My Corner (Happy Think, Happy Life)

Hadiah Spesial di Hari Yang Spesial

kadoAku ingat sekali dengan kejadian ini. Sebenarnya aku hanya ingin mengungkapkan fakta dan realitas yang ada, hanya ingin meluruskan apa yang teman-teman lihat. Hanya sebuah pengungkapan rasa maafku pada salah seorang teman sekelasku, sekaligus sebagai sahabat, Sri Purwanti.

Walaupun [mungkin] pada saat itu, aku menjadi pembicaraan teman-teman di kelas maupun guru-guru lainnya. Yups! Kelas unggulan adalah label yang teramat berat  bagiku. Label yang membuat teman-temanku di kelas lain merasa rendah diri bahkan iri kepadaku.

***

–          Sabtu, 21 Juli 2001 –

Aku ingat sekali hari itu. Adalah hari Sabtu. Hari dimana kita memakai pakaian seragam kebanggan kita, batik biru.

Hari itu seusai jam istirahat berganti dengan mata pelajaran Matematika. Kelas kita memang kosong beberapa lamanya. Guru yang dinanti belum juga datang.

Sebenarnya saat itu juga aku ingin sekali ke belakang. Aku ingin sekali buang hajat kecilku. Sungguh aku kebelet pipis.

“Tami, aku mau pipis. Kamu mau pipis juga ga?” tanyaku pada teman sebangku-ku.

“Iya, sama. Annisa. Aku juga. Tapi ini kan uda jam pelajaran. Kita baru aja selesai istirahat. Aku takut ketahuan pak Cecep nanti. Aku takut dimarahi.”

“Ah biarin ajalah. Kan kita emang beneran mau pipis. Masa mau di tahan siyh?”

Kemudian sambil menunggu guru matematika datang. Datanglah beberapa orang pemuda berpakaina rapih dan berdasi ke dalam kelas.

Siapa mereka? Tanyaku dalam hati.

Ternyata mereka adalah kakak yang menawarkan program bimbingan belajar dari slaah satu lembaga yang masih baru pada saat itu.  Wajar siyh, mereka datang ke kelas kita. Karena kita pada saat itu sudah duduk d tahun terakhir di sekolah menengah pertama walaupun baru semester awal.

Duuh, makin kebelet aja nih, kataku lagi di dalam hati.

Waktu yang  mereka  habiskan untuk persentasi mungkin hanya setengah jam saja, tetapi bagiku serasa sangat panjang. Sangat lama karena aku ingin segera beranjak dan menuju toilet.

Akhirnya.. kakak tersebut keluar dari kelas.

“Tami, ayo kita pergi ke WC, sekarang. “ ajakku lagi .

“Enggak ah. Kamu aja.” Tolaknya.

Lho ada apa dengan Tami? Bukannay tadi dia mau pipis kenapa malah ga jadi?

Gimana juga urusannya kalau aku harus ke WC sendirian? Aku takut kalau ada yang mengintip, takut kalau pintunya tiba-tiba terbuka sendiri karena kuncinya rusak.

Kemudian aku pun mengajak Sri untuk menemaniku ke WC. Sri adalah sahabatku juga d kelas. Dia duduk di bangku belakangku.

Aku dan Sr i pun keluar dari kelas. Dari kejauhan kulihat pak Cecep sedang memarahi anak-anak kelas 3A karena mereka ribut  sekali. Kalian pasti tau kan kalau ribut itu artinya apa? Artinya mereka sedang ada pelajaran kosong. Mungkin gurunya tidak datang atau terlambat datang. Dan jam pelajaran kosong adalah jam yang paling di sukai para murid, karena dengan begitu mereka bisa bebas “berkreasi”. Pak Cecep pun mengunci pintu kelas 3A dari luar kelas dengan menggunakan sebuah lidi. Bagai mengunci anak-anak ayam di kandangnya karena takut kabur.

Setelah itu kulihat mata pak Cecep memerah. Merah yang menyala karea penuh kemarahan di dadanya. Kemudian kami pun berpapasan dengannya.

Sebelum berpapasan, Sri berkata kepadaku,

“Annisa, gimana niyh ada pak Cecep?”

“ Ya udah kita jalannya masing-masing aja biar ga ketahuan bareng.”

Walaupun kami sudah berjalan masing-masing, tetap saja pak Cecep memanggil kami berdua. Mungkin dia melihat ketika kami keluar dari kelas.

“Kalian berdua sini! Ngapain kalian berdua ada di luar kelas saat jam pelajaran?” tanyanya.

“Saya mau ke air pak. Mau pipis. Teman saya juga sama.” Jawabku seadanya.

“Bohong kamu! Dari semenjak kelas dua bapak perhatikan kamu selalu berada di luar kelas dengan teman-teman kamu yang lainnya saat jam pelajaran. Kamu mau pergi ke kantin kan!” Bentaknya.

“Enggak pak. Kita beneran mau ke air. Maaf pak saya udah kebelet.” Kataku.

Langsung saja kami tinggalkan dia sendiri dengan amarahnya. Hatiku kesal dan panas, tidak terima dengan perlakuannya itu.

Seenaknya saja dia menuduh. Masa ga liat aku yang berkerudung? Masa aku membohongi dia? Tidak bisakah dia melihatnya dari air muka dan gerakan tubuhku yang sangat menahan rasa kebelet ini? Pantang aku berbohong. Orang tua dan guru mengajiku selalu mengajarkan aku untuk selalu menjadi anak yang jujur.

Memang benar dulu aku sering pergi ke kantin bila jam pelajaran kosong. Itu pun bersama teman-teman, mereka yang mengajakku bukan aku. Dan kami sering kali membawa LKS ataupun buku paket untuk di kerjakan ataupun di baca dan di hapalkan karena di kelas teman-teman yang lain memilih untuk megobrl ataupun berisik. Apa salahnya mencoba suasana baru?

***

Huuft, leganya udah pipis.

Lalu aku dan Sri bergegas kembali ke dalam kelas.

Aku dan Sri pun kaget. Ternyata pak Cecep sedang berada di luar kelas. Ia berdiri di depan pintu kelas kami. Entah apa yang sudah di lakukannya. Mungkin dia memarahi teman-teman yang ada di dalam kelas atau berkata yang bukan-bukan tentang kami.

Yang aku ingat ketika kami berdua akan masuk ke dalam kelas, Sri yang duluan masuk ke dalam kelas. Telunjuknya sudah berada di kening Sri dan di doronglah kening Sri tersebut hingga bergerak ke belakang. Sambil berkata,

“Belegug Siah!”

Aku sangat kage. Setelah kami berdua duduk pun dia masih memarahi kami.

“Kasih tahu tuh teman-teman kalian!” bentaknya. Lalu dia pun pergi.

Saat itu aku merasa malu dan sangat bersalah pada Sri. Karena aku dia jadi kena marah.

Matanya memerah dan berair, kemudian aku pun meminta maaf kepadanya.

Hingga guru Matematika pun datang dan ia telah mengetahui apa yang erjadi sebelumnya. Dia hanya memberi wejangan di kelas.

Tapi ketika itu hatiku sedang teramat mendung dengan penyesalan yang amat dalam. Sebenarnya pak Cecep tak perlu bersikap demikian. Bisa saja kan dia bertanya dengan baik-baik? Walaupun pak Cecep adalah pembina Osis yang harus menjaga ketertiban sekolah tapi tidak selayaknya berbuat demikian kepada kami. Kau merasa tidak bersalah. Bagaimana kalau aku kemudian jadi sakit ginjal hanya gara-gara harus menahan pipis lebih lama lagi?

Emh.. apaa-apaan ini? Kita bukan anak yang sempurna. Aku benar-benar mendapatkan hadiah yang spesial di hari ultahku. Maka setelah kejadian itu aku pun tidak sangat bergairah berada di kelas ini bahkan dari awal semester.

-Annisa Y.B-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 3, 2013 by in flash story.

Navigasi

Award Kontest Blog

Warung Blogger

Kumpulan Emak-Emak Blogger

Komunitas Bunda Terampil Menulis

Visitors Flag

Flag Counter

Live Traffic Feed

Yang berkunjung Ke Blog Saya

  • 42,724 hits

PageRank My Blog

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: