduk dengan bahu berguncang dan wajah yang ditutupi oleh kedua tangannya.
“Khumsa kamu kenapa menangis? Apa yang telah terjadi”
Khumsa tampak tidak perduli dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Sita. Dia masih sedih.
Tak lama kemudian datanglah sahabat-sahabatnya Sita. Aisyah, Wulan, Via. Mereka bertanya kepada Sita apa yang telah terjadi dengan Khumsa, tapi Sita hanya mengangkat kedua bahunya karena ia pun tak tahu apa yang terjadi.
Kelas semakin ramai dan memasuki jam pelajaran, tapi guru yang di tunggu tidak juga datang. ternyata guru mereka sakit.
Semua teman-teman di kelas yang melihat Khumsa masih murung segera menghibur dirinya. Tapi Khumsa tetap tidak bergeming.
Sudah tiga hari Khumsa tidak masuk sekolah. Akhirnya Sita mengajak ketiga sahabatnya menengok Khumsa.
“Teman-teman kenapa ya Khumsa tidak masuk sekolah, apa dia sakit?”tanya Sita kepada lima sahabatnya.
“Aku gak tahu.” Jawab Aisyah.
“Apa mungkin dia lagi punya masalah ya?” Wulan menimpali.
Semuanya mengangkat bahu.
“Gimana kalo sepulang sekolah kita nengok Khumsa. Mungkin memang dia lagi punya masalah seperti yang di bilang Wulan” Ajak Sita.
Mereka mengangguk tanda setuju.
Akhirnya sepulang sekolah mereka menengok Khumsa ke rumahnya. Ternyata Khumsa sedang ada di rumah,wajahnya masih murung. Rumahnya tampak sepi, tidak ada siapa-siapa lagi selain Khumsa di rumah itu.
Khumsa kaget dengan kedatangan Sita cs. Setelah mempersilahkan mereka masuk, ia pun membawakan mereka minum dan beberapa cemilan untuk di suguhkan.
“Khumsa, apa kabar? Kenapa kamu nggak masuk sekolah?kamu sakit?” tanya Sita.
“Aku gak sakit, Sita. Aku hanya terlalu bersedih.”
“Kenapa Khumsa, kamu sedih? Tanya Wulan.
“Aku sedih karena ayah dan ibu sebulan ini bertengkar terus, mungkin gara-gara ayahku yang kena PHK di tempat kerjanya sebulan lalu. Sedangkan ibu hanya berjualan gorengan. Dan aku masih memiliki dua adik di SD, SPP kami menunggak satu bulan. Aku sedih.Tapi aku pun sebagai anak tertua bingung, ga tau harus ngapain untuk bantu mereka. Aku ga ingin mereka bertengkar terus. Aku berpikir, apa aku saja yang mengalah untuk kedua adikku. Aku iklash aku tidak sekolah asal kedua adikku bisa sekolah dan kedua orang tuaku tidak bertengkar lagi.”
Tampak air meleleh dari kedua sudut matanya.
“Astaghfirullah Khumsa. Maafkan, aku turut prihatin dengan keadanmu.” Kata Via
“Trus, ayah ibu dan kedua adikmu di mana sekarang?” tanya Sita.
“Ayahku jadi pusing karena bertengkar dengan ibu terus. Ia sedang istirahat. Ibu masih jualan. Kedua adikku masih di sekolah.”
“Baiklah kalo gitu Khumsa, aku punya ide. Aku akan coba membantu. Untuk biaya SPP kalian aku akan coba mengumpulkan uang dari teman-teman di kelas, kita patungan. Trus untuk ayahmu aku akan bilang pada papa mungkin saja ada lowongan pekerjaan di perusahaannya papa.”
“Khumsa, ayahku kan punya usaha membuat roti, kalo kamu mau aku bisa bilang ama ayahku supaya kamu juga ikut membantu menjualkan rotinya di kelas.” Kata Via
“Ayahku juga , dia jualan susu kemasan. Kalo kamu mau aku bisa bilang ayahku suapaya kamu bisa jualan juga. Bagaimana?” kata Aisyah.
“Iya aku mau.Selain aku bisa membantu kedua orang tuaku aku juga kan bisa dapat tambahan uang jajan dari berjualan. Terimakasih teman-teman sudah membantuku.”Kata Khumsa.
Esoknya, karena hari minggu Aisyah dan Via meminta Khumsa untuk datang ke rumahnya mengambil barang-barang dagangan yang dimaksud. Dan hari Seninnya, ayahnya Khumsa memasukkan surat lamaran ke perusahaan papa-nya Sita.
Alhamdulillah semua berjalan lancar,karena ayahnya Khumsa orang yang jujur. Akhirya setelah tiga bulan training ia di angkat menjadi staff bagian di perusahaan papanya Sita dan Khumsa  pun semakin laku jualannya. Hal itu tidak aneh karena Khumsa anak yang ulet, kreatif dan jujur. Prestasi sekolahnya pun meningkat dari sebelumnya.Keluarga Khumsa sudah adem ayem lagi seperti biasa. Mereka kini bahagia karena masalah sudah terselesaikan dan Khumsa menjadi gadis yang dewasa.
Suatu hari, Khumsa mengajak Sita cs makan di Kantin.
“Teman-teman kita makann di kantin yuk. Aku yang bayar deh” kata Khumsa.
“Asyik di bayarin sama juragan roti dan susu nih” kata via.
“Iyah alhamdulillah, ini juga kan berkat kalian. Aku bisa keluar dari masalah ini dan masalah ternyata membuatku dan kalian menjadi sahabat. Kalian dan teman-teman di kelas memang baik sekali padaku. Terutama Sita, Via, dan Aisyha. Terimakasih ya. Aku udah gak mau lagi meminta uang pada kedua orang tuaku. Ternyata mencari uang itu sulit ya. Aku pun jadi lebih dewasa karena masalah.” Kata Khumsa.
Setelah dari kantin Sita pun menggratiskan barang dagangannya kepada teman sekelasnya sebagai wujud terimakasihnya karena mereka telah membantu. Semuanya menyerbu kecuali Sita cs karena mereka sudah kenyang di traktir oleh Khumsa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 6, 2013 by in cerpen.

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 41,175 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: